Bab 1

Laras duduk diam di dalam mobilnya. Tatapannya menembus derasnya hujan, terpaku pada pemandangan yang terpampang di depan mata.

Hujan deras yang mengguyur Jakarta malam itu memukul-mukul kaca depan sedannya. Pandangannya memang mengabur, tetapi tak cukup untuk menyembunyikan pemandangan yang kini tengah mengoyak hatinya.

Tanpa sadar, kedua tangannya mencengkeram setir makin erat hingga buku-buku jarinya memucat.

Di luar restoran mewah itu, suaminya, Satria Wibowo, sedang berciuman panas dengan seorang perempuan muda. Keduanya tampak begitu larut dalam dunia mereka sendiri.

Sempat terlihat perempuan itu seperti kehabisan napas dan mencoba menarik diri, tetapi Satria justru menahan tengkuknya, memperdalam ciuman mereka.

Perempuan itu masih sangat muda. Berbalut blus sifon putih dan celana jin biru muda, wajahnya tampak begitu polos, seperti mahasiswi yang baru saja lulus kuliah.

Saat Satria menelepon tadi, Laras sebenarnya sudah terlelap. Begitu mendengar suaminya terlalu banyak minum setelah makan malam bisnis dan tidak bisa menyetir, Laras langsung menyambar jaket panjangnya tanpa sempat berganti baju tidur, lalu bergegas menyusul.

Perjalanan yang biasanya memakan waktu lima belas menit ia tempuh dalam waktu kurang dari sepuluh menit. Namun, sesampainya di sana, pemandangan di depan pintu restoran inilah yang menyambutnya.

Laras tidak turun dari mobil. Ia hanya menonton dalam diam sampai rasa sesak membanjiri dadanya, membuatnya sulit bernapas. Barulah setelah itu, dengan tangan gemetar, ia mengambil ponsel dan menghubungi suaminya.

Dari balik kaca mobil, ia melihat Satria mengernyit kesal karena dering telepon yang mengganggu. Pria itu akhirnya melepaskan pelukannya pada si perempuan dan merogoh saku celananya.

"Halo?" Suara pria itu terdengar jelas sedang menahan jengkel.

"Masuk ke mobil," ucap Laras singkat.

Satria terdiam. Sambil masih memegang ponsel, ia menoleh ke arah pinggir jalan. Mata mereka bersirobok menembus kaca mobil. Laras buru-buru membuang muka, seolah sedetik saja ia menatap mata itu lebih lama, pertahanannya akan hancur berantakan.

Semenit kemudian, pintu penumpang terbuka. Satria masuk, membawa serta aroma alkohol yang menyengat memenuhi seisi mobil.

Laras kembali menatap ke luar dan mendapati perempuan tadi sudah menghilang. Ia bahkan tidak menyadari kapan perempuan itu pergi.

"Mau sampai kapan lo ngeliatin gue terus?" Satria mengangkat kelopak matanya sedikit, melirik sinis ke arah Laras.

Tertangkap basah berselingkuh oleh istrinya sendiri, tak ada sedikit pun raut panik atau takut di wajah Satria.

Lebih tepatnya, ia sama sekali tidak menganggap Laras penting untuk dikhawatirkan.

Sikap arogan ini berakar dari satu hal: pria itu kaya raya, sangat kaya raya.

Selama Laras tidak menangis, tidak membuat keributan, dan hanya menuruti apa pun perintahnya, Satria akan memenuhi segala kebutuhan materinya. Semuanya akan diberikan, tentu saja, kecuali cinta dan kasih sayang.

"Aku tahu Mas memang ada main di belakang, tapi aku nggak nyangka seleramu yang seperti ini. Apa Mas sengaja menyuruhku datang ke sini cuma buat memamerkan ini?" Mata Laras memantulkan kesedihan yang tak berujung, menyisakan kehampaan yang perih.

