Bab [4] Putri Juga Bisa Menjatuhkan Musuh ke Jurang

Reza Hendra sangat marah karena Yunita Santoso tidak mengangkat teleponnya. Di sampingnya, Sari yang mengenakan baju pasien mendorong kursi roda mendekati Reza Hendra.

“Kak Reza, tolong jangan salahkan Kak Yunita, ya. Bagaimanapun juga aku yang dulu mengkhianatinya, merebut pria yang sangat dicintainya. Dia pasti sangat sedih dan kecewa, makanya dia enggan mengangkat teleponmu,” kata Sari dengan wajah penuh kesedihan sambil menggenggam tangan Reza Hendra.

Reza Hendra menyentuh wajah Sari dengan lembut, matanya penuh kasih sayang menatapnya, lalu berkata, “Ini bukan salahmu. Aku sebenarnya tak pernah menyukai wanita itu. Perjodohan kami hanyalah keputusan paksa dari kakek. Orang yang benar-benar kusuka adalah kamu. Setelah kamu selesai menjalani transplantasi ginjal, aku akan menemui kakek dan menjelaskan semuanya secara langsung. Saat itu aku akan menikahimu.”

“Terima kasih, Kak Reza,” ucap Sari sambil meneteskan air mata haru di sudut matanya.

Reza Hendra meraih tangan Sari dan memeluknya erat. Namun, dia tidak menyadari tatapan jahat tersembunyi dalam mata Sari yang berlinang air mata.

‘Sialan kau Yunita Santoso! Kenapa kamu belum mati saja? Kalau bukan karena kamu, aku sudah menikah dengan Reza Hendra sejak lama. Mana mungkin aku kalah sama kamu? Setelah rencanaku berhasil, aku pastikan kau akan mati di meja operasi,’ pikir Sari dengan penuh dendam.

Saat itu, Yunita Santoso masih belum tahu bahwa konspirasi terhadap dirinya segera dimulai.

Dia bermimpi menjadi seorang putri malang yang diselamatkan oleh pangeran misterius yang wajahnya tidak terlihat jelas.

Ketika Yunita terbangun, pagi telah tiba.

Petugas datang tepat waktu dan membantu Yanuar Hendra serta Yunita turun.

“Tidur di atas jaring besar seperti ini memang nggak senyaman tidur di kasur, ya,” ucap Yanuar Hendra sambil meregangkan badan dan melihat ke arah Yunita.

“Nah, kamu mau pergi ke mana sekarang? Gimana kalau aku antar beli HP baru dulu?” tawar Yanuar.

Yunita menggeleng. “Nggak usah, aku masih punya HP lama di rumah sahabatku. Bisa pakai itu saja.”

Yanuar mengangguk dan meletakkan kunci mobil di depan Yunita. “Kalau begitu, sepertinya kamu sudah nggak ada niat bunuh diri lagi, jadi aku percaya kamu bisa nyetir pulang sendiri.”

Yunita membalikkan bola matanya. Kemarin hampir saja dia merasa nyawanya melayang.

“Baiklah, kita berpisah di sini saja,” katanya sambil mengambil kunci mobil tanpa sedikit pun berniat mengantar Yanuar pulang.

Tiba-tiba suara Yanuar terdengar dari belakang. “Kamu nggak pengen balas dendam? Putri Disney sejati pasti bakal menghancurkan rencana jahat para penjahat sampai mereka jatuh ke jurang!”

Langkah Yunita terhenti. Dia diam beberapa detik, kemudian menoleh tanpa mengacungkan tangan. “Aku tahu, kok. Makasih udah ngingetin.”

Yanuar hanya bisa menatap kepergian Yunita. Dengan kekuasaannya, dia memang mudah sekali menyelesaikan masalah ini untuk Yunita, tetapi dia masih punya urusan lain.

Setelah menunggu sebentar, sebuah Rolls-Royce meluncur mendekat. Seorang sopir dengan hormat mengajak Yanuar masuk ke mobil.

