149: Aku bisa berjalan.

Kami baru setengah jalan menuju ruang kerja ketika aku sadar Kala sebenarnya bukan berjalan—lebih tepatnya, dia membiarkan dirinya terseret arus. Tatapannya nempel terus ke lantai lorong, seolah-olah dia lagi berdoa dalam hati supaya lantai itu tetap di tempatnya dan nggak tiba-tiba membuka mulut la...

Masuk dan lanjutkan membaca