Tatapan Satria begitu dingin dan tajam, penuh dengan rasa muak dan jijik. "Bukan urusan lo. Lo nggak punya hak buat ngatur-ngatur gue. Kenapa? Lo mau gue tidurin sekarang?"

Kata-kata kasar itu meluncur begitu saja dari bibirnya tanpa beban. Laras merasa hatinya seperti disayat sembilu, rasa nyeri yang tumpul menjalar memenuhi dadanya.

Pria itu tidak pernah memperlakukannya layaknya seorang istri; bahkan menyebutnya sebagai "teman tidur" saja rasanya masih terlalu bagus.

Laras menarik napas panjang, menekan dalam-dalam rasa pahit yang mencekik dadanya. Ia tetap diam dan langsung menyalakan mesin mobil.

Namun, pria di kursi penumpang itu kembali memutar pisau yang menancap di hati Laras lewat kalimat berikutnya.

"Gue nggak mau pulang ke rumah. Anterin gue ke Pantai Mutiara."

Pantai Mutiara adalah salah satu kawasan perumahan paling elite di Jakarta, dengan rata-rata harga rumah di sana mencapai ratusan miliar Rupiah.

Laras tahu suaminya memiliki beberapa properti di sana, tetapi pria itu tidak pernah menempatinya. Ia hanya membelinya untuk dibiarkan kosong.

Permintaannya untuk pergi ke Pantai Mutiara malam ini berarti tempat itulah yang kini menjadi "rumah" bagi Satria dan perempuan yang baru saja dilihatnya tadi.

Satria selalu royal kepada perempuan-perempuannya; sangat mungkin rumah mewah itu sudah ia berikan kepadanya.

Selama tiga tahun pernikahan mereka, Satria pulang lima kali dalam sebulan saja sudah bisa dibilang sering. Selama ini Laras selalu mengira suaminya menginap di kantor karena muak melihat wajahnya, atau menyewa kamar hotel bersama perempuan lain. Kini Laras sadar sepenuhnya, bahwa selama ini pria itu ternyata tinggal bersama perempuan tadi di Pantai Mutiara.

Laras mencengkeram kemudi kuat-kuat. Rasa sesak yang membakar menjalar dari dada hingga ke seluruh sarafnya, tetapi ia berusaha keras mempertahankan ketenangannya.

"Ngomong-ngomong, besok malam acara ulang tahun Eyang Putri. Jangan lupa."

Satria menjawab datar, "Aku nggak lupa. Kalau aku nggak bisa datang, kamu pergi sendiri saja. Kamu tahu kan harus bilang apa. Aku sudah belikan kado buat Eyang, sekalian kamu bawa."

"Kamu nggak datang ke ulang tahun Eyangmu sendiri? Apa beliau nggak bakal sedih?" Laras mengatupkan bibirnya rapat-rapat.

Sorot mata pria itu memancarkan ejekan yang tajam. "Lakukan saja apa yang kusuruh. Kamu mau menceramahiku? Beliau itu Eyangku, bukan Eyangmu. Kalau beliau mau marah, beliau bakal langsung meneleponku. Aku nggak butuh kamu ikut campur."

Laras menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, tak mampu berkata-kata untuk waktu yang lama.

Ya, dia memang sudah kelancangan.

Lima belas menit kemudian, mobil mereka tiba di kawasan elite Bukit Permata. Satria hanya menyuruhnya berhenti di depan gerbang, lalu turun dan melangkah masuk tanpa menoleh sedikit pun.

Laras tidak berlama-lama di sana. Ia langsung memutar balik mobilnya dan pergi.

Setibanya di Pesona Bahari, Laras menjatuhkan dirinya ke atas kasur bak mayat hidup. Tatapannya kosong menembus langit-langit kamar, sebelum akhirnya ia memejamkan mata, membiarkan air matanya jatuh dalam diam.

Keesokan harinya, tepat seperti dugaan Laras, Satria menjadikan pekerjaan sebagai alasan dan menyuruh Laras datang sendirian ke acara perayaan ulang tahun Eyang Putri.

