Bab 4 Kegelapan Sebelum Fajar
Malam itu, Citra terus gelisah, membolak-balikkan tubuhnya di atas ranjang.
Mata kirinya terasa seperti ditusuk besi panas yang terus diputar-putar. Setiap denyut pembuluh darahnya membawa gelombang rasa sakit yang menyiksa. Namun, ada yang jauh lebih menyakitkan dari luka fisik itu: kenangannya.
Ingatannya terlempar ke malam pertama pernikahan mereka tiga tahun silam. Dengan penuh cinta, ia menyerahkan kesuciannya, namun saat Rangga menyadari tak ada noda darah di malam penyatuan mereka...
Sorot mata pria itu seketika berubah dingin dan penuh rasa jijik, seolah sedang menatap sesuatu yang sangat kotor.
Rangga bilang dia paling muak dengan pengkhianatan. Pria itu menyebut Citra sama menjijikkannya dengan ayahnya yang tukang selingkuh, membuatnya mual.
Setitik saja kecurigaan akan perselingkuhan sudah cukup untuk meledakkan kebencian yang selama ini mengendap di hati pria itu.
Citra sudah berusaha menjelaskan semuanya, tapi Rangga enggan percaya. Pria itu bahkan tak sudi mencari tahu kebenarannya sebelum mencampakkannya begitu saja.
Itu semua sebenarnya hanya alasan.
Rangga membencinya, karena itulah pria itu menyiksanya dengan cara yang paling merendahkan harga diri.
Keesokan paginya, dering ponsel yang melengking mengebor kepalanya bagaikan mesin bor.
Citra meraba-raba mencari ponselnya. Mata kirinya kini hanya bisa menangkap bayangan cahaya yang sangat redup—nyaris buta total.
"Citra, jangan sampai aku yang harus menyeretmu ke sana." Suara Rangga terdengar sedingin es. "Jam sembilan pagi ini, di Pengadilan Agama. Terlambat satu menit saja, aku pastikan keluarga Lazuardi hancur tak bersisa."
Citra menoleh ke arah Alya, yang sejak tadi menatapnya dengan sorot mata pilu.
"Jangan khawatir, Al," ucap Citra seraya memaksakan diri untuk bangkit. Wajahnya sepucat kertas. "Aku cuma pergi sebentar, kok."
Ia tak berani jujur bahwa kepergiannya adalah untuk mengurus perceraian. Ia takut Alya akan menangis, padahal saat ini ia bahkan tak punya sisa tenaga untuk mengusap air mata orang lain.
Pukul 09.20, Citra tiba di pelataran Pengadilan Agama.
Rangga berdiri menantang angin pagi yang menusuk tulang. Setelan jas hitam pesanan khusus yang membalut tubuhnya membuat pria itu tampak seperti seorang penguasa yang angkuh. Berbanding terbalik dengan Citra, yang hanya mengenakan jaket lusuh kedodoran, membuatnya terlihat tak ubahnya seperti gembel.
"Akhirnya muncul juga?" cemooh Rangga. Tatapannya sejenak tertuju pada wajah Citra yang terluka dan kini tertutup kasa medis. "Drama apa lagi ini? Cari simpati? Kau lumayan nekat juga melukai diri sendiri cuma demi menghindari perceraian."
Citra hanya menundukkan kepala. Rambut panjangnya dibiarkan tergerai menutupi lukanya yang masih merembeskan darah, serta mata kirinya yang kini buta.
"Maaf, tadi jalanan macet," ucapnya lirih.
Tanpa penjelasan lebih lanjut. Tanpa perlawanan. Apa gunanya menjelaskan? Di mata laki-laki itu, bahkan caranya bernapas pun sudah pasti salah.
Proses administrasinya berjalan luar biasa cepat.
Tepat saat putusan cerai itu resmi dijatuhkan, Citra merasa ada sudut di hatinya yang runtuh tak bersisa.
Rangga mengambil dokumen putusan tersebut tanpa menoleh sedikit pun ke arahnya, lalu berbalik pergi.
"Mas Rangga," panggil Citra refleks.
Langkah pria itu terhenti. Tanpa repot-repot membalikkan badan, ia berucap dengan nada penuh rasa jijik, "Jangan bikin aku menyesal karena tidak merampas semua hartamu. Ambil kebebasanmu, dan enyahlah dari hadapanku."
