Bab seratus tiga puluh empat

Jakarta

Aroma tembaga menyergapku sebelum aku membuka mata. Aku memejamkan mata erat-erat, enggan membukanya. Kenangan tentang bagaimana aku berakhir di sini perlahan muncul di benakku. Aku ingat minum kopi dengan Jenna, lalu merasa sangat lemah. Kesadaranku akan apa yang terjadi mulai muncul. Aku ...

Masuk dan lanjutkan membaca