Bab 3 Harga Jiwa

Hotel Mentari, Kamar 808.

Begitu Citra melangkah masuk, dia langsung sadar bahwa ini adalah jebakan. "Makan malam perpisahan" kedok ibunya, Ibu Sari, ternyata tak lebih dari transaksi kotor perdagangan manusia.

Ibu Sari tidak ada di kamar itu.

Hanya ada seorang pria gemuk berwajah bengis yang duduk di meja, matanya menelanjangi tubuh Citra layaknya predator yang mengincar mangsa.

"Citra," pria bernama Bos Tono itu menatapnya dengan rakus, "aslinya kamu jauh lebih cantik daripada di foto."

Citra berbalik hendak pergi, tapi dua pengawal berbadan tegap langsung memblokir pintu.

"Bapak siapa? Di mana ibu saya?" Citra melangkah mundur, menuntut jawaban.

"Ibumu?" Bos Tono tertawa sambil menuangkan wine ke gelas. "Empat puluh lima miliar. Ibumu menjual barang bekas sepertimu dengan harga yang sangat bagus, Citra."

Keputusasaan melilit dada Citra bagaikan ular berbisa. Demi menyelamatkan perusahaan keluarga, ibunya benar-benar tega menjualnya kepada pria hidung belang ini sebagai mainan.

"Jangan mendekat!" Saat Bos Tono menerjangnya, Citra menyambar piring dari atas meja dan menghantamkannya sekuat tenaga ke kepala pria itu.

Saat Bos Tono menjerit kesakitan, Citra mencoba kabur, tapi para pengawal itu langsung menyudutkannya. Tidak ada jalan keluar.

Citra menatap pecahan piring yang tajam di tangannya. Lalu, pandangannya beralih pada wajah Bos Tono yang menjijikkan dan penuh nafsu.

Dia lebih baik mati daripada membiarkan pria mana pun menyentuhnya lagi. Tidak akan pernah.

"Jangan mendekat!" jeritnya, matanya memancarkan kilat keputusasaan yang gila. "Maju selangkah lagi dan aku bakal..."

"Mau bunuh saya?" ejek Bos Tono sambil menyeringai.

"Nggak," mata Citra menyala dengan kenekatan yang mengerikan. "Aku yang akan hancurin diriku sendiri!"

Tanpa ragu sedikit pun, dia mengangkat pecahan piring itu dan menggoreskannya kuat-kuat ke pipi kirinya.

Darah segar langsung menyembur, mengalir deras ke leher dan menodai gaun putih Citra menjadi merah pekat, membuatnya terlihat seperti iblis yang menuntut balas dendam.

"Sialan!" Bos Tono mundur ketakutan, seluruh berahinya seketika menguap digantikan rasa ngeri. "Bawa dia keluar! Jangan sampai dia mati di sini!"

Citra, layaknya dewi dendam yang bersimbah darah, menempelkan pecahan tajam itu ke lehernya sendiri sambil melangkah mundur keluar dari kamar itu selangkah demi selangkah.

Begitu kakinya menyentuh lorong hotel, dia langsung berlari kesetanan.

Dia terus berlari sampai paru-parunya terasa terbakar. Sepatu hak tingginya terlepas, memaksanya berlari tanpa alas kaki, hingga tak lama kemudian telapak kakinya pun ikut berdarah.

Di bawah guyuran hujan malam yang dingin menusuk tulang, dia tidak tahu harus lari ke mana. Yang dia tahu hanyalah dia harus kabur, sampai akhirnya dia tersandung dan jatuh di tepi danau.

Air danau di hadapannya tampak hitam pekat.

Nggak ada yang peduli sama gue. Ibu gue sendiri jual gue, suami gue benci sama gue. Toh, sebentar lagi gue juga bakal mati, batinnya miris.

Lompat saja, pikiran itu terus menggodanya.

Dia mengambil satu langkah mendekati air. Dia memejamkan mata dan mencondongkan tubuhnya ke depan.

"Citra!"

Sebuah teriakan keras terdengar dari belakang. Tangan yang kokoh mencengkeram lengannya dan menariknya mundur dari bibir danau.

Tubuhnya berputar dan langsung menabrak dada yang bidang dan hangat.

Seorang pria. Jangkung. Penuh tenaga.

"Lepasin..." Dia meronta lemah.

"Mau mati?" Suara berat, karismatik, namun penuh amarah terdengar dari atas kepalanya. "Di dunia ini, cuma orang lemah yang milih mati. Kamu mau orang-orang yang udah nyakitin kamu ngerayain kematianmu pakai sampanye?"

Citra bersusah payah mengangkat kepalanya. Melalui pandangannya yang mengabur, dia tidak bisa melihat wajah pria itu dengan jelas. Hanya sepasang mata sedalam samudra yang menatapnya—menyiratkan kekhawatiran yang terasa familier, namun sekaligus berbahaya.

"Kamu... siapa?" bisiknya.

"Bodoh," suara pria itu bergetar menahan marah dan cemas. "Kamu pikir mati bisa nyelesain masalah?"

Citra tidak kuat lagi bertahan. Kakinya lemas tak bertulang.

"Tolong aku," gumamnya lirih, sebelum kegelapan akhirnya menelan kesadarannya.

Ketika Citra kembali sadar, yang memenuhi penciumannya bukanlah bau amis air hujan yang dingin, melainkan aroma lavender yang lembut.

Dia perlahan membuka mata dan mendapati dirinya berada di kamar VIP rumah sakit yang dipenuhi peralatan medis canggih. Luka di wajahnya sudah ditangani dengan sempurna, hanya menyisakan sensasi dingin yang samar.

"Non Citra sudah sadar."

Bi Inah, mantan asisten rumah tangga Keluarga Lesmana, berdiri di samping ranjang dengan mata sembap.

"Bi Inah? Kok aku bisa ada di sini?" Suara Citra terdengar sangat serak.

"Ada seorang tuan yang bawa Non ke sini, dan dia minta Bibi buat ngerawat Non Citra." Bi Inah mengusap air matanya, menatap gadis itu dengan tatapan pilu. "Non, kok bisa sampai begini keadaannya?"

"Di mana pria itu, Bi? Orang yang bawa aku ke mana?" Citra memaksakan diri untuk bangun. Sosok dari malam berhujan itu, meski buram dalam ingatannya, telah memberikannya satu-satunya kehangatan saat dia berada di ambang kematian.

"Beliau langsung pergi setelah beresin semuanya, cuma ninggalin pesan supaya Non istirahat sampai pulih. Beliau juga yang udah lunasin semua biaya rumah sakit." Bi Inah menahan bahu Citra, menenangkannya dengan lembut. "Sudah, Non, jangan dipikirin dulu. Sekarang Non Citra istirahat saja."

Pria misterius itu terasa seperti mimpi—muncul tiba-tiba, lalu menghilang tanpa jejak.

Bab Sebelumnya
Bab Selanjutnya