Bab 2

Hati Rani serasa jatuh sampai ke dasar yang paling gelap.

Mereka seharusnya keluarga, tapi sekarang jarak di antara mereka terasa nyata—bukan cuma soal langkah yang memisahkan, melainkan jurang emosi yang menganga, seolah mustahil dijembatani.

Wajah-wajah di ruangan itu penuh waspada dan curiga. Bahkan Arga sudah melangkah maju, berdiri seakan jadi tameng di depan Laras.

Rani bukan anak kemarin sore. Ia bisa melihat jelas: Laras sudah jadi sosok yang benar-benar disayang dan diutamakan oleh keluarga ini.

Anak angkat itu menerima seluruh kasih sayang yang seharusnya menjadi milik Rani—dari orang tuanya, dari tunangannya, dari semua orang.

Tapi kenapa bisa sampai begini? Dari awal, komplotan itu mengincar Laras, bukan dirinya.

Rani waktu itu tanpa pikir panjang menerjang lelaki-lelaki itu, berteriak menyuruh Laras lari pulang dan telepon polisi minta bantuan.

Kalau Laras benar-benar menelepon polisi, mungkin Rani tidak akan sempat diseret pergi—tapi Laras hanya berbalik dan kabur, bahkan tanpa menoleh sekali pun!

Rani menanggung siksaan dan pelecehan yang tak terhitung jumlahnya menggantikan gadis itu!

Dan sekarang, orang yang jadi penyebab semua penderitaannya justru punya semua yang seharusnya jadi milik Rani.

Mana mungkin ia disuruh menerima itu begitu saja?

Saat itu Laras keluar dari balik badan Arga. Matanya berkaca-kaca ketika ia meraih tangan Rani, suaranya berat oleh sesuatu yang terdengar seperti penyesalan sungguhan.

“Aku minta maaf, Ran. Semua ini salah aku—semuanya! Kamu diculik gara-gara aku, kamu menderita setahun penuh, mengalami perlakuan itu berkali-kali sampai badan kamu nggak kuat dan kamu kena penyakit-penyakit itu. Semua karena aku, dan aku nggak akan pernah bisa maafin diri sendiri. Kalau aku bisa muter waktu, aku lebih baik jadi orang yang diculik, gantian kamu.”

Ia tampak betul-betul dihantam rasa bersalah, tapi di napas yang sama ia baru saja mengukuhkan semua rumor buruk tentang Rani—rumor yang bahkan sebelumnya tidak ada.

Prasangka yang sudah terlanjur tumbuh di hati semua orang kini terasa seperti gunung tak kasatmata yang menindihnya.

Tatapan Rani mendadak sedingin es. Tanpa ragu, ia menarik tangannya lepas dari genggaman Laras.

“Kamu bilang aku punya penyakit. Bukti kamu apa?”

Laras menjerit kecil dan terhuyung ke belakang, lalu jatuh terduduk di lantai.

Rani mengepalkan tangan, tak percaya. Ia bahkan nyaris tidak pakai tenaga.

Kalau bisa, ia ingin mendorong lebih keras. Tapi dalam kondisi tubuhnya yang masih lemah, ia memang tidak sanggup.

Namun bahkan begini pun, keluarganya tetap memilih pihak Laras tanpa pikir panjang.

Apa Laras memang sehebat itu aktingnya? Atau keberadaan Rani memang memalukan buat mereka semua?

Bianca buru-buru menghampiri, membantu Laras bangkit, suaranya penuh kecemasan. “Laras, sayang, kamu sakit di mana? Ada yang kenapa?”

Laras menggeleng pelan saat ditopang berdiri, suaranya tersendat oleh tangis.

“Tolong jangan salahin Rani. Apa pun cara dia memperlakukan aku, aku pantas dapet itu.”

Arga menatap Laras dengan iba yang lembut. “Laras, kamu itu terlalu baik dan terlalu ngerti orang. Makanya orang gampang memanfaatkan kamu. Masa kamu harus jadi pelampiasan dia cuma karena kejadian yang menimpa dia?”

Setelah itu ia memalingkan pandangannya ke Rani, dan rasa jijik di matanya sama sekali tidak ditutup-tutupi.

“Rani, kita ikut prihatin sama semua yang kamu alami, tapi Laras nggak salah apa-apa. Badannya lemah. Baru juga kamu masuk rumah, kamu udah nyerang dia?”

Hati Rani remuk, sampai rasanya tak mungkin disusun kembali.

Mereka cuma bisa melihat “penderitaan” Laras—bukan penderitaannya!

Ia nyaris mati, ia menyeret dirinya pulang dengan susah payah, dan ini sambutan yang ia dapat!

Justru dialah yang paling butuh dipeluk, ditanya kabarnya, dipedulikan—lebih dari siapa pun di ruangan itu!

Rani menahan duka dengan sisa tenaga yang ia punya, lalu menunjuk Laras dengan jari gemetar. “Aku diculik karena aku berusaha nyelametin dia! Kalau dia nurut dan telepon polisi seperti yang aku bilang, mana mungkin aku bisa diseret pergi? Dia nangis sedikit, langsung kalian kasihan—terus aku ini apa buat kalian? Aku ini siapa?”

Suara Rani pecah di ujung kalimat.

Saat ia dicambuk dan disetrum, ia tidak meneteskan satu air mata pun.

