Bab 3
Sorot mata Cedric berkilat tajam.
Pernikahan mereka sejak awal hanyalah kesepakatan bisnis. Bertahun-tahun lamanya, kepentingan mereka saling melilit seperti akar pohon beringin yang kusut dan besar, mengikat mereka sampai sulit dipisahkan.
Apa pun yang terjadi, Katniss dan dia selalu jadi partner cari untung, berdiri di kubu yang sama. Langkah Katniss mendadak ikut mengajukan penawaran untuk proyek resor itu pada dasarnya adalah deklarasi perang, sinyal yang terang-terangan untuk dunia luar.
Cedric paham kemampuan Katniss. Kalau perempuan itu benar-benar mengincar proyek ini…
Katniss menerima telepon Cedric begitu rapatnya selesai.
Dengan setelan kerja yang rapi, ia berdiri di depan jendela kaca besar dari lantai sampai plafon, memandang arus kendaraan dan pejalan kaki yang padat di bawah sana. Suaranya tenang, tertata. “Ada apa?”
“Kalau kamu mau proyek resor, tinggal bilang. Nggak perlu sampai begini. Aku sudah menahan beberapa media yang mau membesar-besarkan ini.”
Cedric melirik berkas-berkas yang baru saja diantarkan asistennya sambil melontarkan ketidaksenangan.
Pagi ini Katniss baru sekadar ikut bersaing memperebutkan proyek. Menjelang siang, ia menaikkan penawarannya.
Jelas sekali: ia ngotot harus menang.
“Aku biarkan drama kamu sekali ini, tapi aku nggak mau ada yang kedua.”
Mendengar nada Cedric yang jengkel, Katniss hampir bisa membayangkan keningnya yang berkerut.
Di mata Cedric, ia cuma alat—patuh, berguna. Sekarang “program”-nya mendadak error, tentu saja si pengendali merasa terganggu.
Katniss menjawab dingin, “Ini sudah siang. Batas waktu yang aku kasih kemarin sudah lewat.”
Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan, “Kamu sudah nyia-nyiain kesempatan buat berpisah baik-baik. Mulai sekarang, aku bukan cuma gugat cerai—aku akan ambil setengah dari semua yang kamu punya.”
Tatapan Cedric menajam. “Kamu punya laki-laki baru?”
Bagaimanapun, tiga tahun pernikahan mereka terlihat rukun. Kenapa Katniss tiba-tiba balik menyerangnya?
“Jangan lupa, keluarga Astor baru bisa berdiri lagi karena aku. Aku yang narik mereka keluar dari jurang, dan aku juga bisa dengan gampang dorong mereka balik ke gelap,” ancamnya.
“Itu tiga tahun lalu. Kalau kamu maksa sampai sejauh ini, aku nggak keberatan lawan kamu sampai titik terakhir. Kita berdua bakal terluka. Kalau kamu mau main, ayo.”
Setelah itu, Katniss menutup telepon.
Kalau ia menoleh ke belakang sekarang, di luar topeng pasangan mesra yang mereka pelihara di depan publik, yang tersisa cuma tumpukan skandal yang harus dibereskan dan hitung-hitungan dingin kepentingan bisnis.
Selama tiga tahun, ia nggak pernah kendor, berjuang menembus industri dengan kemampuan sendiri.
Kalau Cedric benar-benar mau membawa semuanya ke ujung, ia juga bisa menggigit balik sama kerasnya.
Di seberang sana, Cedric menatap layar ponselnya yang sudah gelap, wajahnya makin muram.
Ini pertama kalinya Katniss memutus teleponnya—dan dengan nada seketus itu.
Ia menarik dasinya, kesal.
Cedric sungguh nggak paham apa yang merasuki Katniss.
Katniss menepis gangguan kecil itu dari kepalanya, tapi asistennya, Flora Foster, keburu datang membawa kabar yang lebih bikin muak.
“Bu Astor, nggak ada satu pun pengacara yang berani pegang kasus cerai Ibu.”
Tangan Katniss yang memegang cangkir kopi terhenti di udara. “Naikkan bayarannya.”
Flora menjawab ragu, “Kita sudah tawarin sampai lima kali tarif normal, tapi tetap nggak ada yang mau. Kalau memang kepepet, kita bisa cari pengacara dari luar kota, siapa tahu ada yang bersedia.”
Katniss meletakkan cangkirnya, menarik napas panjang, lalu menggeleng pelan.
