Bab 8 Martabat yang Hancur
Seno mengemudikan mobilnya, mengantar Kirana kembali ke rumah Lita.
Pria itu bisa melihat kondisi Kirana sangat kacau, nyaris berada di ambang kehancuran mental.
Namun, ada luka-luka yang tak bisa ia sembuhkan. Ia hanya bisa meninggalkan nomor ponselnya.
"Telepon aku kalau butuh apa-apa. Jangan berbuat nekat, Kiran. Semua masalah pasti ada jalan keluarnya!"
Kirana menutup pintu dan bersandar pada daun pintu yang dingin, tubuhnya perlahan merosot hingga terduduk di lantai.
Di mana lagi ia bisa mencari harapan?
Kebencian Arya, keluarganya yang terus memerasnya, dan kesehatannya yang semakin memburuk.
Ditambah lagi tagihan rumah sakit yang mencapai ratusan juta Rupiah—salah satu dari hal itu saja sudah cukup untuk menghancurkannya.
Ia ingin tetap hidup, setidaknya untuk membalas budi baik Lita dan Seno.
Tapi, ia tak punya jalan lagi untuk bertahan.
Bu Mirna hanya akan terus memaksanya menjual diri demi keuntungan, sementara Arya sudah tak sabar melihatnya mati.
Sepertinya hanya tersisa satu jalan baginya, jalan yang paling hina.
Beberapa hari kemudian, di sebuah ruang VIP kelab malam eksklusif.
Kirana mengenakan seragam pelayan yang terbuka. Menahan rasa sakit di mata kirinya dan rasa mual yang terus bergejolak, ia memaksakan senyum kaku pada seorang pengusaha berwajah mesum.
Kirana memang cantik—tanpa riasan ia terlihat polos dan lugu, memancing rasa iba siapa pun yang melihatnya. Namun dengan riasan, pesonanya begitu memikat.
Bu Mirna sudah menyadari hal ini sejak lama, itulah sebabnya wanita itu berulang kali memaksa Kirana menemani klien makan malam.
"Minum! Ayo, habisin!" Bos Rendi dengan kasar menyodorkan segelas minuman keras ke bibir Kirana.
Tangan pria itu yang lain dengan kurang ajar meraba pahanya.
Perut Kirana bergejolak hebat.
Ia nyaris tidak makan apa pun selama beberapa hari terakhir, dan kini ia dipaksa menenggak miras ini tanpa bisa menolak. Ia terlalu membutuhkan uang itu.
Ia memejamkan mata, mendongak, dan menenggak habis minuman itu.
Tenggorokan dan kerongkongannya terasa seperti disayat pisau, dan lambungnya tiba-tiba kram hebat.
"Bagus! Gitu dong! Tambah lagi!" Tawa dan sorak-sorai meledak di sekelilingnya.
Segelas lagi dipaksa masuk ke mulutnya.
Pandangan Kirana mulai menggelap, telinganya berdenging tajam.
Tiba-tiba ia membekap mulutnya saat darah dengan rasa anyir logam merangsek naik ke tenggorokannya.
Tanpa sadar tubuhnya membungkuk. Namun yang keluar bukanlah makanan, melainkan cairan asam lambung yang pahit.
Muntahannya mengotori karpet mahal di ruangan itu, sebuah pemandangan yang menjijikkan.
Ruangan itu hening sejenak, lalu meledak dengan seruan jijik dan makian.
"Sialan! Ngerusak suasana aja! Baru segini udah muntah?"
"Bawa dia keluar! Jijik banget!"
"Sok jual mahal, baru dicekoki dikit aja lagaknya udah kayak mau mati!"
Tepat pada saat itu, pintu ruang VIP didorong terbuka.
Manajer kelab melangkah masuk, dengan sikap menjilat mempersilakan beberapa orang masuk ke dalam.
Di barisan paling depan, berdirilah Arya.
Zoya menggandeng lengannya, tersenyum manis.
Mereka datang untuk membicarakan bisnis dan kebetulan melewati ruangan yang bising ini.
Mata Arya langsung menangkap sosok Kirana yang meringkuk di lantai dalam keadaan sangat menyedihkan.
Pupil matanya mengecil tajam, jantungnya terasa seperti dihantam benda keras.
Amarah yang tak terlukiskan bergejolak di dadanya.
Zoya juga melihatnya.
Setelah keterkejutan sesaat, kilat kepuasan yang licik melintasi matanya.
Ia buru-buru menutup mulutnya, pura-pura terkejut, dan dengan sengaja berseru dengan nada yang bisa didengar semua orang:
"Kirana? Ngapain kamu di sini? Pakaian kamu kok gitu? Baru juga beberapa hari kamu dan Mas Arya cerai, kamu udah jatuh miskin sampai jadi perempuan penghibur? Aku tahu kamu gila harta, tapi ini beneran nggak tahu malu!"
Suaranya sama sekali tidak pelan, sukses menarik perhatian semua orang di ruangan itu ke arah Kirana.
Tatapan orang-orang di ruangan itu penuh dengan ejekan, rasa jijik, dan ketertarikan yang merendahkan.
Wajah Adrian menggelap, menahan amarah yang luar biasa.
