99. “Kumohon, sayang, jangan berhenti.”

Sebelum sempat bereaksi, Christopher menekan kepalaku ke bawah.

Tak ada yang lembut di situ—hanya kebutuhan yang brutal, mentah. Tangannya menjepit tengkukku, jemarinya mencengkeram sampai terasa di kulit, memaksaku turun seolah dia sendiri tak sanggup menahan diri.

Napas tersangkut di tenggorokan...

Masuk dan lanjutkan membaca