Bab 5

"Apa aku... sudah mati?"

Rasa sakit yang menyengat membangunkan Citra dari ketidaksadarannya. Kelopak matanya terbuka perlahan, disambut oleh berkas cahaya matahari yang menerobos celah tirai jendela, jatuh tepat di wajahnya yang pucat.

Cahaya itu terasa menusuk, memaksanya menyipitkan mata. Secara naluriah, ia mencoba bangkit dan duduk, namun tubuhnya tertahan. Pergelangan kakinya terikat kuat ke rangka tempat tidur.

Citra tertawa getir, menertawakan nasibnya sendiri. Tentu saja, Satria tidak akan membiarkannya mati semudah itu.

Sebuah jarum infus tipis menancap di punggung tangannya, mengalirkan cairan bening perlahan ke dalam tubuhnya.

Potongan-potongan kejadian tadi malam berputar kembali di benaknya seperti gulungan film rusak. Rasa sakit, keputusasaan, dan ketidakberdayaan itu kembali menghantam dadanya, membuatnya sesak.

Ia ingat bagaimana ia nekat menyamar menjadi pramusaji, hanya untuk dipermalukan habis-habisan oleh Satria, sebelum akhirnya pria itu dengan kejam membongkar kebenaran di balik dendam kesumatnya.

Suara dingin Satria masih terngiang, setajam angin malam yang menusuk tulang. "Keluargamu sudah tamat. Sekarang, semua orang di Keluarga Salim yang masih bernapas ada di bawah kendaliku."

Tekanan mengerikan itu membuat jantung Citra berpacu kencang. Rasanya seperti ada tangan tak kasat mata yang mencekik lehernya. "Tidak, aku tidak boleh menyerah begini. Aku tidak bisa membiarkan rencananya berhasil."

Dengan sisa tenaga yang ada, Citra menyandarkan punggungnya ke kepala tempat tidur. Tangannya bergerak cepat mencabut jarum infus dari kulitnya, lalu mengarahkan ujung jarum yang tajam itu tepat ke lehernya sendiri.

"Masih mau mati? Citra, kalau kamu mati, aku pastikan seluruh Keluarga Salim akan ikut dikubur bersamamu."

Suara Satria terdengar dari ambang pintu. Sosoknya menjulang di sana, memancarkan aura gelap yang mencekam.

Citra mendongak, menatap Satria yang berdiri santai bersandar pada kusen pintu. Senyum dingin tersungging di bibirnya, dan tak ada setitik pun kehangatan di sorot matanya yang tajam.

Pria itu mengenakan setelan jas rapi yang membalut tubuh tegapnya dengan sempurna. Tangannya dengan santai memainkan tumpukan dokumen yang berisi data-data vital tentang Keluarga Salim.

"Asal aku mau," ucapnya datar, "cabang-cabang bisnis Keluarga Salim yang lain bisa kubuat bangkrut total dalam sekejap."

"Kamu gila! Benar-benar orang gila!" Suara Citra gemetar, bercampur antara ketakutan dan amarah yang meluap.

Satria melangkah perlahan memasuki kamar. Bunyi langkah sepatu pantofelnya menggema jelas di ruangan yang sunyi itu, seolah menghitung mundur sisa waktu Citra.

Ia berhenti tepat di sisi tempat tidur, menatap Citra dengan sorot mata merendahkan, seolah wanita itu hanyalah seekor burung pipit lemah yang terperangkap dalam sangkar emasnya. "Aku memang gila, lalu kamu bisa apa?"

Satria mengulangi kata-kata Citra dengan nada mengejek yang kejam. "Semua orang di Keluarga Salim yang sudah memfitnah dan memanfaatkan Keluarga Baskara pantas mati."

Gelombang perlawanan yang kuat membuncah di hati Citra. Ia tidak bisa membiarkan dirinya dipermainkan seperti boneka. Ia harus melawan, ia harus lepas dari cengkeraman iblis ini.

"Kalau begitu biarkan aku mati!"

Dengan sekuat tenaga, Citra menekan ujung jarum infus itu, menggoreskan luka berdarah di lehernya.

Namun gerakan Satria jauh lebih cepat. Ia menyambar pergelangan tangan Citra, merampas jarum itu, dan sebuah tamparan keras mendarat di pipi wanita itu. Plak!

"Kamu pikir ini akan mengakhiri segalanya?" Suara Satria sedingin es kutub. "Kamu terlalu naif, Citra."

Ia melemparkan tumpukan dokumen itu ke tubuh Citra. Kertas-kertas itu terasa berat menghantam dadanya, seberat batu besar yang menindih napasnya.

