Bab 4
Jantungku, yang kukira sudah lama kebas, ternyata masih sempat nyeri samar ketika suara mengejek Cedric menampar telinga.
Katniss menatap wajah Cedric yang tegas seperti pahatan. Bibirnya terbuka, tapi mendadak tak satu pun kata sanggup keluar.
Jadi, semua yang ia lakukan selama lima tahun ini, di mata Cedric cuma sandiwara.
Untuk pertama kalinya, Katniss merasa dirinya konyol.
“Baik. Kakek mau kita balik ke York Villa buat makan malam hari ini.”
Bunyi notifikasi dari ponselnya membuat Cedric tak sempat menangkap kesedihan yang berputar di mata Katniss. Ia menunduk membalas singkat, gurat tak sabar melintas di keningnya.
Alasan Cody memanggil mereka pulang sudah jelas—pasti karena gosip yang beredar soal keretakan rumah tangga mereka gara-gara proyek resor itu.
“Nanti di meja makan, kamu tahu mana yang boleh kamu omongin dan mana yang nggak.”
Ia mendongak, tatapannya seperti peringatan. Melihat Katniss diam dengan wajah datar, ia mengira Katniss masih ngambek.
Dalam hati Cedric mencibir—sampai kapan perempuan itu mau main tarik-ulur begini?
Suasana di dalam mobil menuju York Villa hening sampai rasanya nyaris memadat.
“Tuan Cedric York, Tuan Cody York memohon kehadiran Anda di ruang kerja.”
Begitu mereka memasuki foyer yang megah, si pelayan rumah mendekat dengan sikap hormat.
Cedric sudah menduga. Ia melirik Katniss seolah memberi isyarat, lalu melangkah naik menuju ruang kerja.
“Kak Katniss, aku dengar akhir-akhir ini kamu lagi ‘tanding’ sama Cedric soal proyek resor itu?”
Merasa sesak di aula besar, Katniss sempat keluar ke koridor untuk mencari udara ketika sepupu Cedric, Vaughn York, tiba-tiba sudah berdiri di belakangnya tanpa suara.
Katniss hanya mengangkat mata, tak menjawab. Ia tidak suka Vaughn.
Saat Cody mengumumkan syarat pembagian saham, semua keturunan keluarga York menatap peluang itu dengan mata lapar. Hanya Vaughn yang tampak berdiri di luar pusaran, bersih tanpa noda, tanpa sedikit pun skandal, seolah-olah ia tak peduli.
Namun Katniss selalu merasa, di balik tampang cendekia dan sikap rendah hati itu, ada sesuatu yang lebih berbahaya daripada perebutan kuasa yang terang-terangan—sesuatu yang pekat dan dalam.
Seperti ular berbisa yang berbaring menunggu, mengamati setiap gerak keluarga York, siap mematuk dengan ketepatan mematikan di saat yang paling pas.
“Kenapa tiba-tiba kamu tertarik sama proyek itu?”
Nada Vaughn sengaja memancing, membuat Katniss mengernyit tipis.
“Kamu segitu nggak ada kerjaan?”
“Enggak juga. Aku cuma mau nawarin diri jadi opsi kamu berikutnya.”
Vaughn menurunkan suaranya, mendekat ke telinga Katniss. Hembusan napasnya yang hangat menyapu kulitnya. Katniss tak nyaman, langsung mundur menjauh.
“Jangan setegang itu. Aku cuma berharap kamu pertimbangin aku dulu setelah kamu cerai.”
“Lagipula, kepentingan keluarga Astor sama keluarga York itu nggak bisa dipisahin.”
Maksudnya gamblang—kalau Katniss ingin bercerai, ia harus memilih aliansi pernikahan lain, dan itu tetap dari dalam keluarga York.
Kalimat itu meledak seperti petir di kepala Katniss. Tak percaya dan terkejut menyambar di matanya; tak pernah sekalipun ia membayangkan Vaughn menyimpan niat seperti itu.
“Selain itu, Katniss, dengan kecantikan kamu, aku nggak akan tega biarin kamu tidur sendirian kayak yang dilakukan Cedric.”
“Kamu gila...”
Katniss berbalik hendak pergi, tanpa menyadari Cedric berdiri tepat di belakangnya.
Ia tak tahu seberapa banyak percakapan mereka yang sudah didengar Cedric.
Wajah Cedric menggelap, aura dingin menyelubunginya, membuat firasat buruk merambat di dada Katniss.
“Cedric, kamu di sini. Aku cuma ngobrol sama istrimu soal—”
Wajah Vaughn tetap tenang saat menyapa Cedric dengan senyum.
Sayangnya, kata-katanya terpotong oleh tatapan Cedric yang menusuk.
“Aku perlu ngomong sama kamu.”
