9. Renda dan Penolakan

“Apa?!” Suaraku meluncur lebih keras dan tajam daripada yang kuinginkan. “Nggak!”

Aku menelan ludah keras ketika menangkap seringai sok yang ia lempar—jelas puas melihat reaksiku—lalu aku berdeham dan menambahkan dengan nada lebih terkendali, “Nggak perlu. Aku nggak butuh bantuanmu.”

Aku menyeberangi kamar, menggenggam kain berat itu erat-erat di sela jari, melewati Christopher yang hanya menatapku penuh rasa ingin tahu, kilau geli berpendar di matanya.

“Kamu pengin banget nikah sampai rencananya tidur pakai gaunnya?” pancingnya.

Ucapannya tepat menghantam titik paling sensitif dalam diriku. Aku berbalik cepat, menyipitkan mata menatapnya.

“Percaya deh, kamu nggak punya bayangan seberapa penginnya aku ngelepas benda sialan ini,” balasku ketus—dan aku sendiri kaget pada reaksiku, sampai-sampai Christopher pun sempat terlihat terkejut.

“Oh, ya?”

“Iya. Dan aku nggak butuh kamu buat ngelepasinnya.” Aku menambahkan, sedikit malu, “Malah… itu hal terakhir yang aku mau.”

“Terus kamu mau lepasinnya gimana?” Suara Christopher tetap datar, dan seperti sorot matanya, ia tampak dingin, nyaris marah. “Kamu beneran pikir bisa sendirian? Jelas-jelas nggak berhasil.”

“Oh, jelas aku nggak bakal minta kamu.” Aku menyilangkan tangan; garis leher gaun membuat dadaku sedikit terdorong naik, dan itu menarik pandangan Christopher sesaat—panas, membakar kulit telanjangku.

Aku menelan ludah, merasakan tubuhku memanas oleh kesal, marah, dan sedikit malu.

“Kamu nggak berencana minta orang lain buat ngelepasinnya, kan?” Ia ikut menyilangkan tangan, menirukan gerakanku, hanya saja ototnya jauh lebih tegas dan terbentuk.

Aku mendongak, menatap matanya dan menemukan sesuatu yang berbahaya berkelebat di sana—seolah menantangku untuk menjawab dengan kata yang salah.

“Itu bukan urusan kamu,” balasku getir, lalu kembali membelakanginya, melepas silang tanganku dan membiarkan kedua tanganku jatuh di sisi tubuh.

“Sebenernya itu urusanku—urusan aku sebagai suamimu.”

“Aku kira aku sudah jelas bilang ini bukan pernikahan beneran.” Aku melangkah ke kamar mandi yang menyatu, berusaha menghapus keberadaannya dari helaan napasku.

Nggak mungkin aku membiarkan dia menyentuhku malam ini, nggak setelah apa yang ia lakukan pertama kali. Lagipula, aku nggak butuh dia menyentuhku secepat ini. Itu cuma akan terjadi sekali—pada hari Henry dikandung, empat bulan dari sekarang. Setelah itu selesai.

Namun Christopher mengikutiku dengan langkah mantap dan postur tenangnya yang biasa, berhenti di ambang pintu dengan tangan tetap tersilang. Tatapannya menilai aku dari ujung kepala sampai ujung kaki, membakar kulitku seolah aku berdiri terlalu dekat dengan matahari.

Aku berusaha mengabaikannya, melepas perhiasan-perhiasan berat itu dan melemparkannya ke atas wastafel—perhiasan yang sekarang tak berarti apa-apa bagiku… toh semua kemewahan ini sia-sia.

Tapi lagi-lagi, di luar ekspektasiku yang sudah hancur, Christopher tetap di sana, mengawasiku lewat cermin.

Mata kami bertemu lewat pantulan, dan aku hanya melihat keseriusan pada ekspresinya yang kaku.

Dari dulu dia setegang ini, ya?

“Kamu masih di sini ngapain?” Aku menepukkan kedua telapak tangan ke wastafel, mempertahankan tatapan kami meski aku masih membelakanginya. Ia memiringkan kepala seolah pertanyaanku bodoh, dan aku menegaskan, “Aku udah bilang aku nggak butuh bantuan kamu!”

“Ya, aku nggak bisa asal pergi,” katanya santai.

