Bab 9
POV Ayleen
Aku memilih baju yang mirip gaya Clara—sederhana dan santai. Kalau hari ini dia tampil apa adanya, berarti kami tidak akan pergi ke tempat yang wah. Begitu keluar rumah, aku menoleh ke kanan-kiri mencari mobilnya, tapi tidak kelihatan. Baru saja aku mau tanya apa dia jalan kaki, suara klakson pendek yang nyaring membuatku menoleh.
Clara duduk di balik kemudi sebuah Chrysler atap terbuka.
“Serius?” Aku memutar mata, jelas-jelas tidak terkesan.
Clara menyeringai. “Cuma ini sama satu mobil lagi. Tolong jangan mikir aku punya satu garasi isi armada,” katanya, memasang wajah manyun yang dibuat-buat.
“Oh iya, jelas,” kataku, sarkasnya menetes di tiap kata. “Kenapa juga aku harus mikir begitu? Kamu cuma punya dua mobil mewah. Masuk akal banget.”
“Cerewet,” godanya, mencubit pipiku sebelum dengan dramatis memakai kacamata hitam. Dengan gaya, ia menekan tombol, dan atap mobil melipat rapi ke belakang. Aku memperhatikan matahari menyentuh wajahnya, membuat rona keemasan di matanya makin menyala. Cantik. Itu satu-satunya kata yang muncul di kepalaku.
Di luar dugaanku, dia justru membawaku ke restoran kecil yang hangat, tidak berlebihan sama sekali. Kami memilih meja di luar, angin hangat membuat suasananya terasa hampir… intim.
“Enak juga,” kataku, memecah hening yang menggantung sejak perjalanan tadi.
“Aku suka tempat ini,” katanya, melepas kacamata hitam dan menaruhnya di atas meja. “Sepi.”
Tatapannya menetap padaku, tidak bergeser, dan tiba-tiba aku merasa seperti sedang diperiksa di bawah lampu sorot.
“Jadi, kamu sudah sempat keliling New York belum?” tanyanya.
“Belum, sih,” aku mengaku.
“Wah, nggak bisa begitu. Habis ini kita jalan-jalan, ya,” usulnya santai, seolah itu sudah pasti.
“Sebenernya aku mau banget. Aku suka jalan kaki,” kataku, menyunggingkan senyum kecil.
“Senyummu cantik. Harus lebih sering,” katanya, mengulurkan tangan untuk menyelipkan sehelai rambutku ke belakang telinga.
Tubuhku menegang, napasku tersangkut di tenggorokan.
“A-aku… aku sering senyum, kan?” Aku berusaha terdengar biasa saja, tapi panas di pipiku membocorkan semuanya.
“Kamu sering,” katanya mulus, “tapi kalau kamu main, kamu kelihatan serius banget, fokus. Kayak kamu ada di dunia lain.”
“Karena memang iya,” aku mengaku. “Aku berusaha membayangkan not-not di depan, dan aku selalu takut salah.”
“Kamu tetap kelihatan cantik, dua-duanya.”
Oke, dia benar-benar tidak punya malu. Dia menembakku dari segala arah, dan itu berhasil.
“Tapi kalau aku senyum tanpa alasan pas main, nanti kelihatan serem,” bantahku, mencari alasan apa pun biar tegangnya turun.
“Lebih baik itu daripada kelihatan terlalu serius. Kalau aku masuk ruang sidang, aku selalu pasang muka yang bikin orang ciut—kadang aku mikir setan aja protes karena aku nyolong ekspresi intimidasi dia,” candanya, menyeringai lebar.
“Aku nggak percaya,” celetukku tanpa pikir panjang.
Alis Clara terangkat sedikit, bibirnya melengkung jadi senyum pelan yang nakal.
Tadi aku… ngebales gombal?
Aku buru-buru menarik ucapanku. “Maksudku—kamu nggak serem buat aku. Kamu kelihatan orang baik. Seru, bahkan.”