“Tuan Muda, sopir tabrakan tadi sudah meninggal. Jejak kita terputus,” ujar sopir bernada dingin sambil mengemudi.

Tatapan Yanuar berubah dingin, senyuman sinis muncul di bibirnya. “Baru balik luar negeri sudah dapat hadiah sebesar ini. Kalau aku nggak balas, nanti dikira aku kurang ajar dong?”

Sopir tetap diam karena tahu rencana Tuan Muda harus dirahasiakan sampai pelaksanaan.

“Oh iya, Tuan Muda, Pak Tua suruh saya ingatkan jamuan keluarga malam ini,” tambah sopir.

“Saya tahu,” jawab Yanuar singkat.

Di sisi lain, Yunita mengendarai mobil menuju rumah sahabatnya, Nabila Rahma.

Begitu melihat Yunita, Nabila langsung cemas. “Kemarin malam kamu ke mana sih? Aku telpon terus nggak nyambung, sampai deg-degan banget.”

Melihat ekspresi khawatir Nabila, hati Yunita terasa hangat. Mungkin ini satu-satunya orang yang benar-benar peduli padanya di dunia ini.

“Nggak apa-apa, HP-ku kemarin rusak. Kamu ambilkan HP lamaku, ya,” pinta Yunita.

Setelah Nabila menemukan HP lama dan memasang kartu SIM, layar itu langsung dipenuhi panggilan tak terjawab.

Sebagian besar dari orang tua Yunita dan lebih banyak lagi dari Reza Hendra.

Memandang nama Reza di layar, rasa jijik menyelinap di mata Yunita. Pikiran tentang ucapan Yanuar juga muncul.

‘Betul kata Yanuar. Kenapa aku harus tahan diperlakukan buruk? Aku harus balas dendam pada bajingan dan brengsek itu!’ tekad Yunita dengan tangan terkepal erat.

Tiba-tiba Nabila berteriak kaget, “Eh, kamu nikah, ya? Pria ini ganteng banget, siapa dia?”

Tas Yunita jatuh lantaran tidak tertata rapi. Saat Nabila mengambil tas itu, dia menemukan surat nikah di dalamnya.

“Namanya Yanuar Hendra, pegawai biasa di sebuah perusahaan,” jelaskan Yunita sambil menghela napas. Meski Reza busuk, Yanuar juga tampaknya bukan orang baik-baik.

Siapa pula yang baru menikah malah langsung membawa istri ke proyek berbahaya seperti itu?

“Sayang, ya. Kalau dia sepupu Reza. Pasti asik bisa ngejek Reza sebagai senior,” celetuk Nabila dengan nada menyesal, dia tahu kondisi asli Yunita.

HP Yunita berbunyi lagi, kali ini bukan dari Reza, melainkan Kakek Hendra.

Setelah tersambung, kakek memberitahu waktu pasti acara jamuan keluarga dan berharap Yunita hadir.

Usai menutup telepon, Yunita menghela nafas panjang.

Nabila menangkap kegelisahan Yunita dan bertanya, “Kamu takut setelah cerita ke kakek, kesehatannya jadi drop kan?”

Yunita mengangguk. “Aku akan cari waktu yang tepat buat bilang, tapi acara jamuan keluarga jelas bukan tempatnya.”

“Nampaknya kamu tegang banget. Mau aku temani?” tanya Nabila.

“Aku akan selesaikan sendiri,” jawab Yunita menolak bantuan.

Yunita tidak tahu bahwa suami nikah kilatnya juga akan hadir di jamuan keluarga itu.

Hotel Samudra Biru.

Di ruang VIP mewah hanya duduk beberapa orang. Posisi utama ditempati kepala Keluarga Hendra, Kakek Hendra. Di sebelah Pak Tua duduk seorang pria, itulah suami nikah kilat Yunita, Yanuar Hendra.

Kalau Yunita berada di sana saat itu, pasti dia akan tercengang mendengar percakapan beberapa orang, sebab Yanuar memanggil Kakek Hendra dengan sebutan paman.

Bab Sebelumnya
Bab Selanjutnya