Bab - 2: Menghafal Kekasihnya.
(Judul Pandang Killian)
Jantungku berdenyut ngilu ketika mataku menyapu hiasan-hiasan duka. Semua orang berpakaian hitam, wajah-wajah tertunduk dalam suasana berkabung.
“Sudah waktunya mengantar dia ke liang lahat…” gumamku, nyaris tak sanggup menahan air mata. Rahangku mengeras saat aku memalingkan wajah, tak sanggup menatapnya.
Aku masih tidak percaya. Kemarin dia masih bernapas, masih bersamaku—hidup, berbicara. Tapi sekarang… dia diam, kaku, tak bernyawa. Apa dia sedang bercanda?
“Killian,” suara Mrs. Catherine terdengar cemas, telapak tangannya menekan bahuku. “Kamu harus lihat dia untuk terakhir kali.”
Aku mengangguk tanpa suara dan melangkah mendekati peti. Odette terbaring di sana tanpa daya. Tubuhnya hancur, masih dilumuri darah dan luka. Tanganku gemetar ketika kutaruh di perutnya.
“Luka ini yang merenggut nyawanya.” Gigiku terkatup keras saat tangan satuku menyentuh rambutnya, mengelusnya pelan, seolah-olah sentuhan bisa memanggilnya kembali.
“Killian, waktunya.” Beta Anderson berkata, dan aku mengangguk.
Aku mengembuskan napas, menatapnya dalam diam. Aku ingin menanamkan wajahnya ke dalam kepalaku, mengingatnya seumur hidup. Setetes air mata meluncur di pipiku ketika kuangkat kedua tangannya dan kugenggam erat-erat dalam genggamanku.
“Killian.” Suara Beta Anderson mendadak dingin, seperti peringatan.
Aku mengangguk. “Sekali saja…” Bibirku kugigit, lalu kuturunkan tangannya hati-hati sebelum akhirnya memejamkan mata dan mengecup keningnya.
Rasanya getir. Lidahku pahit, dadaku berat. Kelopak mataku bergetar ketika aku melepaskannya, menutup peti, lalu mundur ke sudut ruangan sebentar. Napasku tercekat dalam diam saat Beta mengumumkan prosesi akan dimulai.
“Tegakkan dirimu, Killian,” aku menyemangati diri sendiri, lalu kembali dan bergabung dengan rombongan. Aku ingin mengantar tubuhnya ke kubur dengan tanganku sendiri.
Pandangan mataku mengembara, pikiranku penuh Odette, sampai aku melihat—Taylor. Tanganku mengepal, wajahku panas oleh amarah. Dia berjalan mengikut dari belakang, sunyi, tanpa kesedihan, tanpa rasa bersalah sedikit pun.
“Sepadan, Odette? Menyelamatkan dia sampai kamu harus menyerahkan nyawamu?” tanyaku dalam hati sambil memejamkan mata, kepalanku menegang, kepalan tanganku mengeras. Kenangan kemarin menerjang kembali, berkelebat jelas di benakku.
“Odette, kamu mau pakai apa untuk acara pertunangan kita?”
Senyumnya begitu indah saat dia menatapku dan berkata, “Aku mau kamu yang pilih. Aku mau pakai yang kamu suka.”
“Kalau begitu, aku juga mau pakai yang kamu suka.” balasku sambil mengusapnya ketika dia memelukku.
Kami baru saja hendak membahas semua persiapan acara pertunangan, ketika seorang pelayan menerobos masuk.
“N—nona…”
Odette berdiri, menangkap kecemasan dalam suaranya, lalu mendesaknya mengatakan apa yang terjadi.
“Nona Taylor hilang… tidak ketemu di mana-mana.”
Wajah Odette menggelap saat dia menoleh kepadaku dan membatalkan rencana kami. Dia ingin mencarinya.
“Odette, dengerin aku. Aku bakal pimpin tim pencarian buat nyari dia. Dia pasti ketemu. Percaya sama aku.”
Aku berusaha bikin dia paham kalau itu berbahaya, dan akhirnya dia setuju menerima bantuanku. Tapi… dia pergi… Dia pergi sendirian ke perbatasan wilayah pack buat nyari dia.
Perutku mual saat ingatan kemarin berputar lagi. Waktu aku nemuin dia berikutnya, dia sudah terluka parah. Bajunya robek-robek, tubuhnya berlumuran darah.
Aku teriak minta bantuan, tapi dia mengembuskan napas terakhir tepat di depan mataku. Aku nggak bisa ngapa-ngapain. Belum pernah aku merasa sebegitu nggak bergunanya seperti saat itu. Kalau saja aku ngerti obat-obatan, mungkin aku bisa menyelamatkannya.
“Nggak,” gumamku, pandanganku menggelap saat aku menahan air mata. “Ini semua salah Taylor.”
Aku menatap Taylor lagi—duduk melamun, seolah nggak terjadi apa-apa. Rasanya aku pengin menamparnya di tempat. Dia penyebab hari terakhir Odette, dan dia bahkan nggak menunjukkan sedikit pun rasa bersalah.
Keningku mengeras. Aku memaksa diri buat mengendalikan diri. Saat ini aku cuma mau mikirin Odette. Ini terakhir kalinya aku bisa melihat dia.
Aku menarik napas panjang dan mengembuskannya pelan ketika upacara pemakaman dimulai.
Andai semua ini cuma mimpi buruk… Aku ingin semuanya cuma mimpi, lalu ada seseorang yang bangunin aku dan bilang nggak ada apa-apa yang terjadi.
Aku mengepalkan tangan, memalingkan muka saat menyadari Taylor.
Amarah tiba-tiba naik lagi ketika aku melihat dia celingukan sambil duduk santai, kakinya bergoyang gelisah seperti orang yang udah nggak sabar pulang. “Jalang,” gumamku, saat Beta Anderson melirikku dengan tatapan bertanya.
Aku menggeleng cepat dan langsung mengalihkan pandangan. Aku nggak boleh mengurusi Taylor sekarang. Hari ini pemakamannya Odette. Aku nggak boleh memikirkan orang lain.
“Odette, aku sumpah… aku bakal bikin Taylor bayar semua ini.” Aku berkata dalam hati, memejamkan mata saat kenangan tentang Odette menyusup. Senyumnya, tawanya, matanya. Segalanya tentang dia begitu indah…
Saat aku tenggelam sepenuhnya dalam bayangannya, semua orang mendadak diam. Hening yang melelahkan. Alisku terangkat, aku menoleh, dan melihat punggung Taylor saat dia melangkah keluar dari aula pemakaman.
Semua orang memandanginya dengan tercengang—dengan pikiran yang sama seperti punyaku. Kok dia bisa pergi begitu saja? Dia menghina Odette, di pemakamannya sendiri, padahal dialah alasan Odette terbaring tak bernyawa!
Aku mengerutkan kening dan menggenggam lebih erat ketika amarah mendidih di dalam dada. Dia bahkan nggak bisa nunggu sampai pemakaman selesai buat pergi! Nilainya nggak ada apa-apanya dibanding Odette. Bagaimana bisa Odette sampai mengorbankan dirinya demi orang seperti dia? Aku nggak mengerti.
Aku mengatupkan rahang, menelan amarahku. Rasanya aku ingin ikut keluar dan membunuhnya saat itu juga. Tapi tidak. Aku nggak akan meninggalkan Odette hari ini. Urusan Taylor nanti.
Tapi hari ini, yang aku butuhkan cuma Odette.