Senyumnya tetap ada, tapi suaranya melunak. “Cuma sama beberapa orang.”
“Berarti aku orang spesial,” godaku, mencoba meringankan suasana.
Clara memiringkan kepala sedikit, ada geli di matanya. “Aku akan bilang begitu. Tapi kita pesan dulu. Aku nggak ngajak kamu ke sini buat bikin kamu kelaparan.”
Dia membantuku memilih dari menu, bahkan merekomendasikan menu favoritnya. Saat dia tanya aku minum alkohol atau tidak, aku bilang aku ikut kalau dia ikut. Jadi kami memesan sebotol anggur merah.
“Jadi,” katanya sambil memotong dagingnya, “aku tahu kamu dari Utah. Keluargamu punya peternakan. Kamu punya saudara laki-laki. Umurmu dua puluh satu. Apa lagi?”
Aku mengangkat alis. “Wow. Dan aku cuma tahu kamu pengacara dan punya dua mobil mewah.”
“Aku yang tanya duluan,” balasnya, puas. “Cerita.”
Aku mendesah, menyerah. “Kakakku sudah menikah. Dia punya anak perempuan, Lily.”
“Lucu banget,” katanya, suaranya lebih lembut. “Kamu suka jadi tante?”
“Dia malaikat kecilku,” aku mengaku, senyum tulus muncul saat membayangkannya.
Senyum miring Clara sedikit memudar. “Aku nggak akan pernah jadi tante.”
Aku berkedip. “Oh… kenapa?”
Dia menatapku seperti sedang menegur. “Karena aku anak tunggal, bodoh.”
“Oh, iya,” gumamku, merasa agak bego karena nanya. “Kamu bilang cuma kamu dan ibumu.”
Ia mengangguk, lalu meletakkan garpunya. “Mama ngebesarin aku sendirian setelah bokap kabur ninggalin kami. Kami pindah ke Greenport—pinggiran New York. Keluarga mama tinggal di sana. Ibunya Marcus. Mama harus kerja keras banget buat bikin kami tetap jalan. Pas aku udah agak besar, aku juga banting tulang sebisa mungkin. Belajar mati-matian. Jadi pengacara. Habis itu aku kerja lebih keras lagi. Aku cuma pengin ngasih mama hidup yang pantas dia dapetin, setelah semua yang dia korbankan buat aku.”
Ada sesuatu yang telanjang dalam suaranya. Sesuatu… yang biasanya ia sembunyikan.
Aku meraih melintasi meja, ragu-ragu menaruh tanganku menutupi tangannya.
Dia membiarkan.
“Dia pasti bangga sama kamu,” kataku tulus. “Dan aku senang kamu bisa membangun hidup yang lebih baik buat diri kamu, Clara.”
Clara tersenyum kecil, nyaris malu, lalu bergeser sedikit di kursinya. Halus sekali, tapi aku bisa menangkapnya—dia nggak terbiasa membuka diri begini.
Kami lanjut ngobrol sambil menghabiskan makanan, obrolan kami mengalir dari cerita masa kecil, pekerjaan baruku, sampai mimpi-mimpiku soal masa depan. Dia tetap ngotot ngajak aku jalan kaki setelah ini, dan menjanjikan es krim—yang, anehnya, menurutku menggemaskan.
Belakangan, saat dia berhenti di depan apartemenku, aku menoleh menghadapnya, jari-jariku gelisah memainkan sabuk pengaman.
“Clara,” kataku ragu, “boleh aku nanya sesuatu?”
Dia menyeringai. “Tanya aja, Angel.”
Jantungku tersendat.
Barusan dia—barusan dia manggil aku begitu? Dia kelihatan nggak sadar sama panggilan itu, tapi aku sadar. Dan kupu-kupu di perutku juga.