Cedric mencengkeram lengan Katniss dan menyeretnya ke kamar tamu, sama sekali tak sadar amarah yang memekat di suaranya sendiri.
“Sejak kapan kamu dan Vaughn mulai main belakang?”
Pintu terkunci di belakang mereka.
Nada Cedric terdengar mengancam.
Selama ini ia mengira ancaman cerai Katniss cuma akal-akalan cari perhatian. Ia tak menyangka Katniss ternyata sudah menyiapkan jalan keluar.
“Kamu ngelantur apa sih?”
“Kamu kira Vaughn orang baik? Umur kamu lima tahun lebih tua dari dia. Kalau bukan karena dukungan keluarga Astor, kamu pikir dia bakal nengok kamu dua kali?”
“Tempat tidur kosong? Kamu bilang itu ke dia?”
Cedric terbakar amarah, sisa logikanya ludes ditelan kalimat terakhir Vaughn.
Ia merenggut lengan Katniss, telapak tangannya yang besar melingkari pinggang Katniss yang ramping. Panas sentuhannya menembus kain tipis saat tangannya meluncur ke arah ujung bawah gaunnya.
“Aku nggak nyangka kamu segitunya kepepet sama laki-laki!”
“Hanya karena kamu jorok, bukan berarti semua orang juga sama!”
Wajah Katniss memerah menahan marah, teringat tingkahnya dulu, perlawanan Katniss makin keras.
“Lepasin aku!”
“Kamu cuma mau anak, kan? Aku kasih—nggak usah drama segala.”
Perlawanan penuh amarah itu di mata Cedric tampak seperti pengakuan tanpa kata. Ia menangkap kedua tangan Katniss dan menekannya ke atas kepala Katniss di ranjang di belakangnya.
“Pergi dari aku!”
Perbedaan kekuatan mereka terlalu jauh. Katniss tak bisa lepas. Jengkel dan murka, air mata mengalir di pipinya tanpa bisa ia tahan.
Cedric membeku, gerakannya tertahan.
Lima tahun menikah, Katniss tak pernah menangis di hadapannya.
Memanfaatkan keraguannya, Katniss menyelinap keluar dari bawah tubuhnya. Ia mengusap air matanya dengan kasar, menatap Cedric tajam.
“Kamu pikir semua orang semurahan kamu?”
“Ngapain pura-pura? Bukannya ini yang kamu mau? Anak itu bakal menguatkan posisi kamu sebagai Nyonya York, bikin kamu dapat saham buat bantu keluarga Astor, dan mengikat kepentingan dua keluarga kita selamanya.”
Sekali jalan, tiga sasaran kena.
“Katniss, urusan cerai ini sudah sampai ke telinga Kakek. Tahu diri, berhenti—ini sudah kelewatan.”
Menyebut Cody, Cedric mengusap pangkal hidungnya, frustasi.
“Sekarang yang utama kamu harus cepat hamil, biar Kakek nggak curiga.”
Apa belum jelas? Katniss bikin keributan soal cerai di saat genting begini cuma akan membuat mereka jadi bahan tertawaan.
Ia seharusnya paham, menjaga kesatuan keluarga itu lebih penting sebelum memikirkan hal-hal di luar.
“Jadi dari awal sampai akhir, kamu nggak pernah benar-benar mikirin apa yang aku butuh.”
Dada Katniss terasa makin dingin tiap kata keluar dari mulut Cedric.
Semua usahanya beberapa hari ini mendadak terasa seperti lelucon—tak pernah dianggap serius sama sekali.
“Kamu—”
Cedric ingin menambah kata-kata, tapi Katniss sudah menutup dirinya rapat-rapat.
Di kawasan perumahan mewah, taksi tak diizinkan masuk. Begitu Katniss berlari keluar, Cedric tak mengejarnya, seolah sengaja ingin memberi pelajaran.
Katniss berjalan hampir setengah jam sebelum akhirnya menemukan taksi dan pulang.
Melihat tata letak kamar yang begitu ia kenal, Katniss merasa lelah lahir batin. Suasana pengap di dalam rumah itu membuatnya sulit bernapas.
Ucapan Cedric terus berputar di kepalanya. Ia tak bisa menahan senyum getir, lalu pandangannya mengeras, mantap. Katniss bangkit dan segera mengemas barang-barangnya.
Begitu semuanya selesai secepat mungkin, ia berdiri di ambang pintu, menoleh sekali lagi pada rumah yang dingin, tak bernyawa ini, lalu pergi tanpa ragu.
Untuk sementara ia tak bisa kembali ke keluarga Astor, jadi ia menyewa sebuah apartemen besar di pusat kota.
Lingkungan yang asing membuat Katniss gelisah malam itu. Setelah berjam-jam membolak-balik badan tanpa bisa tidur, ia bangun dan menyusun sebuah pesan singkat untuk asistennya, Flora.
