Bab 1 Malam yang Takdir

Di dalam presidential suite yang mewah, Alya terbaring di bawah kungkungan seorang pria bertubuh tinggi dan tegap. Napas mereka memburu, saling membelit dalam pelukan erat. Sensasi asing yang menjalar di sekujur tubuhnya membuat kepala Alya terasa ringan, seolah melayang tanpa arah.

Alya berjuang membuka mata, setengah mati ingin melihat wajah pria itu, tetapi setiap gelombang kenikmatan yang menghantamnya justru menariknya semakin dalam ke dasar gairah.

Berjam-jam kemudian, dengan tenaga yang terkuras habis, Alya terkulai lemas di atas ranjang berukuran raksasa itu. Dalam keadaan setengah sadar, ia merasakan sesuatu yang dingin menyentuh lehernya—sebuah liontin rubi yang dikalungkan pria itu dengan hati-hati sebelum akhirnya menghilang.

Ia tertidur pulas hingga siang keesokan harinya, seluruh tubuhnya terasa remuk redam. Ketika akhirnya terbangun, ia mendapati kakak tirinya, Manda, sudah berdiri di samping ranjang sambil bersedekap, menatapnya dengan sorot mata penuh jijik.

Alya buru-buru menarik selimut untuk menutupi tubuhnya, berusaha menyembunyikan jejak-jejak kemerahan yang membekas di kulitnya. Saat tatapan ketakutannya bertemu dengan mata Manda, sang kakak tiri malah membuang muka. Manda meraih tas mewahnya dari meja nakas, mengeluarkan selembar cek, lalu melemparkannya begitu saja ke atas kasur di sebelah Alya.

"Tugas lo di sini udah selesai. Ini dua belas miliar, ambil dan angkat kaki dari Jakarta hari ini juga," ucap Manda dingin.

"Soal apa yang terjadi semalam, mending lo tutup mulut dan anggap aja nggak pernah terjadi," lanjutnya. "Kalau nggak, gue bisa bikin lo hilang tanpa jejak, dan semua peninggalan nyokap lo bakal gue hancurin sampai tak bersisa. Alya, mending lo nurut aja."

Setelah melontarkan ancaman itu, Manda menatap Alya dengan sebelah mata sebelum berbalik pergi. Saat ia membalikkan badan, matanya tanpa sengaja menangkap bercak darah merah di atas seprai putih tersebut.

Kalau bukan karena Alya masih perawan, mana sudi Manda mengeluarkan uang dua belas miliar hanya untuk menyuruh gadis itu tidur dengan pria tersebut?

Untungnya, ia sudah membius Alya tadi malam, jadi gadis itu pasti tidak akan mengenali identitas si pria. Alya tidak akan pernah tahu bahwa pria yang bersamanya semalam adalah Haris Wiryawan—konglomerat penguasa bisnis yang namanya saja sanggup membuat seluruh Jakarta gemetar.

Sepeninggal Manda, Alya hanya duduk terpaku di atas ranjang, menatap kosong pada selembar cek di tangannya.

Inilah harga untuk harga diri dan keperawanannya—dua belas miliar Rupiah. Nominal yang lebih dari cukup untuk pergi ke luar negeri dan melanjutkan pendidikan kedokterannya.

Seandainya ibunya tidak meninggal secepat itu, seandainya ayahnya tidak menikah dengan Tante Rini, mana mungkin ia jatuh ke titik serendah ini? Sampai harus menjual tubuhnya demi membiayai pendidikannya sendiri?

Alya tersenyum getir. Namun, ada sedikit kelegaan pahit di balik semua ini—setidaknya, ia tidak lagi berutang budi apa pun pada Keluarga Wibowo.

Setelah menyimpan cek itu baik-baik, ia mengenakan kembali pakaiannya dari semalam yang sudah tampak kusut.

Dua hari kemudian, Alya duduk di dalam pesawat yang membawanya terbang meninggalkan Tanah Air.

Sebulan berlalu. Di negeri orang, saat dokter menyodorkan hasil tes kehamilannya, Alya hanya bisa mematung.

Ia sama sekali tidak menyangka bahwa satu malam penuh gairah itu akan membuahkan janin di rahimnya. Ia bahkan tidak tahu siapa ayah dari anak yang dikandungnya—ia nyaris tidak ingat apa-apa tentang pria itu. Satu-satunya hal yang ia ingat hanyalah bahwa pria itu tidak pelit—liontin rubi yang dikalungkan di lehernya malam itu sepertinya bernilai sangat fantastis.