“Kenapa kamu beliin aku keyboard itu?” akhirnya aku bertanya. “Dan jangan bilang itu hadiah buat band. Kenapa kamu datang ke apartemenku dan ngajak aku makan siang?”
Clara memiringkan kepala sedikit, matanya berkilat geli. “Itu bukan buat band,” akunya. “Itu buat kamu. Waktu aku lihat kamu main, aku… kayak kena sihir. Kamu kelihatan polos, tapi juga cantik. Terus pas kita ngobrol, aku sadar kamu juga baik. Manis. Aku pengin bantu.”
“Segampang itu?” bisikku, hampir takut sama jawabannya. “Kamu cuma… bantu orang? Belikan barang? Ajak makan siang?”
Clara terkekeh pendek. “Ngapain dibikin rumit, Ayleen? Aku ngelakuin apa yang hati aku suruh. Lagian itu bukan sesuatu yang aku nggak mampu.”
Aku ragu. “Aku menghargai kejujuran kamu, meski aku nggak ngerti alasannya…”
“Aku juga nggak ngerti,” dia mengaku, mengangkat bahu. “Aku cuma ngerasa pengin.”
Aku menelan ludah, tenggorokanku kering. “Cuma… aku beda banget sama kamu. Hidup kamu rapi. Kamu pengacara yang sukses. Aku cuma anak kuliah yang lagi tersesat.”
Clara mengangkat sebelah alis. “Hei, hei—kamu manggil aku tua, ya? Aku dua puluh tujuh.”
Aku tertawa pelan. “Bukan itu maksudku.”
“Kadang beda itu bagus,” gumamnya.
Lalu dia condong, jari-jarinya pelan mengangkat daguku.
Jantungku berhenti.
“Aku pengin cium kamu,” bisiknya.
“Aku nggak yakin itu ide yang bagus,” suaraku keluar lebih lemah dari yang kuinginkan, tekadku luntur semakin lama dia menatapku begitu.
“Biar aku cium kamu, supaya kamu inget aku,” bisiknya, napasnya hangat menyentuh kulitku. Dia nggak nunggu jawabanku.
Bibirnya menempel di bibirku—lembut, hangat, dan penuh keyakinan yang nggak goyah. Dia terlalu… terlalu berani, terlalu yakin, terlalu memabukkan. Napasku tersangkut saat dia menjepit bibir bawahku di antara bibirnya, pelan dan sengaja, sebelum menarik diri sedikit—cukup bikin aku kira semuanya sudah selesai—hanya untuk menangkap bibirku lagi.
Aku mendesah kaget ketika lidahnya menggoda celah bibirku, mencari jalan, membujuk. Tubuhku menegang sepersekian detik sebelum naluri mengambil alih, dan bibirku membalas, sensasinya bikin kepalaku ringan. Nggak terburu-buru, nggak kasar. Semuanya terkendali—seolah dia menikmati tiap detiknya.
Tangannya nggak pernah lepas dari daguku, genggamannya ringan tapi tegas, menahanku tepat di tempat yang dia mau.
Dan lalu, secepat itu dimulai, semuanya selesai.
Aku nyaris nggak sanggup membuka mata, otakku masih mengejar apa yang barusan terjadi. Clara menatapku, pupilnya melebar, mata berwarna madu itu lebih gelap dari sebelumnya—penuh sesuatu yang nggak bisa kupahami.
Jantungku menghentak keras sampai aku merasa dia pasti bisa dengar.
“A-aku… aku harus… aku perlu, uh… iya, dadah,” aku terbata, kalang kabut membuka pintu. Jari-jariku salah-salah mencari gagangnya, dan aku nyaris melompat keluar dari mobil.
Kali ini aku berhasil nggak tersandung, tapi kakiku terasa lemas saat aku buru-buru menuju gedungku, hampir nggak sanggup mencerna apa yang baru saja terjadi.
Gimana bisa ciuman itu terasa seenak itu, sih?!
