Bab [2] Apakah Kamu Putri Disney?

Yunita Santoso terdiam sejenak saat mendengar Yanuar Hendra menyebut soal kesepakatan itu. Namun, tak butuh waktu lama baginya untuk kembali fokus.

Matanya menatap tajam ke arah Yanuar Hendra, lalu bertanya, “Selama masa pernikahan ini, kita tidak boleh mencampuri urusan pribadi masing-masing, sampai tiga tahun perjodohan selesai, baru kemudian kita bercerai? Tentu aku ingat itu. Ada lagi yang ingin kamu tambahkan?”

Yanuar mengangguk pelan sambil tersenyum, “Aku cuma mau nambahin satu hal—semoga kamu nggak jatuh cinta sama aku. Soalnya aku memang pria yang sangat memesona.”

Ucapan Yanuar membuat Yunita melotot setengah kesal. Dia tak menyangka pria ini bisa sebegitu narsisnya. Memang sih, dia cukup tampan, tapi Yunita bukan tipe wanita yang gampang tertarik hanya karena penampilan.

“Tenang saja, aku nggak akan jatuh cinta padamu kok,” jawab Yunita dengan tatapan serius menantang mata Yanuar.

Yanuar membalas pandangan itu, berusaha membaca apakah dia sedang berbohong. Saat melihat ketulusan di mata Yunita, alisnya sedikit berkerut.

‘Apa daya tarikku mulai pudar?’ pikir Yanuar ragu. Dulu, cukup dengan jari telunjuk digerakkan, banyak wanita cantik langsung menghampirinya.

“Tapi ya sudah, sekarang akta nikah sudah turun, kita bisa pisah jalan. Sampai jumpa,” ujar Yunita sambil hendak pergi, tapi tiba-tiba lengannya ditarik oleh Yanuar.

“Ada apa lagi?” tanya Yunita dengan nada kesal. Rasanya pria ini terlalu cerewet.

Senyum tipis kembali muncul di bibir Yanuar saat ia menatap Yunita dan berkata, “Pernikahan kita pada dasarnya adalah sebuah drama. Kalau sudah drama, harus diperankan sampai akhir. Jadi, izinkan aku bertemu orang tuamu, ya?”

Kata-kata itu membuat Yunita terpaku. Nalurinya langsung menolak, namun kemudian dia berpikir: kalau nanti juga ketahuan orang tua, lebih baik hari ini dia masih punya keberanian untuk jujur.

“Baiklah, tapi siap-siap saja kena marah ya, mereka mungkin nggak akan menerima kamu dengan baik,” Yunita mengangkat bahu, lalu menarik Yanuar masuk mobil dengan ekspresi terkejut.

Dalam perjalanan menuju rumah Yunita, Yanuar akhirnya paham alasan kenapa gadis itu buru-buru menikah. Keluarganya memaksanya menikah dengan pria yang tak dicintainya, jadi dia memilih nikah kilat sebagai bentuk protes.

‘Benar-benar anak perempuan pemberontak,’ gumam Yanuar sambil menggelengkan kepala. Tapi bagi dia, dengan latar belakang seperti dirinya, semua masalah pasti bisa diselesaikan.

Namun, Yanuar belum tahu bahwa calon suami Yunita kelak akan sangat berhubungan dengannya.

Sesampainya di rumah Yunita, Yanuar bertemu orang tua Yunita. Ia berniat menyapa, tapi tiba-tiba kedua orang tua Yunita datang menghadangnya dan langsung menunjuk hidung putrinya sambil memarahi.

Ayah Yunita, Agus Santoso, dengan suara marah bertanya, “Kenapa kamu bikin Reza marah? Kenapa dia sampai menelepon kami supaya mengawasi kamu?”

Ibu Yunita, Indira Santoso, menggenggam tangan Yunita dengan cemas, “Apakah kalian bertengkar? Tak apa-apa kok, dalam dunia asmara nggak ada benar atau salah, asal kamu minta maaf, pasti dia akan memaafkanmu.”

Yunita merasa sangat terluka. Kekecewaan dalam percintaan saja sudah berat, kini sikap orangtuanya malah semakin membuat hatinya dingin.

