Bab Empat
Aidan
“Ya ampun,” erang Dimitri, matanya sampai berputar.
Habis itu, dia lanjut menggigit burgernya, bikin keningku berkerut. Cara dia mengunyah sambil terus mengerang puas itu bikin aku agak risih. Pandanganku sempat melipir—ada beberapa perempuan melirik ke arah kami, lalu cekikikan.
“Ini enak banget,” katanya setelah menelan, kepala dimiringkan, lalu menggigit lagi.
Dimitri sebelas-duabelas sama Kenna—dua-duanya sama-sama menyedihkan kalau urusan makanan. Mereka tipe paling gampang disuap karena… ya cuma pakai makanan. Aku enggak perlu ngasih uang banyak atau beliin barang mahal. Selama aku yang bayarin makan siang, mereka sudah bahagia setengah mati.
Itu juga yang menjelaskan kenapa sekarang aku duduk di restoran ini, membiarkan Dimitri menikmati burgernya sampai titik terakhir. Dia seperti menganggap ini momen sakral; fokusnya cuma ke makanan. Aku berdeham, melirik jam di pergelangan tangan—cek waktu.
“Ayo,” katanya, menghabiskan gigitan terakhir lalu meneguk air putih.
Begitu aku beres bayar, kami keluar dari restoran dan langsung menuju mobil. Gerald sudah membukakan pintu untuk kami. Aku masuk duluan dan mendapati Flynn sedang main game di ponselnya; begitu melihatku, dia buru-buru menutup layar, berdeham seperti tidak terjadi apa-apa.
“Kamu sudah telepon Kenna?” Aku memilih mengabaikan tingkahnya tadi, menunduk men-scroll ponselku. Ada beberapa pesan dari Ibu—mengingatkan soal calon istriku di acara kumpul-kumpul nanti.
Flynn mengangguk. “Sudah.”
Tatapanku menempel di belakang kepalanya, menunggu dia lanjut, tapi dia diam saja. Aku mengembuskan napas panjang, memberi isyarat pada Gerald untuk jalan. Sepanjang mobil hening—tak ada yang berani buka suara, apalagi Flynn.
Aku menurunkan gengsi. “Dia bilang apa?”
“Dia di rumah sakit sampai jam lima. Habis itu pulang, enggak mampir ke mana-mana. Dia juga nolak makan malam sama saya… undangan yang Tuan rencanakan,” jawabnya.
Sebelum Flynn menelpon Kenna, aku sudah menjejalkan kepadanya keseluruhan skenario obrolan. Jadi tugas Flynn menanyai dia soal harinya dan sampai jam berapa dia di rumah sakit. Tapi untuk urusan lamaran, itu tugas Dimitri—menyusun semuanya.
Sampai sekarang dia belum ngasih satu pun ide yang beneran bisa kupakai, bahkan cara memulai lamaran yang “pantas”. Yang dia sebut cuma soal berlutut dengan satu lutut—katanya itu penting. Simbol. Seorang pria berlutut hanya untuk perempuan yang dia cintai. Tapi situasiku jelas beda.
Dia yang minta. Aku cuma ngasih apa yang dia mau.
“Ini!” seru Dimitri tiba-tiba.
Gerald refleks menginjak rem, mobil berhenti mendadak. Aku menoleh, menatap Dimitri tajam. Mobil-mobil di belakang langsung membunyikan klakson bertubi-tubi… Dimitri malah nyengir tanpa peduli, lalu turun.
“Muter dulu. Balik lagi lima belas menit,” kataku. Gerald dan Flynn mengangguk. Tanpa menunggu lagi, aku ikut turun. Aku sempat melirik mobil di belakang kami—mengangkat tangan tanda minta maaf. Mata perempuan di balik kemudi membesar begitu melihat wajahku, tapi aku sudah keburu berjalan mengejar Dimitri tanpa menunggu reaksinya.
Aku mendongak menatap bangunan di depan. “Cartier?”
“Ya iyalah. Kamu ngarep apa kalau minta orang Prancis bantuin milih cincin tunangan?” Dia mengangkat alis, lalu melangkah masuk, meninggalkanku menghela napas sebelum mengikuti di belakangnya.
