Bab 2 Reuni
Tinggal di bawah atap yang sama membuat mereka sering berpapasan. Alya melakukan segalanya untuk memenuhi kebutuhan Rangga, diam-diam memupuk cintanya, hingga hari di mana Rangga mengundang teman-temannya ke Villa keluarga Wicaksono untuk sebuah pesta.
Anak-anak remaja memang peka terhadap perubahan sekecil apa pun. Mereka dengan cepat menangkap ketegangan antara Alya dan Rangga, dan akhirnya menerima Alya ke dalam lingkaran pertemanan mereka.
Di atap Villa Wicaksono hari itu, Rangga memperhatikan Alya yang sibuk mondar-mandir, lalu menarik lengannya.
"Tetap di sampingku saja. Kamu tidak perlu mengurusi mereka."
Itu adalah salah satu momen langka di mana Rangga menunjukkan perhatian. Alya, sedikit malu, menggenggam tangannya. Saat mata mereka bertemu, suasana di antara mereka berubah. Alya ingat ia menahan napas, mata jernihnya menyambut tatapan Rangga dalam diam.
Alya sebenarnya tidak jelek; penyakitnyalah yang membuat berat badannya naik. Bahkan sampai sekarang, ia tidak yakin apakah panasnya cuaca hari itu yang membuat mereka bertindak begitu gegabah.
Ketika bibir mereka yang gemetar bertemu, keduanya seakan tersulut oleh sesuatu yang tak terlukiskan, pikiran mereka menjadi kosong.
Mereka begitu terhanyut sampai tidak menyadari suara samar pintu atap yang terbuka, diikuti oleh desahan kaget dan umpatan tak percaya.
Ekspresi wajah Rangga saat itu adalah sesuatu yang tidak akan pernah bisa dilupakan Alya.
Itu adalah campuran rasa jijik, benci, dan muak, seperti baru terbangun dari mimpi buruk—sebuah penghinaan yang luar biasa.
Sejak hari itu, gosip tentangnya berubah dari si gadis gemuk menjadi gadis murahan yang suka menggoda laki-laki. Rangga tidak mengatakan apa-apa, membiarkan orang-orang memfitnahnya. Sejak hari itu pula, ia mulai menghindari Alya.
Hidup Alya menjadi semakin berat. Teman-teman sekelasnya, yang sudah merundungnya karena penyakitnya, kini semakin menyiksanya karena telah "menyentuh" Rangga, membuat hari-harinya di sekolah tak tertahankan.
Memaksa diri untuk bangkit dari kepedihan, Alya memarkir mobilnya di garasi bawah tanah rumah sakit.
Ketika ia sampai di kamar rawat putranya, rasa sakit itu masih belum hilang sepenuhnya.
Bima, merasakan kegelisahan ibunya, meraih tangan Alya dan menggoyangkannya pelan, menenangkannya dengan panggilan lembut, "Bunda."
Panggilan itu menarik Alya kembali dari kenangan yang menyesakkan. Ia tak sanggup lagi memikirkannya; itu adalah masa tergelap dalam hidupnya.
"Hari ini berat ya, Bun? Aku lihat Ayah di cuplikan acara Bunda."
Seiring pertumbuhannya, Bima menjadi semakin mirip dengan Rangga.
Alya tidak menyangka Bima akan membahasnya. Menatap mata jernih putranya, ia tertegun sejenak.
Ia tiba-tiba sadar bahwa Bima, yang berjuang melawan kelainan trombosit sejak lahir, telah menghabiskan sebagian besar hidupnya di rumah sakit.
Meskipun ia telah memberikan banyak alasan atas ketidakhadiran Rangga, Bima tetap sangat sensitif terhadap ketiadaan sosok ayah.
Belum lagi, tahun lalu Bima menemukan "foto" dirinya dan Rangga di laci Alya—sebuah kolase gunting-tempel yang ia buat sendiri.
"Cuma mirip saja, kok. Bima, kita tidur yuk?" Alya mencium kening Bima dan memeluknya erat.
Baru setelah Bima tertidur, Alya merasa sedikit lega. Ia mengambil ponsel pribadinya dan melihat rentetan pesan dari sahabatnya, Olivia.
"Alya! Angkatanmu mau reuni lagi, dan aku dengar Rangga sama Mia bakal datang. Kamu ikut, nggak? Si William bahkan sampai mencarimu lewat aku. Tentu saja aku nggak bilang apa-apa. Keputusan di tanganmu, tapi aku penasaran! Mereka tega banget bilang kamu sudah meninggal. Kalau mereka tahu kamu sekarang jadi bintang besar dan cantik begini, pasti nyesel."
Alya menggelengkan kepala membaca pesan-pesan itu.
Alya yang dulu sudah mati, terkubur di masa lalu. Kalau bukan karena kehabisan bahan gosip, mereka tidak akan mencarinya. Sungguh menggelikan.
"Biarkan saja mereka berpikir begitu. Aku di rumah sakit sama Bima. Jenguk dong, dia kangen sama kamu."
"Tenang, kita bakal segera barengan kok. Brand kami lagi cari spokesperson baru, dan aku sudah merekomendasikanmu gila-gilaan. Pasti ada kesempatan."
Obrolan mereka sedikit meringankan suasana hati Alya.
Kemudian Olivia mengirim pesan lagi: "Eh, Alya, aku lihat kamu sama Rangga di acara itu. Dia ngenalin kamu nggak?"
Alya dengan tenang menjawab, "Nggak."
