Bab 193 - Badai Berkumpul

Kael

"Apa?" Aku berteriak. Ruangan bergetar oleh kekuatanku. Denyut nadiku berdenyut di pelipis, saat aku berjalan mondar-mandir, setiap langkah menggema di lantai batu seperti dentuman drum perang.

Ini semakin parah.

Rasa besi yang pahit menempel di lidahku dari kata-kata yang baru saja diucapka...

Masuk dan lanjutkan membaca