Satu-satunya alasan kenapa aku minta Dimitri bantuin urusan cincin tunangan Kenna itu karena dia pernah menikah dulu... mungkin dia tahu cara milih yang pas. Bukan berarti aku nggak bisa ngandelin orang-orang yang kerja di sini, tapi secara pribadi Dimitri jago baca orang.
Dia cukup peka buat nangkep selera orang lain. Tanpa ragu dia bakal tahu model cincin yang Kenna mau atau suka. Agak nyelekit juga buat harga diriku... ngakuin kalau setelah dua puluh tahun berteman, aku masih aja nggak bisa nebak minat sahabatku sendiri. Tapi di situasi kayak gini, aku nggak keberatan ngalah.
Yang penting Kenna nerima lamarannya dan suka sama cincinnya, semua bisa jalan sesuai rencana. Cincin itu juga buat dia simpan—aku nggak bakal minta balik kalau nanti kami cerai. Rasanya kayak ngasih hadiah buat sahabat, cuma versinya lebih mewah dan lebih mahal.
“Selamat datang, saya Louis. Ada yang bisa saya bantu?” kata seorang pria, berdiri di antara dua perempuan. Keningku berkerut... merasa pernah lihat dia di mana, tapi nggak bisa nginget dengan pas.
“Kami lagi cari cincin tunangan,” jawabku. Dia melirik Dimitri dan aku, jelas nangkepnya salah—seolah-olah aku dan Dimitri pasangan yang mau tunangan. “Aku yang mau ngelamar pacarku,” tambahku. Dia langsung mengangguk, lalu memberi isyarat supaya kami mengikuti, senyum lebarnya nempel di wajah.
Nah, itu dia. Mukanya persis banget sama si cowok di film Princess Diaries yang ngurusin makeover. Jujur, punya sahabat cewek sejak kecil... dampaknya lumayan. Kenna selalu yang milih film, dari dulu sampai sekarang. Jadi jangan salahin aku kalau ujung-ujungnya aku jadi ngerti film-film cewek, termasuk Barbie.
“Dia orangnya seperti apa?” tanya Louis, menoleh padaku. Matanya menyipit, seolah maksa aku ngomong soal Kenna supaya dia bisa nemuin cincin yang paling cocok—tapi yang ada malah bikin aku sadar, dia bener-bener nggak beda jauh sama Paolo.
“Dia... dia cantik?” kataku. Dimitri memutar mata, kayaknya dalam hati dia udah nonjok dirinya sendiri karena punya teman sepertiku. Louis malah melirik dua perempuan di sampingnya, menggeleng pelan.
Tiba-tiba dia meraih tanganku, lalu mengisyaratkan supaya aku duduk. Dia menatap mataku dalam-dalam. Mataku refleks membesar kaget, tapi aku tetap diam. Dia menyipit lagi, menjentikkan pergelangan tangannya sekali, dan baru saat itu aku sadar aku sedari tadi menahan napas.
“Pak, saya bukan mau ngajarin cara Bapak mendeskripsikan perempuan Bapak, tapi... itu jelas bukan jawaban yang tepat. Bapak harus mendeskripsikan dia dengan gairah, kekaguman, seolah dia perempuan paling luar biasa yang pernah Bapak lihat. Perempuan yang akan Bapak cintai seumur hidup,” katanya penuh energi, seperti kerasukan, sebelum membuka matanya lagi dan menatapku kembali.
“Dia benar,” Dimitri menyeringai.
Louis berdiri tegak, menatapku dari atas. “Sekarang, Pak. Dia itu seperti apa?” Matanya cuma tertuju padaku, bikin aku menunduk menatap tanganku sendiri—sadar kalau aku nggak bisa mendeskripsikan Kenna dengan gairah, kekaguman, apalagi cinta. Yang bisa cuma... cinta versi pertemanan.
Aku diam, berusaha memikirkan Kenna. Fokus pada mata birunya yang terang, dan caranya tertawa keras tiap kali aku melontarkan lelucon receh, atau memutar mata saat aku ngambil keputusan bodoh. Sampai aku bisa membayangkan bibirnya yang bentuknya rapi melengkung jadi senyum, saat kami saling goda.
