Bab 144: Kebenaran

Laras mendongak. Jemarinya menyeka sisa embun di sudut mata. Ia menatap Eliana lekat-lekat, lalu mengangguk mantap.

Meski degup panik di dadanya belum sepenuhnya senyap, setidaknya kini ia merasa ada tiang sandaran yang kokoh.

Ia tak lagi berjuang sendirian.

"Aku ngerti, El." Laras menarik napas ...

Masuk dan lanjutkan membaca