PASAL 168

“ALEXANDER”

“Sekarang,” suaraku serak, gelap, mataku mengunci matanya, “kamu dapat kontolku.”

Napasnya tersendat—tajam, butuh—matanya membesar, tatapannya jatuh ke bawah, ke tempat tanganku masih mencengkeram tonjolan tebal yang menegang di balik celana.

Aku mengusap sekali—pelan, sengaja—membiar...

Masuk dan lanjutkan membaca