PASAL 2
McKenzie
“Ada yang bisa saya bantu, Mr. Cirano?” Aku tidak akan pernah memanggilnya dengan nama itu lagi. Dia sudah bukan Darius bagiku.
Dia duduk menatapku tanpa bicara. “Bukannya aku sudah bilang aku tidak mau melihat wajahmu lagi?”
Dulu, nada suaranya bisa bikin aku ciut seketika. Jujur saja, sekarang pun masih. Tapi dia tidak perlu tahu itu. Aku membalas tatapannya. Dia masih sama—Darius Cirano yang tampak seperti baru keluar dari halaman majalah: wajah tampan nyaris tak masuk akal, rambut hitam panjang tertata rapi, setelan jas yang pas di badan berototnya, dan mata hijau yang selalu menusuk, seolah menantang siapa pun yang berani menatap balik.
“Mr. Cirano, saya juga tidak ingin ada di sini, tapi ini pekerjaan saya. Saya tidak akan ikut campur dalam hidup Anda atau hal apa pun yang menyangkut Anda. Saya sudah melakukan semua yang bisa saya lakukan untuk teman Anda. Selama Anda tidak masuk rumah sakit, Anda tidak akan melihat saya lagi—dan saya akan memastikan kita tidak akan pernah berpapasan,” kataku pelan.
“Aku harap begitu,” balasnya.
Ada ketukan di pintu.
“Masuk.”
Bryan melangkah masuk, lalu begitu melihat siapa yang duduk di sana, tubuhnya sempat kaku sesaat. Aku menangkap kilat amarah singkat di mata Darius.
“E-eh, Dr. Pierce,” Bryan akhirnya bicara, menatap ke mana-mana kecuali ke pria di kursi itu. “Ini laporan terbaru pasien-pasien Anda. Terus… Dr. Jensen minta saya scrub in untuk operasi kardiovaskular sore ini.”
Dia menggeser-geser kakinya—tanda dia gugup. Aku berdiri, menghampirinya, lalu merangkul bahunya singkat. Bryan satu-satunya yang pernah benar-benar kuajari, karena aku satu-satunya orang yang dia punya. Rasanya seperti punya adik.
“Makasih. Tidak apa-apa, kamu ikut saja. Semakin banyak jam terbang di ruang operasi, semakin bagus buat kamu,” ujarku. Bryan tersenyum dengan senyum miring khasnya.
“Thanks, McKenzie.”
Aku mengambil map-map dari tangannya, dan dia segera keluar. Saat aku berbalik, Darius sudah berdiri tepat di belakangku.
Aku mencoba menyelinap ke samping, tapi dia malah melangkah maju mendekat. Satu gerakan itu saja membuat napasku terasa sempit. Aku mundur tanpa sadar sampai punggungku menabrak daun pintu. Darius berhenti hanya beberapa senti dariku, menunduk, menatapku dari atas. Hembusan napas hangatnya menyapu leherku, membuat tubuhku bergetar kecil. Panas dari tubuhnya terasa nyata, menekan, dan entah kenapa… tetap membuatku takut.
“Jadi kamu sukanya yang lebih muda, ya?” Suaranya pekat oleh amarah—dan sesuatu yang lain. “Cepat juga kamu dapat pengganti. Nggak buang waktu sama sekali.”
Aku terlalu kaget untuk menjawab. Kata-kata hilang begitu saja. Aku bahkan tidak sanggup menatapnya. Kenapa dia marah? Bukannya dia sendiri yang sudah melangkah pergi—yang dulu tidak peduli apa yang dia lakukan padaku, atau apa yang dia ucapkan padaku?
“Jawab aku, McKenzie.” Nadanya tidak sabaran.
Aku tidak sanggup. Aku tidak punya tenaga untuk berurusan dengan dia… atau dengan perempuan itu. “Dulu kamu memilih percaya yang paling buruk tentang aku, Darius. Sekarang sudah tidak ada artinya. Waktu aku pergi, aku menerima semua tuduhanmu dan semua aturannya. Sudah lima tahun. Tolong jangan lakukan ini lagi ke aku. Tolong… aku cuma ingin ditinggal sendiri,” kataku, menahan air mata.
Dadaku nyeri, menyadari pria di depanku adalah pria yang dulu kukira kucintai.
