Kampung halaman

Jika hanya ada satu kebahagiaan yang tersisa untukku di tempat ini, maka aku akan bertahan dan terus hidup


Lancaster, Inggris, 10 Juni 2019

"Huh- " Lucia menghela napas, tak pernah menyangka dirinya akan tiba di tempat ini. Tempat yang sudah hampir 12 tahun tak dikunjunginya, tempat di mana ia dilahirkan dan dibesarkan sebagai gadis nakal yang tampak seperti anak laki-laki.

Dia menyimpan selembar kertas yang ditulisnya malam itu, sehari sebelum pesawat yang membawanya terbang ke tempat ini. Kegelisahan, ketakutan, kesedihan, semua perasaan bercampur aduk.

Dulu, dia pergi tanpa sepatah kata pun, meninggalkan orang-orang yang dicintainya karena terlalu takut untuk mengucapkan selamat tinggal. Apa yang harus dia katakan saat bertemu mereka lagi?

Drrtt...drrtt...

Ponsel Lucia bergetar, sejak tiba di kota ini, dia belum membuka ponselnya sama sekali dan memeriksa pesan yang masuk.

"Mengapa kamu pergi tanpa memberitahuku?" Itulah isi pesan yang pertama kali dibacanya. Lucia menghela napas, mencoba menenangkan hatinya sebelum benar-benar mengetik pesan untuk ibunya.

"Maaf, Bu. Tapi aku sudah mengatakannya beberapa minggu lalu. Aku akan tinggal di Inggris dan mencoba mencari pekerjaan di sini," dia membaca pesan itu terlebih dahulu sebelum mengirimkannya.

Lima menit menunggu, tapi tidak ada balasan. Dia kembali menyimpan ponselnya di saku jaket yang dikenakannya.

"Kita turun di sini, Nona?" Tanya sopir taksi yang membawanya ke Jalan Nothingville.

"Ah...benar, saya turun di sini!" Lucia segera turun dari taksi dengan sopir yang membantu mengeluarkan koper berisi pakaian yang dibawanya dari Louisiana.

"Tidak ada yang tertinggal?"

"Kurasa tidak, terima kasih banyak!"

"Sama-sama, permisi!" Ucapnya sambil berlalu.

Lucia menarik napas dalam-dalam, matanya menatap setiap sudut tempat yang sudah akrab baginya. Di seberang jalan, tempat di mana dia dan teman-temannya bermain, Taman Rottenbir. Tidak banyak yang berubah dari taman penuh kenangan ini.

Dari taman ini, dia harus berjalan 100 meter menuju rumah, tempat dia, ayah, ibu, dan kakak perempuannya, Alexa, tinggal. Namun kali ini, dia tidak akan kembali ke rumah itu. Ya, tentu saja karena itu bukan rumahnya lagi. Rumah itu dijual ketika mereka pindah ke Louisiana, Amerika 12 tahun yang lalu.

Tiga wanita lewat dan memberinya pandangan bingung. Mungkin, dalam pikiran mereka bertanya-tanya, "Siapa wanita dengan koper besar itu?"

Merasa canggung, Lucia membalas tatapan mereka dengan senyum kecil, lalu berjalan secepat mungkin menuju rumah tempat dia akan tinggal sementara.

Sekitar 50 meter dari Taman Rottenbir, sebuah rumah besar yang tampak tua dengan papan bertuliskan 'kamar untuk disewa' dan rumah ini, tempat terdekat yang bisa dia tinggali sementara.

Lucia berdiri di depan pagar tua dengan cat yang mengelupas. "Permisi!" Serunya, mencoba mendapatkan bantuan dari seseorang di sana.

Sunyi, tidak ada jawaban. Sekali lagi, Lucia mengeluarkan suaranya dan berteriak, "Permisi...!" Dan masih tidak ada jawaban.

"Apakah rumah ini kosong? Sepertinya tidak meyakinkan dari penampilannya. Tapi bukankah ada dua wanita yang tinggal di sini?" Pikirnya. Namun, Lucia tidak boleh menyerah sebelum benar-benar memastikan, benar-benar tidak ada orang di rumah ini.

"Permisi! Ada orang?" Sepertinya, Lucia terpaksa mencari rumah lain yang bisa disewanya sementara.