“Kenapa nggak?”

“Berkat wajahmu yang bersinar saat pesta nikah,” kata Christopher dengan sentuhan sarkas dalam nada kalemnya. “Earl itu mengira aku ngelakuin sesuatu yang bikin kamu kesal dan menuntut aku memperbaikinya. Seperti yang kamu tahu, aku masuk ke pernikahan ini buat memuaskan kakekku, dapet lagi restunya, dan memastikan tingkah gadis manja nggak mengancam hakku sebagai ahli waris.”

“Yakin itu salahku?” balasku, menarik rambutku ke depan melewati bahu. “Bisa aja karena kamu telat… atau karena kamu pakai hitam semua di hari nikah, kayak mau melayat, bukan ngerayain pernikahan sialanmu.”

“Aku lagi berduka.” Ia menyeringai, kata-katanya terlalu enteng untuk dianggap serius.

“Oh, turut berduka cita.” Aku memutar mata, ujung jariku menggaruk pelan permukaan wastafel. “Mau aku tepuk punggungmu? Mau sandaran buat nangis?”

Christopher melangkah mendekat, masuk ke kamar mandi, menerobos ruang pribadiku, matanya masih mengunci mataku lewat pantulan.

“Kayaknya ada sesuatu tentang kamu yang belum aku tahu, Charlotte.” Ia berhenti tepat di belakangku, terlalu dekat… aku hampir bisa merasakan panas tubuhnya di punggungku. “Mulutmu tajam juga.”

Aku membuka bibir untuk membalas, tapi terpaksa menelan pekik kaget saat Christopher menarik kuat—nyaris merobek korset—membuatku terdorong menunduk di atas wastafel.

Ia sempat melirik ke atas sebentar, lalu cepat menunduk lagi, mengendurkan tali satu per satu dengan ketelitian yang rapi, tapi begitu pelan sampai rasanya mengaduk-aduk isi perutku.

“Dan kamu kepo,” balasku, dan dia malah menarik korset itu lebih kencang, sentakan kuat yang membuatku mengerang pelan.

Christopher menatap ke atas, terkejut, dan aku merapatkan bibir, menunduk, lalu memusatkan perhatian pada kuku-kukuku yang dihias—terlihat begitu sehat dan panjang.

Aku memaksa diri berkonsentrasi pada cantiknya kuteks, manik-manik kecil yang berkilau, dan gambar-gambar putih halus di atasnya, memikirkan sudah berapa lama sejak kuku ini terakhir dicat, alih-alih kenyataan bahwa suamiku akhirnya melonggarkan semua tali korset itu dan membiarkan benda itu jatuh ke lantai.

Aku menahan napas saat tangan terampilnya cepat menemukan resleting rokku yang mengembang. Ia melepas pengaitnya dengan bunyi klik pelan lalu menurunkannya perlahan, mengendurkannya di sekitar pinggulku.

Dengan gerakan lembut dan hati-hati, ia menariknya turun, membuat kain itu meluncur mulus hingga berkumpul di kakiku dan membebaskanku dengan kemudahan yang tak kuduga.

Aku mengangkat kepala, berusaha menstabilkan napas dan memperlambat detak jantungku yang berlari kencang.

Keheningan di antara kami terasa berat, sarat—seolah udara dipenuhi listrik yang tak terlihat. Cahaya lembut kamar mandi menumpahkan hangat di kulitku ketika Christopher, dengan tangan yang mantap namun tetap halus, menemukan resleting kecil di punggung gaun.

Ia berhenti, matanya bertemu mataku—tatapan yang memadukan ragu dan sesuatu yang tak bisa kutamai—sebelum kemudian, pelan dan sengaja, menarik resleting itu turun.

Christopher melonggarkan tali gaunku dengan lembut, dan kainnya melorot mulus. Gaun itu jatuh menggunung di kakiku, memperlihatkan lingerie putih pengantin yang kupilih dengan teramat teliti.

Bahan itu renda halus yang sensual, penuh detail rumit, memeluk tiap lekuk tubuhku. Desainnya berani, dengan potongan-potongan di tempat yang seolah sengaja, permainan transparansi yang memberi isyarat lebih banyak daripada yang ia ungkap—membungkusku dalam tirai misteri dan janji.