Begitu Nyonya Besar Kusuma mengetahui hal ini, beliau murka besar. Pertama-tama ia menelepon untuk memaki cucunya, lalu ganti menelepon Laras untuk mencercanya habis-habisan.

"Sudah tiga tahun menikah, kamu masih saja nggak becus ngurus suami? Apa saja kerjamu selama ini? Bukannya sudah kuajari? Laki-laki itu memang wajar suka main-main di luar, tapi kamu harus bisa menahannya di ranjang. Masa hal seperti itu saja kamu nggak bisa?"

Wajah Laras perlahan memucat. Ia mengatupkan bibirnya dan berkata lirih, "Maaf, Eyang. Hati Mas Satria memang bukan untuk saya."

Nada suara Nyonya Besar Kusuma terdengar sangat sinis. "Aku tidak peduli hatinya untukmu atau bukan. Kamu sekarang menantu Keluarga Kusuma. Kita tidak bisa membiarkan orang-orang di luar sana bergosip kalau Keluarga Kusuma menelantarkan menantunya, kan? Mau ditaruh di mana muka keluarga ini? Kamu memang pernah menyelamatkan Satria dulu, dan kalau bukan karena mendiang suamiku yang bersikeras menjadikanmu istri Satria, aku tidak akan pernah setuju. Kalau tidak, mana mungkin kalian berdua bisa berakhir seperti ini? Tiga tahun, dan aku bahkan belum menimang cicit satu pun."

Laras tidak membantah. Ia hanya membiarkan Eyang Putri menghinanya dengan berbagai cara, sebelum akhirnya wanita tua itu menutup telepon setelah menyuruh Laras untuk tidak usah datang ke acara ulang tahunnya.

Rentetan pukulan batin ini perlahan meremukkan mental Laras. Ia duduk termangu di sofa, seolah jiwanya baru saja direnggut paksa.

Lima tahun yang lalu, ayah Laras, Pak Teguh Mulyadi, ditipu habis-habisan. Perusahaannya diakuisisi dengan harga sangat murah, dan seluruh Keluarga Mulyadi jatuh bangkrut.

Tak sanggup menanggung syok berat, ayahnya mengalami pendarahan otak dan meninggal dunia seminggu kemudian.

Ibunya, Bu Siska, memilih untuk menikah lagi dengan seorang OKB bernama Rahmat, dan menelantarkan Laras begitu saja.

Namun, masa-masa enak itu tidak berlangsung lama. Rahmat jatuh miskin karena gila judi dan akhirnya dijebloskan ke penjara.

Tiga tahun lalu, saat Siska tahu bahwa Laras menikah dengan Satria Kusuma, wanita itu datang mengemis-ngemis kembali padanya.

Karena ikatan darah dan hatinya yang tidak tegaan, Laras sesekali memberi ibunya uang, membuat Siska bisa hidup lumayan nyaman selama beberapa tahun terakhir.

Satu-satunya masalah adalah ketika Rahmat masuk penjara, pria itu meninggalkan seorang putra dari pernikahan sebelumnya—Bimo, pemuda berandalan tak berguna yang bahkan tidak pernah mengenyam bangku kuliah dan cuma hidup luntang-lantung.

Siska telah menghidupi anak tirinya itu selama bertahun-tahun, dan Laras pun ikut terseret dalam pusaran masalah ini. Karena Laras cantik dan ditelantarkan oleh suaminya sendiri, Bimo jadi sering melecehkannya.

Setelah buru-buru memasak sebungkus mi instan, Laras baru saja hendak beristirahat ketika bel pintu rumahnya berbunyi.

Dengan kening berkerut, ia turun ke lantai bawah dan mengecek layar interkom. Begitu melihat siapa yang berdiri di depan pagar, dadanya langsung terasa sesak.

Bab Selanjutnya