Bab 1
POV Liana
Aku tak pernah membayangkan akan terbangun tanpa sehelai benang pun di ranjang yang asing, dengan seorang pria—yang jelas-jelas terlalu tampan untuk disebut kebetulan—terbaring di dekatku. Tenggorokanku serasa mengering. Aku menelan ludah, memaksa otakku mengais-ngais ingatan tentang apa pun yang terjadi semalam.
Tapi kepalaku kosong.
Aku memejamkan mata rapat-rapat, berharap semua ini cuma mimpi buruk yang bisa hilang kalau aku buka mata lagi. Namun ketika kelopak mataku terangkat, sepasang mata biru sedingin es menatap balik.
Aku menjerit. Suaraku memantul di dinding-dinding kamar yang sunyi, menamparku dengan kenyataan betapa aku benar-benar tersesat.
Siapa pria ini? Bagaimana aku bisa sampai di sini?
Aku menoleh ke sekeliling dengan jantung berdegup tak karuan, mencari tanda sekecil apa pun—petunjuk, benda, apa saja—yang bisa membantuku memahami bagaimana aku berada di titik ini.
Tapi pikiranku cuma terpaku pada kemarin. Sehari sebelum semuanya berantakan.
Sehari Sebelumnya
Aku melangkah masuk ke kamar Eric dengan jantung yang berdebar menahan harap. Aku ingin menghabiskan ulang tahunku yang kedelapan belas bersama satu-satunya orang yang selama ini membuatku merasa dicintai dan benar-benar dilihat, di dunia yang sejak lama memperlakukanku seolah aku tak pernah ada. Aku sudah terbiasa menghadapi tatapan sinis dan bisik-bisik merendahkan dari semua orang di pack-ku—mereka memandangku tak lebih dari beban.
Tapi Eric berbeda. Dia selalu membuatku merasa istimewa, seakan aku sesuatu yang pantas dijaga. Dan karena itu, aku siap memberikan apa pun padanya.
Pagi itu sebenarnya dimulai dengan rasa optimis yang jarang mampir. Meski aku sering merasa seperti orang asing dalam hidupku sendiri, tetap ada nyala kecil yang membuatku bertahan. Bosku bahkan mengizinkanku pulang lebih cepat—mungkin dia bisa melihat betapa aku butuh jeda dari beban hari-hari yang melelahkan.
Dengan senyum yang kupaksakan tetap hidup, aku bergegas ke tempat Eric. Antusiasme menggelembung di dadaku. Aku tak sabar melihatnya, merayakan ulang tahunku bersama. Aku sudah menyiapkan hadiah untuknya—sesuatu yang personal, sesuatu yang bermakna.
Namun begitu aku sampai, rasa manis itu langsung berubah pahit.
Aku terpaku di ambang pintu, mataku membeku menatap pemandangan di depanku. Eric—pria yang kukira kucintai, pria yang paling kupercaya—terbelit di balik selimut bersama seorang perempuan lain. Mereka sama-sama telanjang, tubuh mereka bergerak serasi, ritme yang begitu nyata sampai menusukkan rasa sakit tajam ke dadaku.
Suara si perempuan meledak dalam protes pura-pura. “Eric, berhenti! Nanti ada yang dengar,” katanya sambil tertawa, jelas menikmati situasi itu.
Apa yang kulihat mustahil. Otakku menolak menerima. Eric selalu bilang dia mengerti aku, mendukungku dengan cara yang tak pernah orang lain lakukan. Namun sekarang… dia ada di sini, dengan orang lain.
“Biarin aja,” kata Eric, tangannya mengerat di pinggang perempuan itu ketika dia menekan lebih dalam. “Aku nggak bisa nolak kamu.”
Tawa mereka, desah puas mereka, terdengar seperti ejekan kejam atas semua yang kupikir kukenal tentang hubungan kami. Aku ingin berteriak, ingin memaki, ingin lari dan tak pernah menoleh lagi. Tapi tubuhku membatu—terkunci oleh syok dan pengkhianatan.
“Eric,” bisikku pelan, suaraku bergetar.
Aku bahkan tak yakin dia mendengarku. Dan aku tak yakin aku masih peduli.
Hatiku seperti pecah berkeping-keping saat aku berbalik dan lari. Langkah kakiku menggema dalam kesunyian lorong saat aku menjauh dari pria yang dulu pernah kutitipkan hatiku.
Seharusnya aku sudah tahu ini akan datang.
