Bab 151 - Saatnya

Kael

Malam ini, rumah pak terasa lebih berat.

Lorong-lorongnya berbau asap pinus dan rempah, tapi di bawahnya, aku masih bisa merasakan gigitan logam darah di udara. Darah yang kami tumpahkan. Darah yang kami hilangkan.

Liora.

Adikku terbaring tak sadarkan diri di sayap penyembuh. Hidup—hampir s...

Masuk dan lanjutkan membaca