Pria itu masuk ke dalam mobil hitam yang menjadi simbol kekuasaan dan statusnya, lalu melaju pergi.
Citra berdiri di tepi jalan, membiarkan angin malam yang dingin menyusup lewat kerah bajunya. Tepat saat itu, panggilan telepon yang penuh amarah dari Nyonya Ratna masuk.
"Citra! Ke mana saja kamu?!" Suara melengking Nyonya Ratna terdengar dari seberang. "Cepat pulang dan bawa pergi semua sampahmu!"
Citra menyeret langkahnya yang terasa berat kembali ke Kediaman Keluarga Wijaya.
Tempat itu dulunya adalah rumah baginya, tapi kini tak ubahnya seperti neraka.
Nyonya Ratna berdiri di ambang pintu, bersedekap dengan tatapan merendahkan. "Kenapa penampilanmu gembel begini? Orang yang nggak tahu bisa mengira kami menyiksamu."
"Barang-barangmu ada di gudang. Ambil sana, lalu pergi." Nyonya Ratna memindainya dari atas ke bawah. "Sudah cerai?"
Citra mengangguk pelan.
"Nggak dapat harta gono-gini sama sekali? Dasar nggak berguna!" cibir wanita paruh baya itu.
Tatapannya begitu penuh penghinaan, tapi Citra sangat mengerti alasannya.
Dia adalah anak dari hasil perselingkuhan ayahnya, sebuah pengingat hidup akan hancurnya pernikahan Nyonya Ratna.
Sebesar apa pun harapan Nyonya Ratna pada pernikahannya dulu, sebesar itu pula kebenciannya pada Citra sekarang.
Namun, karena dia tetaplah darah daging Pak Tono Wijaya, selain cacian dan makian, Nyonya Ratna tidak bisa menggunakan cara yang lebih kejam untuk menghukumnya.
Citra menundukkan kepala, menahan rasa pusing yang mendera, dan berjalan menuju gudang yang lembap.
Dia hanya memiliki dua koper. Hanya itulah sisa dari dua puluhan tahun kehidupannya di sini.
Saat ia menyeret kopernya ke ambang pintu luar, rasa sakit yang menusuk di mata kirinya tiba-tiba menghebat, dan pandangannya mendadak gelap gulita.
Kakinya salah berpijak.
Tubuhnya menghantam lantai semen yang kasar dengan keras. Lututnya tergores parah, darah seketika menodai celana jinsnya. Kopernya terbuka, membuat pakaian-pakaian lamanya berserakan di mana-mana.
Sakit. Perih yang menusuk tulang.
Citra terkapar di tanah, tak sanggup bangkit untuk waktu yang lama.
"Lagi main drama buat siapa kamu sekarang?" Nyonya Ratna berdiri di atas tangga teras, menatapnya layaknya sampah. "Rangga nggak ada di sini, akting menyedihkanmu itu nggak ada gunanya! Cepat bereskan barang-barangmu dan enyah dari sini, jangan kotori halamanku!"
Citra menggertakkan gigi, air mata bercampur keringat dingin menetes ke tanah. Dengan tangan gemetar, ia meraba-raba dan memasukkan kembali pakaiannya ke dalam koper, lalu bersusah payah mencoba berdiri.
"Sudah kuduga kamu nggak bisa diandalkan! Sia-sia saja membesarkanmu selama ini—mempertahankan suami saja nggak becus! Tahu begini, mending dari dulu kamu kuserahkan buat menemani para pejabat dan pengusaha itu makan malam. Setidaknya keluarga ini bisa dapat untung!"
Kata-kata itu menancap di hati Citra bagaikan belati tajam.
Ia teringat bagaimana Nyonya Ratna berkali-kali memaksanya ikut makan malam dengan para relasi bisnis, berdalih demi kepentingan keluarga.
Kenyataannya, wanita itu menukar senyum dan harga diri Citra demi kelancaran proyek. Inilah sosok ibu yang membesarkannya.
Inilah keluarga yang mati-matian berusaha ia senangkan selama ini.
Dengan langkah pincang, ia menyeret kopernya pergi. Tetesan darah meninggalkan jejak panjang di atas tanah, seiring langkahnya meninggalkan tempat yang tak pernah memberinya kehangatan itu.
