Bab [1] Menikah dengan Seseorang secara Acak
Sebuah meja operasi didorong masuk ke ruang bedah, di atas ranjang terbaring seorang wanita yang tak sadarkan diri.
Yunita Santoso, dengan sisa kesadarannya, melihat lampu operasi dan para tenaga medis yang mengenakan pakaian operasi. Terakhir kali ia melihat wajah yang sangat dikenalnya—adiknya sepupu, Sari Santoso.
Saat itu, mata Sari penuh dengan dendam licik dan kekejaman yang berhasil diwujudkan.
‘Apakah aku akan mati? Aku tidak ingin mati! Siapa yang bisa menyelamatkanku?’ Yunita berdoa dalam hati, tapi seiring obat bius mengalir, kesadarannya semakin kabur.
Dikatakan bahwa menjelang kematian, seseorang akan mengenang seluruh hidupnya.
Di saat-saat terakhir, Yunita memikirkan pria yang telah dicintainya selama delapan tahun, Reza Hendra. Pria yang begitu ia cintai justru berselingkuh dengan adik sepupunya tepat ketika mereka hendak menikah.
Yang membuat Yunita merasa hancur bukan hanya pengkhianatan cinta itu, tetapi juga fakta bahwa si bajingan itu membutuhkan ginjalnya untuk mendonorkan kepada Sari.
Yunita teringat detik-detik sebelum pingsan; mata pelaku yang memakai masker tampak mirip dengan Reza.
‘Apakah ini benar-benar akhir hidupku? Aku tidak melakukan apa-apa, kenapa harus seperti ini padaku? Jika aku mati, apakah suamiku akan menangis? Mungkin tidak, karena kami baru saja menikah secara kilat…’ pikir Yunita tentang suaminya sekarang, seorang pria yang dinikahinya secara cepat demi lepas dari tekanan keluarga.
Pintu ruang operasi tiba-tiba terbuka dengan keras, Yunita seolah melihat sosok suaminya, Yanuar Hendra. Seperti datang untuk menyelamatkannya.
Beberapa hari sebelumnya, Yunita yang baru kembali ke tanah air pergi dengan bahagia menemui Reza Hendra, namun ia malah melihat Reza tengah berpelukan dengan Sari, sang adik sepupu.
Sari duduk di kursi roda, tampak rapuh bak bunga manis nan palsu. Dengan air mata berlinang, dia berkata, “Kakak, kau mau memaafkanku dan merestui hubungan kami, kan?”
Yunita sama sekali tak ingin memaafkan Sari bahkan ingin menampar perempuan culas itu.
Namun yang paling dingin menghantui hatinya adalah sikap Reza.
Bajingan itu menggunakan pernikahan sebagai ancaman; jika Yunita tak memberikan ginjalnya untuk Sari, maka dia akan menghilangkan Yunita selamanya dari dunia ini.
Reza Hendra, pewaris keluarga Hendra yang sangat terpandang, memiliki posisi keluarga yang amat kuat. Yunita tahu betul ancamannya bukan omong kosong.
Dulu, keluarga Yunita juga setara dengan keluarga besar lain, tapi karena suatu musibah, keluarga Santoso jatuh dari status empat keluarga besar, digantikan oleh keluarga Lestari yang sedang naik daun.
Sebagai kepala dari empat keluarga besar, keluarga Hendra dianggap satu-satunya harapan bagi keluarga Santoso untuk bangkit kembali.
Pernikahan antara Yunita dan Reza merupakan harapan terbesar ayahnya.
Namun kini, bagi Yunita, harapan itu terasa seperti sebuah lelucon.
Yunita berdiri di depan Kantor Catatan Sipil, menatap jauh ke depan sambil menunggu kedatangan seseorang—pria yang direkomendasikan situs kencan online kepadanya. Dia sedang mencari wanita berkelakuan baik untuk segera menikah agar menghindari desakan keluarga.