Dengan tangan gemetar hebat, Citra membuka dokumen tersebut. Setiap lembar, setiap angka, dan setiap kalimat di sana seolah menertawakan ketidakberdayaan dan keputusasaannya yang semakin dalam."Ini nama-nama anggota keluargamu," suara Sebastian menggema di telinga Christina, dingin dan tanpa ampun. "Kalau kau nekat mati, mereka akan ikut mati bersamamu. Semuanya tergantung padamu."

Rasa ketidakberdayaan yang mendalam menyeruak di dada Christina. Kerabatnya yang tidak tahu apa-apa itu tidak seharusnya menderita hanya karena perbuatan ayahnya.

Air mata jatuh tanpa suara dari pelupuk mata Christina, menetes di atas dokumen dingin itu, membuat tintanya sedikit melebar.

"Kau hanya ingin menghancurkan harga diriku sampai tak bersisa, kan?" Suara Christina terdengar lemah dan penuh keputusasaan.

Sebastian menatap Christina, kilatan kepuasan melintas di matanya. Ia tahu perempuan itu tidak punya pilihan selain tunduk padanya.

"Apa pilihanmu?" Suara Sebastian rendah namun penuh kuasa. Ia menunggu jawaban Christina.

Christina memejamkan mata, hatinya dipenuhi rasa sakit dan pergulatan batin yang hebat.

Ia tahu, begitu ia menyetujui syarat Sebastian, ia akan kehilangan kebebasannya, harga dirinya, dan mungkin segalanya. Namun, ia tidak bisa membiarkan keluarganya menderita karenanya.

"Aku setuju." Suara Christina nyaris tak terdengar, hatinya terasa perih luar biasa.

Senyum kemenangan tersungging di wajah Sebastian. Christina kini sepenuhnya berada di bawah kendalinya.

"Bagus," suara Sebastian menyiratkan nada truf. "Mulai hari ini, kau adalah budak nafsuku sampai aku bosan dan membuangmu."

Christina tidak merasakan apa pun selain penghinaan yang menyayat hati. Dulu, ia adalah kebanggaan keluarga, permata hati semua orang.

Dan kini, ia telah mengundang masalah hingga akhirnya menjadi pelayan bagi Sebastian.

"Tapi aku punya satu syarat." Suara lemah Christina menyiratkan sedikit keteguhan.

Sebastian mengangkat alis, terkejut perempuan itu masih berani mengajukan syarat dalam situasi seperti ini.

"Apa?" Nada suara Sebastian terdengar geli.

Christina menarik napas dalam-dalam. Ia tahu syaratnya mungkin akan membuat Sebastian marah, tapi ia harus mengatakannya.

"Aku ingin kau berjanji untuk tidak menyakiti keluargaku." Suara Christina sedikit gemetar.

Sebastian terdiam sejenak, emosi yang rumit melintas di matanya.

Ia tidak menyangka bahwa dalam situasi terdesak seperti ini, kekhawatiran utama Christina masih tertuju pada keluarganya.

"Aku bisa menjanjikan itu," suara Sebastian terdengar dingin. "Tapi kalau kau sekali saja membangkang perintahku, keluargamu akan langsung menghadapi bencana."

Rasa takut yang mendalam kembali menjalar di hati Christina. Ia tahu Sebastian tidak pernah main-main dengan ucapannya, dan ia harus sangat berhati-hati agar tidak memancing amarah pria itu.

"Aku mengerti." Suara Christina terdengar pasrah.

Sebastian mengangguk puas, tahu bahwa Christina telah sepenuhnya takluk. Ia bangkit berdiri, bersiap meninggalkan ruangan.

"Sebastian, kau menang," suara Christina tiba-tiba terdengar, ada kilat perlawanan di matanya. "Tapi aku tidak akan pernah menyerah."

Sebastian berbalik, senyum dingin terukir di wajahnya.

"Kita lihat saja nanti." Suara Sebastian mengandung ancaman yang nyata.

Pria itu berbalik dan melangkah keluar ruangan, meninggalkan Christina sendirian.

Hati Christina dipenuhi rasa sakit dan keputusasaan. Mulai sekarang, ia hanya akan menjadi mainan bagi Sebastian.

Air matanya kembali jatuh, dan ia merasakan ketidakberdayaan serta keputusasaan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Ia tidak tahu apakah ia sanggup menjalani hidup seperti ini.

Air mata meluncur di pipinya, menetes ke atas seprai, meninggalkan noda-noda gelap di sana.

Bab Sebelumnya
Bab Selanjutnya