Bab Delapan
POV Kiera
Kujepit kedua tanganku rapat-rapat, saling menggenggam sampai ruas-ruasnya nyeri. Aku tak akan membiarkannya melihat betapa ketakutannya aku hanya karena dia berdiri di depanku. Seluruh isi tubuhku gemetar, tapi aku justru mengangkat dagu dan memaksa wajahku memasang ekspresi menantang.
“Aku mau ketemu Marco. Tolong… kalau masih ada sedikit saja rasa manusia di diri kamu, setidaknya biarkan aku lihat dia.” Suaraku dipenuhi keputusasaan—nada yang kubenci—tapi aku tak sanggup menahannya.
Tatapannya menggelap.
“Sayang sekali, manis,” bisiknya. Suaranya rendah, tapi justru lebih mematikan daripada bentakan. “Kamu belum dengar? Aku bukan manusia.”
Dingin menjalar di tulang belakangku. Tanpa sadar kakiku mundur beberapa langkah, tapi dia langsung menutup jarak itu seakan ruang di antara kami tak pernah ada.
“Hari kamu pergi menemui laki-laki itu, hari itu juga aku akan membunuhnya. Dan itu janji.”
Ancaman itu menggantung seperti vonis. Serius. Terlalu serius. Aku tahu dia tak main-main. Amarah bercampur takut menyembur di dadaku.
“Bagaimana kamu bisa ngomong begitu?” suaraku pecah. “Kamu yang membatalkan pernikahanku sama dia! Kenapa kamu lakukan itu? Aku janji, ayahku nggak membunuh ayah kamu. Aku bukan anak dari orang yang membunuh ayah kamu. Tolong… lepasin aku.”
Baru saja aku marah, detik berikutnya aku menangis. Memohon. Menjijikkan, tapi aku tak punya pilihan.
“Aku tahu kamu anak siapa.”
Suaranya dingin, tanpa celah. Dia melangkah mendekat dengan cara yang membuat udara serasa menipis. Tubuhku gemetar seluruhnya. Aku mundur spontan, tapi dia terus maju sampai betis belakangku menyentuh tepi ranjang. Aku tak punya ruang lagi.
Tangannya mencengkeram rahangku keras, memaksa wajahku menoleh ke kanan, lalu ke kiri, seperti aku barang yang sedang diperiksa.
“Sayang sekali,” katanya pelan, penuh niat buruk. “Wajah cantik ini harus jadi bayaran atas dosa ayahmu… kalau dia nggak cukup sayang sama kamu sampai mau muncul.”
Aku meringis, berusaha memalingkan wajah dari cengkeramannya. Akhirnya dia melepaskanku. Aku menggerakkan rahang, mencoba mengusir rasa ngilu di otot-ototnya.
Dia berhenti sejenak dan menatapku lama.
“Kalau dalam sepuluh menit kamu belum berpakaian dan menemui aku di bawah, aku bisa mulai dengan memotong satu jarimu.”
Refleks, aku menangkupkan tangan ke perut, melindungi jari-jariku seolah itu bisa menghentikannya. Dia mencondongkan badan sedikit, suaranya datar namun tajam.
“Jangan uji kesabaranku. Itu bukan salah satu kelebihanku.”
Lalu dia keluar. Ancaman itu ikut tinggal di udara, menempel di dinding kamar seperti bau logam.
Kakiku mendadak lemas seperti tak bertulang, tenagaku menguap begitu saja. Aku jatuh duduk di ranjang dan menekan dadaku. Mataku panas menahan air yang belum jatuh, dada terasa sesak seperti aliran udara dipersempit. Aku terengah mencari napas.
Apa salahku sampai harus begini?
Dia menghancurkan pernikahanku dengan pria yang mencintaiku sepenuh hati, sementara yang dia berikan padaku hanya penghinaan. Pertanyaan itu terus berdentang di kepalaku: kenapa aku?
Setahuku, aku bahkan belum pernah bertemu dia secara langsung, apalagi menyakitinya. Tapi dia yakin ayahku yang bersalah—dan aku yakin dia keliru.
Saat pintu terbuka dan para pelayan masuk untuk mendandaniku, aku membiarkan mereka melakukan apa pun. Bedak dan riasan menutupi mata bengkakku karena tangis. Ketika mereka selesai, aku menatap diriku di cermin dalam diam. Harus kuakui, mereka bekerja dengan sangat teliti.
Aku tahu aku memang selalu cantik, tapi perempuan yang menatap balik sekarang… benar-benar memukau.
Wajah-wajah mereka menatapku penuh harap, tersenyum seakan menunggu pujian. Sayangnya, aku tidak sedang punya tenaga untuk itu. Aku hanya berhasil bergumam, “Terima kasih.”
Senyum mereka meredup, tampak kecewa. Aku tidak peduli. Di dalam diriku ada luka yang terlalu besar untuk memikirkan perasaan siapa pun.
Aku ditemani Ms Olga menuju aula besar tempat pesta berlangsung. Mulutku hampir ternganga melihat luasnya ruangan itu. Aula sudah penuh orang, tapi aku tak butuh waktu lama untuk menemukan Don Luca.
Auranya tak mungkin salah. Bahkan di tengah keramaian, dia mendominasi. Tubuhnya yang tinggi dan kokoh menarik perhatian seperti magnet—orang-orang menoleh tanpa sadar, tertarik dan takut sekaligus.
Bibirku mengerut marah saat menyadari dia tidak sendirian.
Dia sedang bersenang-senang dengan kekasihnya, Mira. Perempuan itu duduk di pangkuannya, sementara mereka minum dan saling berbisik seolah dunia hanya milik mereka.
Mata-mata penuh rasa ingin tahu menoleh ke arahku ketika mereka melihat aku berdiri di ambang aula.
Apa Don Luca membawaku ke sini cuma untuk mempermalukanku?
Baik. Aku menolak dipermalukan sendirian.
Tanpa berpikir lagi, aku melangkah lurus ke arahnya.
