Bab 5 Bangun

Delapan minggu kemudian

POV River

Kepalaku masih berdenyut saat aku memaksa duduk dan menerima obat penghilang nyeri dari Calie.

Calie perempuan yang lebih tua, tubuhnya berisi, sudah tiga minggu terakhir jadi perawat sekaligus temanku. Dia luar biasa—selalu manis, lembut, sabar.

Katanya setelah giliran jaga selesai dia pulang, tapi entah kenapa aku tak pernah terbangun tanpa mendapati dia ada di sisiku.

Aku bahkan tak tahu harus bagaimana tanpa dia. Hari ini aku diperbolehkan pulang dan dipindahkan ke rumah asuh.

Aku mengerang saat meraih kruk darinya setelah menelan obatku.

Begitu aku berdiri, dia menyelipkan selembar kertas terlipat ke saku bajuku.

“Apa ini?” tanyaku, menariknya keluar lagi.

“Itu nomor aku, Sayang. Pakai kapan pun, siang atau malam. Aku nggak peduli jam berapa,” katanya.

“Janji sama aku kamu bakal nelepon,” ucapnya lagi.

Saat aku menatap matanya, yang kulihat cuma kasih dan kebaikan—cara yang mengingatkanku pada Ibu.

“Aku janji,” kataku, air mata menggenang, lalu kupeluk dia sekuat yang aku bisa.

Aneh rasanya memikirkan kalau baru tiga minggu sejak aku membuka mata di rumah sakit.

Dua minggu pertama aku di sini, aku dibius dan dibuat koma secara medis supaya tubuhku punya waktu memulihkan diri dari luka-luka yang parah.

Mereka bilang, setelah obatnya dihentikan pun, butuh tiga minggu lagi sampai aku benar-benar bangun.

Calie sudah jadi perawatku sejak hari pertama.

Sebagian besar kerusakan di tubuhku sudah membaik, tapi aku masih memakai penyangga leher dan gips di kaki kiriku. Paling tidak untuk satu atau dua minggu lagi—semoga saja.

Aku benci fisioterapi.

Serius, siapa pun yang jadi fisioterapis pasti dulunya penyiksa di zaman abad pertengahan.

Mereka memaksaku datang tiga kali seminggu.

Ditambah, tentu saja, sesi dengan psikiater dua kali seminggu.

Mereka semua bilang aku beruntung karena aku tidak mengingat semuanya tentang apa yang terjadi padaku. “Ya, tapi aku sama sekali nggak merasa beruntung,” selalu kujawab.

Aku dapat kilasan saat tidur—kilasan mengerikan. Kilasan tentang aku terbangun di lantai yang dingin dan keras, nyaris tak mampu membuka satu mata, tak sanggup menarik napas penuh.

Tersedak darahku sendiri, sementara aku terus berjuang mengambil napas.

Dikelilingi darah—banyak sekali darah.

Lalu gelap dan sakit.

Lalu aku merasakan hangat di tanganku, diikuti geli yang merambat memenuhi tubuh.

Aku mendengar isak pelan, dan suara seorang pria memohon, “Tolong bangun… tolong… aku nggak bisa kehilangan kamu begini.”

Lalu gelap dan sakit lagi.

Suara sesuatu yang dibanting ke lantai, lagi dan lagi.

Bau daging terbakar.

Rasa sakit yang tak tertahankan.

Lalu gelap lagi.

Bau bunga dan… cologne mungkin?

Lalu hangat di tanganku lagi, disusul geli yang menyebar ke seluruh tubuh.

Suara itu selalu rendah, tenang, menenangkan. “Tolong, Amorina… buka mata kamu. Balik lagi ke aku,” lalu isak yang lebih berat.

Setelah itu tak ada apa-apa selain gelap dan sakit.

Seorang pria bermata baik berlutut di sampingku, menggenggam tanganku, memohon agar aku tetap membuka mata sebisaku dan tetap bernapas.

Bau besi—tidak, bau darah.

Rasa sakit dan kegelapan yang tak ada habisnya.

Hangat saat seseorang membelai pipiku.

Aku merinding ketika suara pria itu yang menenangkan menggelitik telingaku saat dia berkata, “Tolong, Amorina… bangun… tolong,” isak pelan diikuti oleh…

“River, astaga, Sayang… aku nggak mau bikin kamu bingung, jadi kayaknya aku harus bilang: Amorina itu panggilan baru aku buat kamu.”