Dia menjauh setengah langkah. Aku tetap menunduk, menatap lantai.
“Kamu bisa bicara sama dia kalau kamu mau.”
Aku langsung mendongak menatapnya.
“Terima kasih.”
Dia tidak menambahkan apa-apa. Hanya menatapku, lama, seolah mencari sesuatu di wajahku.
“Kenapa dulu kamu nggak bela diri?” tanyanya akhirnya.
“Aku tidak mau bahas itu. Itu masa lalu; semua orang sudah lanjut,” jawabku, lalu melangkah menjauh. Aku tidak akan menyeret diriku kembali ke sana.
Tapi Darius mengejarku lagi—dan tangannya mendadak menutup leherku.
“Masa lalu?” Dia mendesis, rahangnya mengeras. “Buat kamu itu masa lalu, tapi buat aku itu siksaan. Kekacauan. Orang yang paling aku percaya, orang yang aku masukin ke rumah dan hidupku, mengkhianati aku.” Cengkeramannya menekan. “Aku benci kamu. Aku benci lihat kamu. Dan kamu benar… aku sudah move on.”
Aku menepis tangannya sekuat tenaga, mendorongnya menjauh, berusaha menarik napas dengan dada yang terasa sesak.
“Aku nggak pernah mengkhianati kamu, Darius. Aku ngelakuin semua yang kamu minta. Aku nggak pernah minta apa pun dari kamu. Waktu kamu nyuruh aku pergi, aku pergi, dan aku nggak bawa apa-apa—nggak ada. Aku nggak pernah ngizinin kamu nyentuh aku, dan selama aku jadi istri kamu, aku juga nggak pernah ngizinin siapa pun nyentuh aku. Aku setia. Aku jaga diri buat kamu. Kalau ada yang dikhianati… itu aku.”
Aku membentaknya, air mata mengalir deras tanpa bisa kutahan. Darius cuma berdiri menatapku, wajahnya dingin seperti tembok.
“Jangan pernah muncul di depan aku lagi, atau kamu bakal nyesel, McKenzie,” katanya.
Begitu dia melangkah keluar dan membanting pintu, kakiku mendadak lemas. Aku jatuh terduduk di lantai, lalu membiarkan tangisku pecah total, menenggelamkanku sampai rasanya aku sulit bernapas.
Ah… seandainya aku nggak pernah menikah dengannya.
Seandainya aku nggak pernah menerima kebaikan Cynthia.
Dia… Darius… orang yang benar-benar mematahkan aku.
Pikiranku melayang, terseret balik ke awal semua ini.
MASA LALU
LIMA TAHUN YANG LALU
McKenzie
Beberapa hari setelah ulang tahunku yang ke dua puluh tiga, aku sendiri nggak paham kenapa aku melakukan itu.
Mungkin karena wine yang Cynthia dan Zara tuangkan malam itu. Mungkin karena aku terlalu terbawa suasana. Tapi entah kenapa, tanpa pikir panjang, aku mengirimkan laporan risetku tentang pemeriksaan neurologis kepada seorang ahli saraf yang namanya terkenal sampai ke berbagai belahan dunia: Bartholomew James.
Begitu email itu terkirim, baru aku panik.
Aku mondar-mandir di ruang tamu kecil apartemen, telapak tangan basah, jari-jariku saling meremas sampai terasa sakit. Aku sebenarnya nggak berharap apa-apa. Sama sekali. Ini cuma lempar batu ke laut—begitu pikirku.
Sampai akhirnya notifikasi balasan masuk.
Aku terlalu kaget dan terlalu takut untuk membukanya sendiri, jadi aku menyerahkan laptop itu ke Zara. Dan meski aku bilang “serahkan”, kenyataannya aku tetap mondar-mandir seperti orang kesetanan di belakangnya.
“Kenzie, duduk,” Zara menegur, wajahnya kesal. “Kamu bikin aku lebih tegang dari yang seharusnya.”
Aku menelan ludah. Zara selalu begitu—tegas, berani, dan entah kenapa, selalu tahu bagaimana caranya berdiri kokoh saat aku gemetar.
Di mata orang-orang kampus, aku adalah McKenzie Pierce, mahasiswa kedokteran berprestasi yang katanya punya masa depan cemerlang. Tapi cuma Zara dan Cynthia Cirano yang tahu siapa aku sebenarnya. Dari mana aku berasal. Dari lubang seperti apa aku merangkak keluar. Dan aku sedang mencoba menjadi apa.