Kenna punya semua kualitas baik di dalam dirinya. Kualitas yang selama ini nggak pernah kutemukan pada perempuan lain, tapi entah kenapa aku juga nggak pernah benar-benar memberi perhatian cukup padanya… sampai taraf yang bisa bikin aku jatuh cinta. Cantiknya—nggak perlu diragukan—mematikan. Aneh juga, untuk laki-laki sepertiku bisa tetap berteman dengan perempuan seperti dia, tapi dari dulu kami memang begitu, sama-sama nyaman dengan cara kami sendiri.
Setiap kali aku melihat bibirnya, aku nggak pernah merasa ingin menciumnya. Setiap kali aku menatap matanya, aku nggak pernah tergoda untuk menyelami isi kepalanya. Jadi… menggambarkan dia dengan gairah dan kekaguman rasanya mustahil. Seolah ada batas yang berdiri di antara kami.
“Sudahlah. Yang ini gimana?” Dimitri menyela, membuatku berkedip beberapa kali, kembali ke dunia nyata saat dia menunjuk sebuah cincin.
Louis meletakkan cincin itu di depan kami. “Model klasik. Ini cincin tunangan favorit di seluruh dunia. Cincinnya cincin… begitu orang-orang menyebutnya,” katanya, membuatku menatap cincin sederhana itu. Bahkan, aku sudah sering melihat model seperti itu di jari perempuan-perempuan yang baru dilamar.
“Nggak,” jawabku, langsung menarik perhatian Louis dan Dimitri. “Kebanyakan sederhana. Kayak cuma cincin ‘mau nikah sama aku nggak’—bukan cincin ‘aku cinta kamu dan aku pengin kamu jadi istriku’. Pokoknya nggak. Aku nggak akan beli itu,” tambahku, dan Louis terlihat cukup terkejut.
Dia malah menyeringai lebar, melirik setelan yang sedang kupakai sebelum menoleh ke Dimitri. Sepertinya dia menangkap maksudnya, lalu berdeham. “Sebenarnya… saya bisa tawarkan sesuatu yang lebih bermakna dan spesial. Nggak sesederhana ini, tapi juga nggak berlebihan. Cincin ini bisa mendefinisikan apa yang Tuan mau—cincin ‘aku cinta kamu’ yang maknanya mengarah pada pernikahan,” ucapnya.
“Tunjukkan,” kataku.
Aku dan Dimitri keluar dari Cartier, dia membawa kantong belanja di tangannya sementara aku menyelipkan kotak merah itu ke saku mantelku. Bibirku terangkat membentuk senyum saat mengingat desain yang kupilih—puas dengan pilihanku sendiri.
“Sama-sama,” katanya, melenggang melewatiku lalu masuk ke mobil saat Gerald membukakan pintu.
Aku mengangkat sebelah alis melihat sikapnya, lalu ikut masuk sambil terkekeh pelan. “Yang kamu lakukan cuma nganterin aku ke toko perhiasan. Aku yang milih cincinnya, aku juga yang bayar,” balasku, nada puas terselip jelas.
Dia mendengus. “Kamu masih butuh aku buat lamaran yang bener.” Aku menoleh menatapnya—dan aku tahu dia ada benarnya. “Mending kamu bersikap manis, atau lamaranmu nggak akan ada gunanya… gimana, Aidan?” tambahnya.
Walau tiba-tiba aku pengin mendorongnya lebih dalam ke jok mobil, aku cuma menatap tajam sambil menahan kesal. Nggak diragukan lagi, dia memang bisa bantu urusan lamaran—dia tipe laki-laki yang gampang bikin perempuan luluh. Dia menang dengan kata-kata, bukan cuma pamer ketampanan yang dia pikir dia punya.
“Harus berhasil,” gumamku.
Dia tertawa, jemarinya menyisir rambutnya dengan santai. “Kamu ngomong sama Dimitri, si MVP sialan. Percaya deh… bakal berhasil,” katanya, menyeringai bangga.
Beberapa menit berlalu, dan dia nggak berhenti mengetik di ponselnya, seringai licik menempel di wajahnya.
Soal Dimitri dan mantan istrinya… itu sesuatu yang butuh waktu lama buat dia lewatin. Sampai sekarang pun, dia masih belum benar-benar bisa melupakan perempuan itu, bahkan setelah semua yang dia lakukan untuk menghancurkan hati Dimitri.
