Bab Dua Puluh Empat

Kenna

“Aku mau tanya,” kata Aidan.

Aku menoleh ke arahnya. Kami duduk berseberangan di bangku bianglala, kaki menggantung, angin malam menyusup lewat celah-celah besi. Di bawah, kerumunan terlihat seperti titik-titik kecil—manusia memang kecil, tapi mimpi sering kebesaran. Dan beberapa orang, ya, ...

Masuk dan lanjutkan membaca