Tiba-tiba Zara menatap layar, lalu mulutnya menganga.
“Gila,” celetuknya keras.
“Apa?” Aku refleks berhenti mondar-mandir.
Zara menoleh cepat, matanya membesar. “Kamu bakal jadi ahli saraf, Kenzie.”
“Hah?” Aku mematung. Otakku seperti nggak sanggup memproses kalimat itu.
“Dia mau kamu jadi muridnya.” Zara tersenyum lebar, sampai giginya kelihatan semua.
Aku buru-buru mendekat, mencondongkan badan ke layar laptop. Email itu singkat, formal, tapi isinya membuat dadaku sesak.
Aku menutup mulut dengan tangan. “Ya Tuhan…”
Zara mendadak berdiri dan memelukku erat. Aku bisa merasakan dia ikut gemetar.
“Zara…?”
“Setahun lagi kamu punya kesempatan belajar langsung sama dia,” katanya, suaranya bergetar menahan emosi. “Ambil. Jangan dilepas, Kenzie.”
Air mataku jatuh lagi, kali ini karena bahagia. “Aku seneng banget, Zara.”
“Aku juga seneng buat kamu.”
Setelah kami sama-sama agak tenang, aku membalas email itu dan menerima tawarannya. Sampai malam pun aku masih merasa seperti sedang mimpi.
Aku baru mencoba rileks ketika Cynthia datang. Begitu dia duduk, aku langsung menceritakan kabar itu. Cynthia ikut tersenyum, matanya hangat, seperti selalu.
“Terima kasih, Cynthia,” ucapku, suara serak. “Kalau bukan karena kamu, aku nggak akan sampai di sini. Maksudku… waktu kamu nemuin aku dulu, aku—”
Cynthia mengangkat tangan, memotong pelan. “Bukan. Kamu di sini karena kamu memang punya alasan untuk ada di sini.” Lalu wajahnya berubah sedikit hati-hati. “Tapi… aku mau minta sesuatu, McKenzie.”
Aku langsung menggenggam kedua tangannya. “Apa pun, Cynthia. Nggak ada yang nggak akan aku lakuin buat kamu. Aku bisa berdiri sampai hari ini karena kamu.”
Dia diam sebentar, seolah menimbang kata-kata yang paling tepat. “Aku pernah cerita soal cucuku, Darius. Umurnya dua puluh tujuh. Dan sejujurnya… kalau aku menyerahkan semuanya ke dia, dia nggak akan pernah punya istri seumur hidupnya.”
Aku menatap Cynthia, jantungku mulai berdegup tidak nyaman.
“Dari luar dia memang kelihatan dingin, susah diajak bicara,” lanjut Cynthia. “Tapi dia anak yang baik. Aku sudah bicara sama dia. Dia sudah menerima keputusanku. Keluarga yang lain juga. Dan aku ingin… kamu menikah dengannya.”
Untuk beberapa detik, aku seperti kehilangan suara.
Aku menatap wajah Cynthia, mencoba menemukan tanda bahwa dia sedang bercanda. Tapi tatapannya serius—tenang, dan yakin.
“Cynthia… kamu yakin?” suaraku kecil.
“Ya, McKenzie.” Nada bicaranya tegas, seolah keputusan itu sudah lama disimpannya. “Kamu perempuan yang tepat untuk dia.”
Aku menelan ludah. Kepalaku penuh pertanyaan, tapi mulutku justru mengucapkan kalimat yang bahkan aku sendiri tidak percaya bisa keluar begitu mudah.
“Baik. Aku lakuin.”
Wajah Cynthia melunak, lalu dia tersenyum lega. “Terima kasih, sweetheart.” Dia menepuk punggung tanganku pelan. “Besok pagi kamu bisa ketemu dia. Setelah itu kita ke kantor catatan sipil dan kalian menikah… sampai dia memutuskan kapan dia mau kasih tahu orang-orang kalau dia sudah punya istri.”
“Okay…” jawabku lirih.
Aku sama sekali belum mengerti aku sedang melangkah ke dalam apa.
Tapi saat itu, aku pikir… apa pun yang menungguku, nggak mungkin lebih buruk dari hidup yang sudah pernah aku jalani.