Namun, ketika kakinya mulai melangkah. Suara langkah kaki terdengar dari dalam rumah. Dia berbalik, seorang wanita paruh baya keluar tergesa-gesa sambil mengatakan sesuatu, tampak marah pada seseorang, entah siapa.

"Ya, ada yang bisa saya bantu?" tanya wanita itu. Lucia ingat betul wajah wanita ini, dia adalah bibi yang dulu bekerja di restoran burger dekat pusat perbelanjaan. Dulu, Lucia dan 'Geng Nothingville' sering nongkrong di restoran itu berjam-jam.

"Bu Joana?"

"Kita saling kenal?" tanya wanita itu bingung.

"Saya Lucia Peterson yang dulu tinggal di depan Danau Biru Milliam!" katanya. Ya, dulu Lucia sangat menyukai rumahnya. Rumah yang baginya sangat nyaman dan indah, 20 meter di belakang rumah, ada danau kecil yang airnya sangat jernih dan dikelilingi oleh pohon-pohon dan ladang bunga pansy.

Dulu, Lucia dan Geng Nothingville sering berenang di danau itu, terutama saat musim panas. Daripada berenang di kolam renang Bryan, berenang di danau jauh lebih menyenangkan.

"Lucia? Lucia yang sering berkelahi? Yang sering nongkrong berjam-jam di restoran burger? Yang pernah ketahuan mencuri cokelat di minimarket?" kata wanita itu dengan yakin.

"Kenapa yang diingat hal-hal buruk?" pikirnya sambil menunjukkan senyum pahit.

"Hahaha...betul sekali!"

"Hah? Kamu Lucia?" Wanita itu tampak tidak percaya pada kenyataan yang tampak begitu mustahil baginya, mengingat wanita muda yang berdiri di depannya saat ini sangat cantik, dengan kulit putih, rambut hitam bergelombang, dan bentuk tubuh yang indah.

Wanita itu memandang Lucia dari ujung kaki hingga ujung rambutnya, dengan mata melotot yang nyaris tidak berkedip.

"Kalau tidak salah, nama Anda Bu Joana, bukan?"

"Iya betul, wow...kamu masih ingat namaku? Ayo, silakan masuk!" katanya yang akhirnya mengizinkan Lucia yang kelelahan untuk masuk ke rumahnya.

"Saya hampir tidak percaya bahwa kamu adalah Lucia yang dulu tomboy, kamu sudah berubah banyak!"

"Hahaha...mungkin karena saya sudah dewasa sekarang! Uhm...apakah Anda tinggal sendiri?"

"Tidak, saya tinggal dengan ibu saya. Apakah kamu masih ingat Nenek Maria? Yang sering memarahi kamu dan gengmu saat kalian bermain terlalu berisik! Ayo, silakan duduk!"

"Ah...terima kasih! Tentu saya ingat, di mana dia?"

"Dia ada di kamar, karena sudah terlalu tua, pendengarannya sedikit terganggu. Kalau kamu ingin bicara dengannya, kamu harus keras, baru dia bisa mendengar. Bukankah kamu pindah ke Amerika? Bagaimana kabar ayah dan ibumu?"

"Ya, kami tinggal di Louisiana. Ayah dan ibu saya baik-baik saja. Sekarang saya berniat mencari pekerjaan di sekitar sini, bolehkah saya menyewa kamar di rumah Anda?"

"Kenapa kamu ingin bekerja di sini? Bukankah di Amerika lebih baik?"

"Ya, saya ingin suasana baru, sekaligus mencari inspirasi untuk buku yang saya tulis,"

"Begitu ya? Kalau kamu mau, kamu bisa tinggal di lantai dua. Ada kamar yang cukup besar dan ada kamar mandinya juga. Mungkin sekarang sedikit kotor karena digunakan sebagai gudang. Sudah lama tidak ada yang menyewa kamar, jadi saya jarang membersihkannya."

"Tidak apa-apa, nanti saya bersihkan sendiri. Berapa yang harus saya bayar untuk sewa satu bulan?"

"Kamu tidak perlu memikirkannya, bayar saja seikhlasnya. Lagipula, rumah sebesar ini hanya dihuni dua wanita tua, rasanya sangat sepi."

"Terima kasih banyak, Bu Joana!"

"Tidak perlu terima kasih! Ayo, kita bersihkan bersama, setelah itu kamu bisa langsung istirahat!"

"Baik!"

Bab Sebelumnya
Bab Selanjutnya