Sembilan bulan kemudian, Alya terbaring di meja operasi dan melahirkan bayi kembar tiga. Nahasnya, ketika kondisinya sudah cukup pulih untuk melihat bayi-bayinya, dokter membawa kabar buruk: salah satu anaknya menghilang secara misterius.

Lima tahun berlalu. Di Terminal Kedatangan Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Alya melangkah keluar sambil menggandeng sepasang anak kembar yang wajahnya bak pinang dibelah dua—satu laki-laki dan satu perempuan. Barang bawaan mereka tak banyak.

Kembali menginjakkan kaki di kota ini mengaduk-aduk perasaan Alya.

Putra kecilnya, Bima, mendongak menatapnya dan bertanya, "Bunda, ini ya kota tempat Bunda tinggal waktu kecil?"

Alya mengusap puncak kepala Bima dengan lembut dan menjawab penuh kasih, "Iya, Sayang. Di kota inilah Bunda dulu tinggal."

"Tapi Bunda, apa Bunda yakin kita bisa nemuin saudara kembar kita di kota ini?" tanya putri Alya, Citra. Suara mungilnya terdengar begitu penasaran.

Alya menghela napas pelan, tatapannya menerawang jauh. Sejenak kemudian, ia berkata, "Tante Siska sudah nemuin beberapa petunjuk. Kalau semuanya lancar, kita pasti bisa segera kumpul sama dia."

Baru saja Alya selesai bicara pada Citra, ponselnya berdering. Layar itu menampilkan nama kakak tingkatnya semasa kuliah dulu, dr. Naufal.

"Al, maaf banget, ya. Niatnya aku mau jemput kalian di bandara, tapi mendadak ada operasi darurat. Ini baru kelar, jadi nggak sempat ke sana," jelas Naufal dari seberang telepon.

Naufal menjabat sebagai Wakil Direktur di RS Medika Utama. Jadwalnya yang padat dan deretan operasi yang harus ditanganinya membuat Alya sangat memaklumi kesibukan pria itu.

"Nggak apa-apa, Mas. Santai saja. Kami bisa naik taksi, kok. Sampai ketemu di rumah sakit, ya," balasnya.

"Syukurlah. Makasih pengertiannya, Al. Operasi ayahnya Zidan sudah menunggu untuk kamu pimpin."

Begitu panggilan berakhir, Alya beserta kedua anaknya bergegas naik taksi dan meninggalkan area bandara.

Pada saat yang bersamaan, iring-iringan mobil mewah menepi di lobi kedatangan.

Manda buru-buru turun dari salah satu mobil bersama beberapa asistennya, lalu bergegas menuju pintu keluar penumpang.

Manda mengarahkan orang-orangnya untuk bersiap di dekat pintu keluar sambil memegang papan penyambutan. Saat ia menoleh tanpa sengaja, ekor matanya menangkap siluet taksi yang membawa Alya dan anak-anaknya melintas pergi.

Manda tersentak kaget, jantungnya seakan berhenti berdetak sesaat. Apa Alya sudah kembali?

Ia baru saja mengambil beberapa langkah maju untuk memastikan penglihatannya, ketika Haris muncul di sebelahnya. Pria itu tengah menggendong seorang gadis kecil berusia empat tahun yang wajahnya tampak pucat. Postur Haris yang tinggi tegap dengan aura intimidasi yang kuat membuatnya langsung menjadi pusat perhatian, tak peduli meski ia sedang menggendong anak kecil.

Melihat Haris mendekat, Manda buru-buru menghampirinya.

"Mas Haris," sapanya dengan nada semanis mungkin.

Haris menunduk menatap Manda dengan sorot mata dingin. Sejenak kemudian, bibir tipisnya bergerak pelan, menyuarakan nada yang tak kalah bekunya.

"Kamu yakin Dokter Elara tiba di Jakarta dengan penerbangan ini?" tanyanya.

Manda mengangguk mantap. "Yakin, Mas. Aku sudah cek ke orang dalam. Dokter Elara pasti ada di penerbangan ini. Dia dokter yang sangat luar biasa. Begitu kita berhasil nemuin dia, Laras pasti bakal sembuh."

Usai berkata demikian, Manda menatap lembut gadis kecil di gendongan Haris.

Namun, saat Laras menyadari tatapan Manda padanya, tubuh anak itu mendadak kaku oleh kecemasan yang tak bisa dijelaskan. Secara naluriah, ia meringkuk ketakutan, menyembunyikan diri dalam pelukan erat ayahnya.

Bab Selanjutnya