Sejujurnya, aku tak melihat ada yang salah dengan dirinya. Yang benar-benar busuk justru mantan istrinya sendiri. Dia ingat semuanya… ulang tahunnya, hari jadi pernikahan mereka. Rupanya hal-hal semacam itu tetap saja belum cukup untuk membuat cintanya terlihat tulus. Bertahun-tahun dihabiskan untuk berusaha saling mengenal lebih dalam, tapi pada akhirnya, semua itu tak ada gunanya baginya.
“Coba kamu ingat ini. Ucapkan keras-keras,” katanya, pelan, sambil menyodorkan ponselnya padaku. Aku mengernyit melihat panjangnya tulisan. Ini tidak terasa seperti lamaran yang wajar, ini lebih mirip esai sialan.
“Oke, begitu kamu sampai sana… pura-pura kayak kamu habis lari buat nemuin dia. Seolah-olah kamu bakal kehilangan dia kalau nggak buru-buru. Ceritanya kamu harusnya udah di bandara buat terbang entah ke mana, tapi kamu batalin penerbangan cuma demi bisa ngelamar dia. Manis, kan?” katanya sambil menyeringai.
“Ini kayak film Bollywood. Aku perlu ganti baju juga?” tanyaku. Gerald mendengus kecil, tapi cepat-cepat menutupinya dengan berdeham—tetap menatap jalan, kedua tangannya mencengkeram setir.
Dimitri tertawa. “Bro… karena kamu ngelamar di tempat umum, gue berusaha narik perhatian orang-orang biar nonton lamaran sialan lo. Begitu mereka mulai ngangkat HP dan ngerekam semuanya, bisa aja viral. Terus lo bisa nyodorin itu ke muka nyokap lo,” balasnya.
Kalau ada apa pun tentangku muncul di internet, Ibu pasti tidak senang. Ya, kalau yang muncul hal-hal yang bikin malu… tapi kalau ini lamaran yang pantas, dia akan jungkir balik antara bingung dan senang sekaligus, apalagi kalau dia tahu itu Kenna.
Lamaran di IGD rumah sakit termasuk lamaran yang pantas, nggak? Yang penting Kenna kaget. Dia tak perlu tahu aku akan melamar hari ini karena, seperti katanya, dia ingin lamaran yang proper—lamaran yang membuat pihak satunya benar-benar terkejut.
“Kamu yakin ini bakal berhasil? IGD selalu rame, gimana kalau aku malah diusir?” tanyaku, sedikit cemas terlihat di wajahku, sementara aku terus menggenggam ponselnya.
“Siapa tahu malah sekalian kamu nyembuhin orang-orang itu,” jawabnya, lalu menunjuk layar ponselnya. “Nah… berhenti ngulur-ngulur, mulai baca. Hafalin,” tambahnya.
Baru saja aku mau membaca, dia menghentikanku.
“Ah, udahlah. Kita role play aja,” katanya sambil memutar badan sehingga dia duduk berhadapan denganku, bukan di sebelah. “Gue jadi Kenna, lo jadi diri lo sendiri. Sekarang baca lamaran sialan itu,” ucapnya, membuatku berpikir lamaran ini memang sudah sial dari awal.
“Kenna… syukurlah kamu di sini,” aku mulai membaca sambil menatap wajahnya, memastikan aku melakukannya dengan benar sebelum melanjutkan. “Dengar, kamu punya waktu sebentar nggak?”
“Jangan lupa ngos-ngosannya,” dia menyela.
Saat kami melanjutkan role play itu, tanpa sadar aku sudah mulai menghafal kata-katanya. Semuanya terasa pas dengan situasi kami… aku menjelaskan tahun-tahun yang kami lewati bersama dan bagaimana kecantikannya entah bagaimana membuatku terpukau—dia pasti akan terpana mendengarnya.
Namun lamaran ini bukan sesuatu yang sungguh-sungguh lahir dari hati. Ini dibuat untuk mengesankan dia, dan juga orang-orang di sekitarnya, supaya mereka berhenti dari apa pun yang mereka lakukan dan menoleh pada kami.