Ia menarik napas dalam, matanya mengikuti garis tubuhku dalam renda itu—payudaraku, pinggangku, pinggul… lalu naik dan bertemu wajahku yang memanas.

“Kau tahu, Charlotte… untuk pengantin yang bersumpah nggak menginginkanku, kamu benar-benar payah kalau mau pura-pura nggak niat.”

Christopher mendekat cukup dekat hingga hembusan napasnya menggesek telingaku, suaranya turun beberapa nada, senyumnya miring malas…

“Katakan… kamu benar-benar pikir renda dan penyangkalan itu kombinasi yang meyakinkan?”

Pikiranku kosong, dan seluruh tubuhku terasa seperti terbakar.

“Apa yang barusan kamu bilang?” geramku, tubuhku gemetar menahan amarah yang nyaris lepas—pada absurditasnya, pada rasa malunya—dan pada hal-hal yang lebih baik kutelan seumur hidup daripada kuucapkan keras-keras.

Ya Tuhan, aku seharusnya nggak minum sebanyak itu, apalagi tubuhku yang baru dua puluh dua jelas belum punya “ketahanan” macam orang yang sudah terbiasa bertahun-tahun.

“Aku cuma bilang…” Suaranya meneteskan kesabaran menyebalkan yang sudah kupelajari untuk kubenci. “Kalau kamu mau menyampaikan pesan, kamu seharusnya nggak pilih yang… provokatif begini.”

Tawa kering, tajam, tanpa humor lolos dari mulutku—setengah tak percaya, setengah jengkel. “Kamu pikir aku pakai ini buat kamu?”

Dulu, iya. Tapi kalau aku bisa mundur sedikit saja, aku akan menukarnya dengan kain compang-camping dan membakarnya hanya untuk melihatnya hangus.

“Terus buat siapa lagi?” Matanya menyipit sedikit. “Cincin punyaku ada di jarimu. Kamu berdiri di altar di sebelahku.”

“Iya,” kataku, suaraku dingin dan tajam. “Dan aku sudah mulai menyesal.”

Christopher menelan kata-kataku seolah rasanya pahit di lidah, lalu ia tertawa juga—suara yang mirip punyaku, kering dan hambar, seakan aku menyentuh sarafnya sama seperti ia menyentuh sarafku.

“Menyesal?” Senyumnya goyah sedikit saja, nyaris tak terlihat. “Mau tahu apa yang kupikirkan, Charlotte?”

“Nggak. Nggak mau.”

Ia mendekat lagi, berbahaya dekat, dan sesenci apa pun aku pada ini, sekeras apa pun aku mencoba melawannya… aku tak bisa mencegah merinding yang merayap naik di tulang punggungku.

“…Aku pikir kamu bohong. Aku pikir kamu sedang pakai topeng.”

“Topeng?” Aku menahan cekikikan, tapi menelan erangan kecil yang kaget ketika buku-buku jarinya menyentuh tengah punggungku—sentuhan yang begitu ringan dan tak terduga sampai mengirimkan getar lain ke seluruh tubuhku.

Sialan kamu, Christopher Houghton!

Aku memiringkan kepala dan berdeham, memaksa diri kembali terkendali.

“Kamu mengada-ada.”

“Mengada-ada? Nggak…” Christopher berkata pelan. “Aku bisa lihat, Charlotte.”

Christopher mengambil langkah terakhir, menutup jarak di antara kami, menempelkan dadanya ke punggungku. Meski ia masih memakai kemeja itu, aku bisa merasakan panas tubuhnya memancar ke kulit telanjangku.

“Lihat apa?” Napasku tercekat, tapi aku pura-pura tidak merasakan apa-apa.

Tapi tentu saja ia tahu… aku bisa menebaknya dari cara senyumnya mengembang, dari napasnya yang menggelitik leherku.

“Ini… perubahan kamu. Aksi sok tegar ini…” ia mendengung dekat sekali dengan bahuku, dan meski bibirnya tidak benar-benar menyentuh kulitku, aku hampir bisa merasakan getaran kata-kata berikutnya, “Kamu sekarang main jual mahal?”

Hah, beraninya!

“…Ini usaha baru yang menyedihkan buat menggoda aku, Istri?

Bab Sebelumnya
Bab Selanjutnya