84 Pengakuan 2

Aku menelan ludah, kemarahanku berubah menjadi kesedihan yang mendalam. Wanita yang pernah aku pedulikan, wanita yang pernah aku percayai dengan hidupku, ternyata hanya pion dalam permainan yang telah merenggut segalanya dari kami.

“Apa syaratnya?” tanyaku dingin, mencoba tetap berpura-pura, menaha...

Masuk dan lanjutkan membaca