“Nggak usah. Kalau Mas Cedric sudah kasih perintah, nggak bakal ada yang berani nyentuh,” katanya.
Sesaat, ia merasa dirinya benar-benar menyedihkan dalam pernikahan ini.
Bahkan untuk bercerai pun, ia seperti tak punya hak.
“Terus kita harus… gimana?” Flora bertanya hati-hati.
“Kamu bisa keluar sekarang. Jangan ganggu aku kecuali benar-benar penting,” Katniss menukas dengan dahi berkerut.
“Iya, Bu.”
Begitu Flora pergi, Katniss menumpu tubuh di meja kerja, memijat pelipisnya.
Kakek Cedric, Pak Cody York, menilai garis keturunan dan nama keluarga lebih tinggi daripada apa pun. Selama statusnya masih istri sah, Cedric tak akan melepaskannya—kalau pun bukan karena dia, ya karena urusan saham perusahaan.
Tapi ia sudah muak jadi bidak di permainan orang lain.
Soal pengacara perceraian…
Ia memang sempat terpikir seseorang.
Kak tingkatnya waktu kuliah dulu, yang pernah mati-matian mengejarnya.
Katniss mengembuskan napas lirih, memaksa diri tenggelam dalam pekerjaan untuk membius pikiran.
Tak lama, jam pulang kantor tiba.
Begitu ia keluar dari gedung perusahaan, matanya menangkap sebuah limusin panjang menunggu di depan.
Cedric duduk di kursi belakang.
Katniss semula berniat mengabaikannya, seperti yang ia lakukan pagi tadi. Namun Cedric seolah sudah membaca niatnya.
“Masuk. Kakek minta kita pulang makan malam.”
Langkah Katniss langsung terhenti.
Cedric bukan anak tunggal; sepupu-sepupunya sama-sama punya ambisi menggigit soal perusahaan.
Pernikahan mereka yang terlihat rukun sudah membuat Cedric semakin disayang Pak Cody. Dan kalau ia melahirkan anak, mereka akan mengamankan sepuluh persen saham itu—mengunci kendali Cedric jadi mutlak di keluarga York.
Setelah ragu sejenak, Katniss membuka pintu mobil dan masuk.
“Sampai kapan kita harus terus pura-pura begini?” tanyanya, menekan gemuruh kesal. “Aku juga bisa tetap pura-pura jadi istri yang sayang kamu, bahkan setelah perceraian kita selesai.”
Tatapan Cedric yang dingin menyapu wajahnya. “Terus soal anak?”
“Nggak akan.”
Dia tidak gila. Kalau ia mau bercerai, untuk apa ia mengandung anak Cedric?
Kalau ada anak yang mengikat mereka, ia dan Cedric tak akan pernah benar-benar lepas satu sama lain.
“Aku bisa ngalah lebih jauh. Biar salah satu perempuan kamu yang hamil, nanti aku yang mengaku anak itu anakku.”
Selama ia bisa cerai, ia sanggup menelan apa pun.
Cedric menatap Katniss lama, ekspresinya rumit, seolah berusaha membongkar isi kepalanya. “Katniss, ada batasnya kamu ngambek. Ini juga bukan pertama kalinya kejadian begini. Kenapa kali ini kamu ribut banget?”
Dia memang menyuruh orang menyelidiki aktivitas Katniss belakangan, tapi dia tak menyangka Katniss ada di hotel pada hari dia mengirim Lillian ke sana. Tapi memangnya kenapa?
Selama ini Katniss juga sering membantunya membereskan hal-hal seperti itu.
Harusnya dia sudah terbiasa. Kenapa sekarang mendadak ngotot minta cerai?
“Aku sudah cukup sabar sama kamu. Jangan bikin aku kehilangan sabar.”
Katniss mendadak dilanda rasa tak berdaya yang menyesakkan.
Ia sudah pernah berdebat, pernah melawan, tapi setiap kali juga, Cedric selalu menepis semuanya seolah suaranya tak pernah ada.
“Kamu nggak pernah ingat apa pun yang aku bilang. Perempuan mana yang sanggup punya suami yang tiap hari bikin skandal di luar pernikahan?”
Kalimat itu membuat mata Cedric sempat menyiratkan keterkejutan sepersekian detik, lalu berubah jadi sindiran tajam.
“Kamu mau bilang kamu beneran jatuh cinta sama aku?” Cedric mencibir. “Katniss, kamu kebanyakan akting sampai percaya sama peran sendiri, ya?”
