SATU DELAPAN PULUH EMPAT

Untuk sesaat, aku hanya berdiri membeku, keheningan menelan seluruh diriku, satu-satunya suara adalah detak jantungku yang putus asa menghantam tulang rusukku. Tapi kemudian, sesuatu di dalam diriku pecah.

Sesuatu yang mentah, marah, dan ketakutan yang menolak untuk diam lebih lama.

Aku bahkan tida...

Masuk dan lanjutkan membaca