PASAL 166

ALEXANDER

"Baik," bisiknya.

Satu kata.

Satu napas.

Dan itu cukup untuk memutuskan benang terakhir yang kupegang.

Aku tidak berpikir.

Aku hanya bergerak.

Tanganku mencengkeram pinggulnya—keras, posesif—mengangkatnya dari tanah dalam satu gerakan brutal.

Kakinya melingkari pinggangku seket...

Masuk dan lanjutkan membaca