Merendahkan harga diri? Bekerja sebagai wanita penghibur? Tampil begitu menyedihkan dan melarat?
Apa perempuan ini sudah sebegitu putus asanya mencari laki-laki? Mencari uang?
Setelah berpisah darinya, perempuan itu langsung lari ke tempat maksiat semacam ini untuk menjual diri? Bahkan rela menjatuhkan martabatnya sampai sebegini hinanya!
Rasa posesif yang menggebu dan perasaan dikhianati membuat Adrian bicara tanpa disaring.
"Mau seberapa menjijikkan lagi kelakuanmu ini? Benar-benar bikin muak."
Kata-katanya begitu kejam dan menusuk.
Kirana bahkan sudah tidak punya tenaga lagi untuk menatap pria itu. Rasa sakit yang melilit hebat di lambungnya dan anyir darah yang tercekat di tenggorokan membuatnya nyaris pingsan.
Dengan sisa tenaga, ia bersusah payah bangkit berdiri. Ia hanya ingin segera kabur dari neraka ini.
Gelak tawa dan celetukan para pria hidung belang di sana terdengar makin vulgar.
"Oh, jadi ini mantan istrinya Bos Adrian?"
"Kayaknya dia nggak bisa hidup tanpa Adrian, makanya sekarang banting setir jadi pelacur, ya?"
"Jadi penasaran, gimana rasanya bekas istri yang dibuang sama Adrian."
Kirana terus menunduk, berjalan gontai menyeret langkahnya menuju pintu keluar.
Tepat saat ia hampir mencapai pintu, seorang pria mabuk dengan sengaja menjulurkan kaki untuk menjegalnya.
Kirana memekik tertahan. Keseimbangannya goyah, tubuhnya nyaris menghantam lantai dengan keras.
Namun, rasa sakit yang ia antisipasi tak kunjung datang.
Sebuah lengan yang kokoh melingkar di pinggangnya, menahan tubuhnya agar tidak jatuh.
Kirana mendongak terkejut. Dari balik pandangannya yang mengabur, wajah Satria yang tegang dan penuh kekhawatiran kembali muncul.
"Kamu nggak apa-apa?" Suara pria itu terdengar berat, bercampur dengan amarah yang tertahan.
Tatapan Satria menyapu noda kotor di pakaian Kirana dan wajahnya yang seputih kapas. Ada kilat kemarahan yang berkobar di matanya.
Menyaksikan adegan itu, entah kenapa rasa kesal di dada Adrian memuncak.
Ia mendengus dingin dan membuang muka, enggan melihat mereka lebih lama.
Satria sama sekali tidak memedulikan orang-orang di sekitarnya.
Ia langsung menggendong tubuh Kirana yang lemas dan melangkah pergi meninggalkan tempat yang memuakkan itu.
"Pak Satria... kenapa Bapak ada di sini?" tanya Kirana dengan suara parau.
Pria ini sudah menolongnya tiga kali, dan semuanya terjadi begitu kebetulan.
"Tadi ada undangan pertemuan di lantai atas," jelas Satria sambil membawa perempuan itu menuju mobilnya. "Kamu harusnya bersyukur kita pas ketemu."
Padahal kenyataannya, ia mendapat kabar bahwa Kirana ada di kelab malam ini dan langsung bergegas datang, bahkan sampai membatalkan urusan pekerjaannya. Sialnya, ia masih terlambat.
Kalau perempuan ini butuh uang, kenapa dia tidak minta tolong padanya saja?
Satria membawanya langsung ke IGD rumah sakit.
Hasil pemeriksaannya sungguh mengejutkan.
Gastroenteritis akut, ditambah dengan malnutrisi jangka panjang dan depresi emosional yang parah, membuat kondisi tubuhnya benar-benar hancur.
Yang lebih parah lagi, ketika dokter spesialis mata dipanggil darurat untuk konsultasi, dokter tersebut memberitahu Satria dengan raut wajah serius bahwa tekanan pada saraf optik Kirana sudah berada di tingkat yang sangat berbahaya. Ia harus segera dirawat inap dan menjalani operasi.
Jika tidak segera ditangani, ia bukan hanya akan mengalami kebutaan total—nyawanya pun bisa ikut terancam.
Satria menatap Kirana yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Alis perempuan itu masih berkerut menahan sakit dalam tidurnya. Diam-diam, ada rasa perih yang tak tertahankan menyelinap di dada Satria.
Ia tidak bisa membayangkan seberapa besar penderitaan dan siksaan yang selama ini harus ditanggung perempuan itu.
Tiba-tiba, pintu kamar rawat itu didorong kasar dari luar.
Bu Mirna menerobos masuk. Jelas sekali wanita paruh baya itu sudah mendengar kabar soal insiden Kirana di kelab malam tadi dari Zoya.
Melihat Kirana terbaring di ranjang, tak ada sedikit pun raut simpati di wajahnya.
Sebaliknya, ia langsung menyerbu ke depan dan menampar wajah Kirana sekeras-kerasnya!
Plak!
Suara tamparan itu menggema nyaring di ruangan yang sunyi tersebut.
Kirana yang baru saja tersentak bangun, merasakan pipi kirinya langsung membengkak panas. Dengan tatapan bingung dan menahan sakit, ia mendongak menatap Bu Mirna.
