Bab 231 - Jiwanya

Kabut sudah pergi.

Tapi tidak yang di dalam diriku.

Ke mana pun aku melangkah, Silvermoon terasa hidup lagi, seolah semua kembali berdenyut. Namun di dadaku, yang tinggal hanya beban. Seperti duka mengikat nadi-nadi jantungku sampai sesak.

Udara hangat, tapi aku menggigil. Pucat.

“Snowfall…” pan...

Masuk dan lanjutkan membaca