“Reza Hendra, kau bajingan yang mencoba mengancamku lewat pernikahan. Aku akan nikah dengan siapa saja! Agar kau tahu, kau bukanlah yang tak tergantikan,” gumam Yunita penuh amarah, hampir kehilangan akal sehat.
Sebuah mobil biasa melaju mendekat. Seorang pria berbaju jas hitam turun dari mobil. Melihat wajahnya, Yunita langsung mengenal pria yang akan menjadi suaminya.
Namanya Yanuar Hendra. Awalnya Yunita sempat khawatir apakah dia bagian dari keluarga Hendra yang terpandang, tapi ternyata berdasarkan data yang diisi, dia hanyalah pegawai biasa di salah satu perusahaan milik keluarga Hendra. Sama-sama bernama Hendra hanyalah kebetulan belaka.
Yanuar berjalan mendekati Yunita, memperhatikan dari atas sampai bawah, “Jadi kamu Nona Yunita Santoso, ya? Ternyata lebih cantik daripada foto.”
Wajah Yanuar tampan, memancarkan pesona maskulin dewasa, terutama senyum tipisnya yang elegan sekaligus sedikit nakal. Yunita berpikir, pria ini sebenarnya layak jadi model, bukan pegawai kantor biasa.
“Terima kasih atas pujiannya, Anda juga tampan,” jawab Yunita sopan.
“Nona Yunita Santoso, kamu yakin ingin menikah denganku?” tanya Yanuar lagi.
Mendengar pertanyaan itu, pikiran Yunita kembali pada Reza yang pernah dicintainya. Namun bayangan keakraban Reza dan Sari memenuhi hatinya dengan rasa sakit dan dendam.
“Aku sudah memutuskan, ayo kita menikah,” kata Yunita serius menatap Yanuar.
“Baiklah, mari kita masuk,” Yanuar dengan santai menggenggam tangan Yunita dan membawanya masuk ke Kantor Catatan Sipil.
Gerakan natural Yanuar membuat Yunita ragu. ‘Padahal ini pertama kali bertemu, kok dia seperti kurang sopan? Apakah data yang dia isi palsu? Mungkin dia playboy, tapi apa peduli? Lagipula kita menikah bukan karena cinta.’
Yunita membuang semua rasa tidak nyaman itu dan mulai mengisi formulir. Setelah petugas menerima dokumen mereka dan menyerahkan akta nikah, perasaan lega mengalir dalam dada Yunita.
“Sekarang tak ada lagi yang bisa mengancamku lewat pernikahan,” katanya sambil tersenyum melihat akta nikah.
Tiba-tiba ponselnya berdering. Melihat nomor panggilan masuk, wajah Yunita berubah.
Ia mengambil telepon dan berjalan ke samping untuk menjawab.
“Halo, Kakek Hendra, ada apa?” suara Yunita terdengar hangat.
Jika Reza membuatnya jijik, kakeknya masih memberi kesan ramah, sebab dialah yang mengatur pernikahan mereka.
Dari ujung telepon terdengar suara ceria Kakek Hendra, “Yunita Santoso, kudengar kamu sudah pulang dari luar negeri. Kenapa tidak mampir bertemu aku? Aku rindu kamu. Besok aku akan mengadakan jamuan keluarga, datanglah, aku akan mengenalkanmu pada Paman kedua Reza.”
Ucapan Kakek Hendra membuat Yunita terdiam. Ia tahu kakek sangat berharap pernikahan dengan Reza terjadi, tapi itu sudah mustahil. Dan pernikahan kilatnya belum diberitahu siapapun.
“Aku akan datang, Kakek,” jawab Yunita sembari berencana memberitahu keadaan sebenarnya nanti.
Setelah menutup telepon, Yunita merasa ada yang mendekat di belakangnya. Saat berbalik, ia melihat Yanuar.
“Ada apa lagi, Pak Hendra?” tanya Yunita.
Yanuar mengangkat bahu, tetap dengan senyum santainya yang memesona, “Aku cuma ingin ingatkan, Nona Santoso, apakah kamu masih ingat janji kita tadi?”