Hidupku selalu seperti rangkaian panjang kekecewaan. Ayahku—Alpha Raymond dari Blackhide Pack—tak pernah repot menyembunyikan rasa jijiknya padaku. Dia membenci kenyataan bahwa aku lahir sebagai perempuan. Ibuku, seorang omega biasa, cuma dijadikan rahim pengganti bagi Raymond dan istrinya yang terobsesi punya pewaris laki-laki. Raymond mengambilku dengan setengah hati setelah ibuku meninggal, tapi baginya aku hanya pengingat yang terus-menerus tentang kehilangan—dan tentang kegagalan yang tak ia maafkan.
Aku selalu dianggap lemah dan tak penting karena aku omega tanpa serigala. Setiap hari ayah bilang aku bukan pewaris yang dia harapkan. Ibu tiriku—istrinya—membenciku hanya karena aku masih ada di rumah itu. Aku dibesarkan seperti pembantu dan harus menelan ejekan serta hinaan tanpa henti. Sejak kecil aku diajari bertahan, menelan sakit, dan menyembunyikan penderitaan.
Pelukan Eric satu-satunya tempat yang pernah memberiku rasa aman. Cuma dia yang membuatku merasa berarti.
Aku ingin memberikan semuanya pada ulang tahunku yang kedelapan belas. Untuknya. Sayangku. Kepercayaanku. Keperawananku. Namun sekarang semuanya hancur. Semuanya hancur.
Aku menyeberang jalan dengan pipi basah. Aku tak punya siapa-siapa untuk kutuju, tak punya tempat untuk pulang. Sakit itu menindih, mencekik. Aku terus berjalan karena aku benar-benar tak tahu harus bagaimana, harus ke mana.
Saat itulah Veronica melihatku.
Kakak tiriku yang lebih tua tiba-tiba muncul, mata tajamnya menyapu wajahku yang penuh jejak air mata dan tatapan mataku yang pecah. Tanpa sepatah kata pun, dia menarikku ke dalam pelukannya. Cara menghiburnya memang selalu begitu—sunyi, tapi terasa.
Dengan caranya sendiri, Veronica selalu berada di pihakku. Meski dia tak mengalami hal yang sama persis, dia tahu kerasnya ayah dan tekanan keluarga yang menekan kami.
Dia tak menanyakan apa yang terjadi. Dia tak perlu. Dia mengerti.
“Ayo,” bisiknya pelan, lembut tapi tegas. “Kita keluar dari tempat ini.”
Aku tidak membantah. Setengah seperti melayang, tak tahu ke mana dia membawaku, aku membiarkan dia menuntun. Saat kami memotong gang, cahaya lampu mobil yang melaju cepat sempat menyambar pergelangan tangan Veronica.
Dan saat itu aku menangkap sesuatu yang aneh.
Dia memakai jam yang sama seperti yang dipakai perempuan di ranjang Eric.
Darahku serasa membeku. “Itu… jam yang sama, Veronica?”
Keraguan sekejap melintas di matanya. Tergesa, dia menurunkan lengannya, menyembunyikan jam itu. Dengan santai yang dibuat-buat, dia bertanya, “Maksud kamu apa?”
“Jam model begini bisa saja ada sejuta,” katanya cepat, seolah ingin menutup pembicaraan. “Nggak penting.”
Tapi rasa ganjil itu tak mau pergi. Aku tak bisa menunjuk penyebab pastinya, hanya… ada sesuatu yang menggores di dalam dada. Sebelum aku sempat mendesaknya lagi, Veronica tertawa kecil—tawa tipis yang terasa palsu.
“Udah, jangan dipikirin,” katanya, nadanya mendadak ceria. “Hari ini ulang tahun kamu. Kamu pantas bersenang-senang. Aku punya rencana buat bikin kamu lupa semuanya: girls’ night. Jangan mikirin Eric. Anggap aja nggak ada apa-apa.”
Aku membiarkan diri ditarik, mencoba mengabaikan kegelisahan yang terus menempel, meski aku sendiri tak yakin harus percaya apa. Namun rasa aneh yang menyeramkan itu justru makin kuat saat malam kian larut.
Diiringi dentuman musik, kami masuk ke sebuah klub di dekat situ. Dan di sudut ruangan, aku melihat wajah yang terasa… familiar.
Seorang pria berdiri di sana, bagian wajahnya tenggelam dalam bayangan. Tapi cara dia menatapku membuat bulu kudukku meremang. Aku berhenti mendadak.
“Itu… itu siapa?” suaraku nyaris hilang.
Wajah Veronica tak terbaca saat dia menoleh sekilas.
“Abaikan,” katanya singkat. “Kita senang-senang aja malam ini.”
Tapi aku punya firasat malam ini baru saja dimulai. Dan segala sesuatu akan berubah karena apa yang menungguku.