Ada cekikikan kecil, dan entah kenapa perutku langsung terasa dipenuhi kupu-kupu.

Hangat, saat seseorang mengusap rambutku.

Teriakan—teriakan melengking yang bikin darah membeku.

Sakit. Sakit yang keterlaluan.

Gelap, dan gelap lagi.

Laki-laki bermata lembut itu menggenggam tanganku. Kali ini, saat aku menatap matanya, aku juga melihat takut. Suaranya gemetar ketika ia memohon agar aku tetap bernapas.

“Tolong, Sayang, tetap napas… kita hampir sampai. Tolong, kamu udah sejauh ini, jangan menyerah.”

“Tolong bertahan. Aku bisa lihat rumah sakitnya, kita hampir sampai. Kuat, ya… tetap napas.”

Gelap dan sakit.

Aroma bunga dan parfum laki-laki.

Hangat. Ada remasan ringan di tanganku yang mengirimkan geli sampai ke ujung jari kakiku, membangunkan kupu-kupu di perutku.

Aku berusaha membalas menggenggam.

Lalu aku mendengar suaranya. “Hei, Amorina. Ini aku.” Ada kecupan ringan di punggung tanganku.

“Selamat pagi, Cantik. Kamu kelihatan makin baik tiap hari, Amorina-ku.”

“Sekarang kamu cuma perlu buka mata.” Ia memohon, tersedu lagi.

“Ah!” aku terlonjak, membuat terapis yang duduk di depanku mengangkat kepala menatapku.

“Seharusnya nggak sesulit ini. Kenapa aku nggak bisa ingat?” suaraku pecah. Menyebalkan, frustrasinya sampai bikin dada sesak.

Dia memberi jawaban yang selalu sama setiap kali kilasan itu datang.

“Tulis di jurnal kamu, Sayang. Sekecil apa pun penting, buat bantu ingatan kamu balik dan bantu kamu sembuh.”

Aku menjawab dengan cara yang sama setiap kali: memutar bola mata cepat.

Dia mengulang lagi kalau itu “penting buat kesehatan mental” dan buat membantuku menghadapi “trauma yang terjadi”.

Setiap malam selalu sama.

Gelap dan sakit.

Aku memohon pada gelap—tolong saja ambil aku.

Lalu hangat dan geli menarikku kembali keluar dari kegelapan.

Ada sebersit semangat aneh begitu mendengar suaranya yang menenangkan di dekat telingaku.

“Amorina… aku minta maaf.” Isaknya jatuh, dan ada basah di pipiku, diikuti kecupan ringan.

“Aku seharusnya ada di sana buat melindungi kamu, Amorina.”

“Tolong, Amorina, bangun… tolong…” lebih banyak permohonan, lalu isak pelan.

Saat aku terbangun kali ini, aku meraih jurnal sebelum semua keburu menguap.

Aku cepat-cepat menuliskan kata yang selalu ia panggilkan padaku.

“Amorina,” aku mengembuskan napas berat sambil memejamkan mata.

Gelap segera menelanku lagi.

Kali ini aku bisa mendengar suaranya, tapi terdengar jauh sekali. Meski jauh, tetap terasa seperti menarikku keluar dari kegelapan.

Suaranya pekat oleh emosi. Suaranya retak, dan terdengar seperti ia sedang bicara dalam bahasa lain. Sekarang terdengar marah.

Aku merasakan ia menempelkan ciuman lambat, lama, di pipiku.

“Aku harap suatu hari kamu bisa memaafkan aku, Amorina.”

Lalu aku terjaga—dan anehnya aku merindukan hangat yang dibawa suaranya, sentuhannya.

Saat Calie masuk untuk ronde pagi, aku langsung bertanya dengan antusias apakah dia bisa membawakan laptop.

“Kayaknya aku ingat sesuatu,” kataku. Aku ingin mencarinya.

Aku duduk menatap kata itu, menunggu komputer selesai memproses.

Akhirnya halaman yang kucari muncul.

Amorina — arti — bahasa Italia untuk “Cinta Kecil”.

Amorina — pengucapan: A-mor-i-na.

Indah.

Aku cuma berharap aku bisa ingat itu suara siapa.

Bab Sebelumnya
Bab Selanjutnya