144. “Aku hanya ingin melindungimu.”

Aku menggenggam kenop pintu lebih erat, menanamkan kakiku lebih kuat di lantai, seolah-olah itu bisa menahanku di momen ini daripada membiarkan beban kekecewaan menghantamku.

Aku berkedip perlahan, berat, mencoba menghilangkan rasa perih di mataku yang tertinggal oleh air mata yang tak pernah benar-...

Masuk dan lanjutkan membaca