Bab 98

Angin malam menusuk dingin, menerbangkan poni Sinta sampai menempel di pipinya yang beku dan basah oleh keringat.

“Jangan nangis, Sin. Pelan-pelan aja. Kamu kenapa?” Di seberang sana, suara Steven terdengar jelas—tenang, stabil.

Cuma satu kalimat itu, air matanya langsung meluncur tanpa suara, men...

Masuk dan lanjutkan membaca