Bahkan saat mereka sudah akan tidur, Olivia masih mengumpat tentang Rangga: "Kenapa sih dia dulu? Cowok brengsek yang nggak mau nerima tapi juga nggak mau nolak. Boleh nggak aku ikut ke reunimu? Aku mau kasih tahu dia soal Bima langsung. Kamu nggak seharusnya menanggung semua ini sendirian."
Rani memang selalu terlihat tegar di luar, tapi hatinya rapuh. Ia tahu mereka tidak bisa membiarkan dunia tahu tentang Bima; itu akan menjadi pukulan telak bagi Alya, membangkitkan kembali semua kenangan pahit itu.
"Ngomong-ngomong, kamu sama Rangga itu sebenarnya gimana? Kukira cuma buat publisitas. Kenapa sekarang malah ikut acara kencan bareng?"
Dulu, saat mereka masih bukan siapa-siapa di industri hiburan, nenek Rangga pernah satu kamar rumah sakit dengan Bima. Rangga tidak punya waktu untuk merawat neneknya, jadi Alya ikut membantu, berpikir itu sama saja dengan merawat satu orang lagi. Hubungan mereka menjadi dekat, dan sekarang mereka hanya berpura-pura menjadi pasangan di depan kamera untuk menaikkan popularitas. Secara pribadi, hubungan mereka jauh lebih intim daripada sekadar kerabat biasa.
Mereka mengobrol hingga larut malam. Saat Alya bangun, manajernya menelepon, memintanya datang ke kantor di Menara Kencana. Begitu ia masuk, rekan kerjanya, Eliza Puspita, menghampirinya dengan raut wajah gusar.
"Alya, Bu Elina mau ketemu di ruangannya."
Ketika Alya masuk, Elina Wijaya sedang menelepon. Sebagai seorang manajer papan atas, dialah yang mengangkat Alya dari nol. Setengah jam kemudian, ia menutup telepon dan menatap Alya dengan penuh semangat.
"Kesempatan besarmu datang! Semua kerja keras kita akhirnya terbayar. Minggu depan, kamu akan dapat kesempatan satu panggung dengan model internasional ternama, Maya Larasati. Malam ini, aku adakan acara ramah tamah supaya kalian bisa saling kenal!"
"Tenang saja, aku akan pastikan ada yang menjaga Bima. Waktu pertama kali tahu kamu punya anak, aku juga kaget," tambah Elina.
Bagaimanapun, dengan wajahnya yang awet muda, kulitnya yang cerah, dan pembawaannya yang anggun, Alya lebih terlihat seperti mahasiswi yang baru lulus daripada seorang ibu.
"Bu Elina, saya..." Hanya mendengar nama itu saja sudah membuat tubuhnya gemetar. Dalam beberapa tahun yang singkat, ia akan bertemu Maya lagi?
Alya jarang sekali mendapat kesempatan seperti ini. Meskipun hatinya dipenuhi rasa takut dan muak, ia tidak tahu bagaimana cara menolak permintaan Elina.
Hotel telah menyiapkan segalanya. Ruangan itu ramai dengan denting gelas dan obrolan yang hidup. Lampu kristal di langit-langit begitu terang hingga Alya nyaris tidak bisa membuka matanya. Ia terus meminum air putih, mencoba menenangkan kegugupannya.
Ada cukup banyak orang yang datang malam ini, dan Rangga juga diundang untuk meramaikan suasana. Bu Elina sudah berdiri di dekat pintu sejak tadi, menunggu kedatangan Maya.
Ketegangan itu terasa begitu berat, membuat Alya pusing. Tiba-tiba, kerumunan di sekitarnya mulai berdesir, dan semua orang menoleh ke arah pintu masuk. Rangga menjulurkan lehernya lalu melambai ke arah Alya, "Dia datang! Lihat, itu Maya. Badannya sempurna banget!"
Melihat Alya tetap duduk, Elina menjadi cemas. Ia segera menyodorkan segelas anggur merah dan mendesak, "Dia itu seniormu, kamu harus menunjukkan rasa hormat."
Elina menarik Alya ke depan, di mana suasana begitu riuh. Ekspresi Alya tampak linglung, dan dalam kebingungan itu, seseorang menyenggol lengannya yang memegang gelas anggur. Cairan merah pekat itu tumpah ke gaun hijaunya, menetes dari dadanya.
Untuk sesaat, waktu seolah berhenti. Pikiran Alya kosong. Ia menatap noda anggur di gaunnya, lupa bagaimana harus bereaksi.
Untuk ketiga kalinya, ia mempermalukan dirinya sendiri di depan Maya...
Maya melihat pemandangan itu dan tertawa kecil, yang membuat Alya merasa semakin putus asa. Matanya memanas, menahan air mata.
Saat Maya melangkah mendekat, seisi ruangan menjadi hening. Obrolan dan seruan penuh semangat tadi lenyap seketika.
Wanita itu tetap memesona seperti biasa, dengan anggun menarik semua perhatian dari kebisingan di sekitarnya. Gaun satin panjangnya berkilauan seperti cahaya bulan, menonjolkan kulitnya yang mulus dan nyaris transparan. Rambutnya yang tergerai seperti air terjun diikat longgar, dengan beberapa helai jatuh di bahunya.
Kecantikan Maya begitu murni dan tak tersentuh, begitu berjarak hingga membuat orang menahan napas—seperti sesuatu yang melayang di langit, hanya untuk dikagumi, tidak untuk dinodai.
Elina merasa sedikit canggung dan buru-buru angkat bicara, "Alya sedikit ceroboh tadi, Mbak Maya, mohon jangan dimasukkan ke hati. Tapi kalau dilihat dari reaksi Mbak, apa kalian saling kenal?"