Tapi sekarang, matanya panas, dipenuhi air yang mati-matian ia tahan agar tidak tumpah.

“Apa gunanya ngungkit-ngungkit masa lalu sekarang?”

Raka akhirnya nggak bisa menahan diri lagi. Ia menyentak berdiri, suaranya meledak oleh amarah.

“Dulu itu Alya ketakutan setengah mati. Lo kira ada di antara kita yang pengin semua ini terjadi sama kamu? Setahun ini dia hidup dengan rasa bersalah dan penyesalan, sampai sempat coba bunuh diri, urat tangannya disayat. Kamu mau dorong Alya sampai mati dulu baru kamu puas?”

Tubuh Citra bergetar tipis di tempatnya berdiri.

Di matanya bukan cuma sedih—tapi juga tak percaya yang bulat, yang menohok.

Segampang itu? Alya bisa menghapus semua tanggung jawab cuma dengan beberapa gestur penyesalan yang kelihatan di permukaan?

Citra mengepalkan tangan kuat-kuat sampai kuku-kukunya menancap ke telapak.

“Terus kenapa?” Wajah Citra hancur, kosong, seperti habis dikikis putus asa.

“Maksud kalian, sebagai korban, aku bahkan nggak punya hak buat ngomongin kenyataan? Aku anak kandung kalian, dan setelah semua yang aku alami, setelah aku bertahan mati-matian cuma buat bisa pulang… aku nggak nyangka yang aku temuin justru kalian asyik main keluarga bahagia sama orang yang bikin aku menderita!”

Emosi Citra akhirnya jebol. Setiap kata yang keluar berlumur perih yang mentah.

Ledakannya membuat ruang itu jatuh ke dalam sunyi yang canggung, berat, menekan.

Bu Sari menoleh ke arah Citra dengan wajah gelisah, lalu mengembuskan napas pelan. “Citra, kami paham apa yang kamu lewati, tapi ada saatnya kita harus jalan lagi. Kamu nggak bisa terus-terusan nyalahin Alya. Pada akhirnya, yang jahat itu para penjahatnya, kan?”

Bu Sari meneruskan, suaranya seperti ceramah yang sudah diputuskan dari awal.

“Lagipula, kamu sekarang sudah pulang. Harusnya kita fokus kumpul sebagai keluarga. Kalau terus dibahas-bahas, yang ada keluarga kita jadi bahan omongan orang sekampung.”

Citra kehabisan kata.

Ia cuma berdiri, dingin sampai ke tulang, memindai wajah-wajah di sekelilingnya—semuanya memancarkan kejengkelan, jijik yang terang-terangan di mata keluarganya.

Baru saat itu ia sadar: semua mimpi tentang pulang yang ia peluk selama ini cuma membuatnya jadi orang paling bodoh.

Citra memejamkan mata rapat-rapat.

Lalu, dari belakangnya, sebuah suara yang terdengar setengah menertawakan memecah suasana.

“Katanya tamu banyak? Kok pada ngumpul di dekat pintu semua?”

Bima, kakak laki-laki Citra, melangkah mendekat dengan wajah heran. Namun kalimatnya menggantung begitu pandangannya jatuh pada Citra.

Wajah Bima membeku oleh kaget—tanpa setitik pun kegembiraan. “Kok kamu bisa balik ke sini?”

Kata-kata itu menembus Citra seperti pisau tepat ke dada.

Bima dulu orang yang paling dekat dengannya.

Sisa harapan terakhir yang diam-diam masih ia simpan selama ini bertumpu pada satu hal: bagaimana Bima akan menyambutnya.

Tapi sekarang… Citra menelan sakitnya dan memaksa diri menjelaskan.

“Sarang sindikatnya digerebek aparat. Aku diselamatkan.”

Bima seperti baru ingat sesuatu, dan raut wajahnya berubah total.

“Semuanya, mundur sekarang. Bisa jadi dia bawa penyakit menular. Bawa dia ke rumah sakit, periksa lengkap. Jangan ada kontak dulu sama kita sampai benar-benar jelas dia nggak menular.”

Cahaya terakhir di mata Citra padam seketika.

Bima yang dulu paling sayang padanya—sekarang justru memperlakukannya seperti virus berbahaya.

Begitu kata-kata itu keluar, orang-orang di sekeliling langsung mundur, meninggalkan Citra sendirian di tengah ruangan, dikepung permusuhan dari segala arah.

“Alya, badan kamu lemah—di belakang aku saja. Satpam, sini! Antar Citra ke rumah sakit buat pemeriksaan lengkap. Penyakit menular ada masa inkubasinya. Dia harus dikarantina minimal sebulan!”

Dua satpam segera maju, berniat memegang Citra, tapi bayangan soal penyakit menular membuat mereka ragu. Mereka berhenti setengah langkah, saling melirik, tak satu pun berani menyentuhnya langsung.

“Aku nggak punya penyakit menular! Itu bohong!”

Mata Citra memerah saat ia berteriak membela diri.

Ia memang pernah dikurung, tapi kenapa begitu banyak gosip aneh dan bengkok menempel padanya?

Pandangan Citra mendadak menyambar ke arah Alya.

“Kalian nunggu apa lagi? Jalan!” Bima mengulang perintahnya dengan tidak sabar.

Putus asa memenuhi mata Citra sepenuhnya.

Bab Sebelumnya
Bab Selanjutnya