“Ibu, ini bukan soal minta maaf. Kalian tahu apa yang dia inginkan dariku? Dia ingin aku memberikan satu ginjal untuk menyelamatkan Sari Santoso. Wanita yang benar-benar dia cintai adalah Sari. Dia menggunakan pernikahan ini sebagai ancaman agar aku sukarela mendonorkan ginjal,” kata Yunita sambil matanya mulai berkaca-kaca. Ini adalah usaha terakhirnya; dia yakin jika bicara jujur, orang tuanya akan mendukungnya.

Mendengar itu, wajah orang tua Yunita berubah. Namun, yang membuat Yunita makin putus asa justru terjadi selanjutnya.

“Anakku, itu cuma satu ginjal saja. Lagipula Sari itu sepupumu sendiri. Menyelamatkan keluarga sendiri mestinya tidak sulit kan? Jangan lupa, demi mengembalikan kehormatan keluarga kita, kita perlu dukungan mereka,” ujar Agus dengan nada tegas.

“Iya, Nak. Itu hanya satu ginjal. Keluarga mereka pasti akan menyediakan dokter terbaik. Operasinya pasti aman,” Ibu Indira merangkul tangan Yunita dan mencoba meyakinkan dengan penuh harap.

Mata Yunita dipenuhi keputusasaan. Saat itu, ia merasa sangat dingin dan sendirian.

Di belakang Yunita, Yanuar mengusap-usap telinganya, memastikan tidak salah dengar.

“Kalian benar-benar orang tuanya? Apa mungkin dia anak angkat dari luar? Bisakah seorang orang tua berkata seperti itu? Memaksa anak sendiri melepas ginjal demi menyelamatkan rival cintanya, lalu memaksa menikah dengan pria yang tak dicintainya,” bentak Yanuar, berdiri di depan Yunita dengan ekspresi terkejut menatap kedua orang tua itu.

“Siapa kamu?” tanya Agus dengan alis berkerut.

Yanuar memperbaiki kerah bajunya, mengangkat dagu dengan percaya diri, “Perkenalkan, saya suaminya Yunita Santoso. Kami baru saja resmi menikah.”

Wajah orang tua Yunita berubah kaget, lalu berganti menjadi marah.

“Yunita Santoso, ini maksudnya apa? Kamu sudah dijodohkan, kenapa tiba-tiba menikah dengan pria ini? Apakah kamu ingin menghancurkan nama baik keluarga kita?” seru Agus, mengacungkan tangannya hendak menampar wajah Yunita.

Tangan Agus belum sempat turun, sudah dicegah oleh genggaman kuat Yanuar.

“Kalau punya orang tua seperti kalian, sungguh malang nasibnya,” ucap Yanuar tanpa senyum, tatapannya menusuk ke arah Agus.

Meski hubungan Yanuar dan Yunita belum ada rasa cinta, secara hukum Yunita adalah istrinya. Tindakan Agus sama saja menghina Yanuar.

Agus mencoba melepaskan tangan, tapi genggaman Yanuar seperti capit baja. Tatapan Yanuar membuat tubuh Agus merinding, seolah-olah membawa aura mengancam.

Tiba-tiba seseorang menepuk pundak Yanuar. Ia menoleh dan melihat Yunita menangis sambil menggeleng.

“Ayo pergi, aku tidak ingin tinggal di sini lagi,” kata Yunita tanpa menoleh ke orang tuanya, lalu berjalan menjauh.

Tatapan dingin Yanuar menyapu kedua orang tua Yunita. Dengan dingin, ia melepaskan genggaman tangan Agus dan mengikuti Yunita keluar.

Setelah meninggalkan vila keluarga Yunita, gadis itu duduk termenung di dalam mobil, matanya kosong menatap kaca depan.

Tangannya erat menggenggam kemudi, air mata terus mengalir dari sudut matanya.

Yanuar duduk di kursi penumpang, merasa iba pada istri barunya yang baru dikenalnya hari itu.

“Kamu putri Disney, ya? Kok nasibmu tragis banget begini?” tanya Yanuar.

Yunita tersenyum pahit, “Semua putri Disney akhirnya menemukan cinta sejati. Sedangkan aku, bahkan nasibku saja tidak bisa kuatur sendiri. Aku nggak tahu lagi buat apa hidup ini.”

Alis Yanuar terangkat, perlahan dia mengambil kunci mobil dari posisi pengemudi.

Dengan serius, ia berkata, “Tenang dulu, aku belum mau mati.”

Bab Sebelumnya
Bab Selanjutnya