Bab 6
Malam itu kembali menjadi malam penuh siksaan.
Satria melampiaskan dendamnya pada Kirana, mencoba segala cara untuk memaksanya mendesah, memancing suara-suara yang menggoda keluar dari bibir wanita itu.
Setiap pergumulan berlangsung lebih dari satu jam, dan mereka melakukannya berulang kali sepanjang malam.
Malam panjang yang menyakitkan itu baru berakhir ketika rasa lelah yang luar biasa membuat seluruh tubuh Kirana mati rasa.
"Masih belum bangun? Mau tambah satu ronde lagi?" Satria menatapnya dengan cemoohan, lalu dengan santai menyibakkan tirai jendela lebar-lebar.
Cahaya matahari pagi menerobos masuk, seketika menerangi setiap sudut kamar dan memperjelas bercak-bercak merah di leher Kirana. Tanda-tanda itu adalah bukti kekejaman Satria semalam, sebuah aib yang tak bisa ia hindari.
Kirana berjuang untuk bangkit dan berdiri di depan cermin. Ia menyentuh pelan tanda-tanda kemerahan itu, merasakan perih sekaligus kehinaan yang mendalam. "Kamu sengaja menyiksaku semalam hanya untuk mempermalukanku di kantor hari ini."
Kirana tahu tanda-tanda ini tidak akan mudah disembunyikan; ia harus mencari cara untuk menutupinya.
Pandangannya kemudian jatuh pada sehelai syal di dalam lemari. Itu adalah syal peninggalan almarhumah ibunya, benda kesayangannya. Tanpa suara, ia mengambil syal itu, melilitkannya dengan hati-hati di leher, berusaha sebisa mungkin menutupi jejak-jejak tersebut.
Setelah berpakaian rapi, Kirana menarik napas dalam-dalam dan bersiap memulai pekerjaan barunya sebagai sekretaris Satria.
Ia bergumam pelan, "Kirana, kamu pasti bisa melewati ini."
Ia sadar pekerjaan ini akan menjadi awal dari penderitaannya, tapi ia tak punya pilihan selain menelan semuanya demi keluarga. Ia melangkah keluar dari rumah mewah itu, dan sengatan matahari di wajahnya membuatnya merasa sedikit pusing.
Langkah Kirana terasa berat. Tubuh dan pikirannya sudah berada di titik nadir kelelahan. Namun, ia harus terus berjalan.
Kirana tiba di perusahaan milik Satria, melangkah masuk ke dalam gedung pencakar langit yang menjulang tinggi.
"Bu Kirana, kok tumben ke sini?" Satpam yang berjaga langsung mengenalinya dan menyapa dengan ramah.
Kirana menunjukkan kartu akses di tangannya. "Saya mau kerja, Pak."
Di bawah tatapan heran sang satpam, langkah kaki Kirana bergema nyaring di lantai marmer yang licin. Jantungnya berdegup kencang.
Ini akan menjadi medan perang barunya, dan ia harus bertahan hidup di sini.
Ia berjalan menuju area kantor Satria, di mana beberapa sekretaris sudah sibuk bekerja. Berbagai tatapan aneh mengikutinya sejak dari pintu masuk.
"Bu Kirana masuk kerja? Bukannya dia sama Pak Satria sudah cerai?"
"Mana mungkin dia masih dipanggil 'Nyonya' setelah keluarganya bangkrut? Paling-paling dia ke sini cuma buat cari muka sama Pak Satria!"
Mereka menyadari syal yang melilit leher Kirana, mata mereka berkilat penuh rasa ingin tahu dan curiga.
"Jangan-jangan, mentang-mentang masih ada hubungan keluarga, dia sengaja menggoda Pak Satria? Apa dia berubah dari mantan istri jadi simpanan?"
"Ah, masa Pak Satria orangnya kayak gitu? Pasti ada kesepakatan rahasia di balik ini."
Kirana mengabaikan semua kasak-kusuk itu, tidak menunjukkan sedikit pun kelemahan atau rasa takut di tempat ini.
"Syal itu jelek sekali! Kenapa nggak dilepas saja biar semua orang lihat hasil karya kita semalam?" Satria duduk di balik meja kerjanya, tersenyum dingin. Ia menatap Kirana, matanya penuh provokasi dan ejekan.
Kirana berpura-pura tidak mendengar apa pun, lalu bertanya dengan nada datar, "Pak Satria, apa yang perlu saya kerjakan sekarang?"
Suara Sebastian terdengar berat dan penuh wibawa. "Ada pekerjaan yang harus kamu selesaikan."
Dia menyerahkan setumpuk dokumen tebal kepada Christina. Tumpukan itu begitu tinggi dan berat sampai-sampai Christina hampir kehilangan keseimbangan saat menerimanya. Beban kerja ini jelas jauh melampaui tugas wajar seorang sekretaris.
"Rapikan semua dokumen ini dan pelajari situasi perusahaan saat ini. Semuanya harus selesai hari ini juga." Nada bicara Sebastian tak ubahnya sebuah perintah mutlak.
Christina mengangguk tanpa sepatah kata pun. Melawan pun percuma. Dia menerima dokumen-dokumen itu dalam diam dan segera mulai bekerja.
"Pak Sebastian benar-benar tahu cara main, ya. Dia mau tunangan sama artis terkenal, tapi mantan istrinya malah dijadikan sekretaris."
"Mbak Christina sebenarnya masih menarik, sih, tapi sayang keluarganya tiba-tiba bangkrut. Kasihan juga."
"Apaan sih lo? Lihat tuh lehernya ditutup-tutupin begitu, jelas banget dia dapat kerjaan ini lewat 'servis khusus' yang nggak bisa diomongin."
Orang-orang lain di kantor mulai berbisik-bisik, mata mereka sesekali melirik ke arah leher Christina. Tatapan mereka penuh rasa ingin tahu bercampur jijik. Diam-diam, mereka mulai mengucilkan dan menindas Christina lewat sindiran halus.
Christina berusaha tetap tenang. Dia mulai lembur, memilah dokumen dengan panik dan merekap data satu per satu. Jari-jarinya menari cepat di atas papan ketik, sementara matanya terpaku pada layar komputer. Tubuhnya sudah lelah luar biasa, tapi dia tidak bisa berhenti; pekerjaan ini harus selesai.
Malam semakin larut. Semua orang di kantor sudah pulang, menyisakan Christina seorang diri.
"Akhirnya selesai." Christina meregangkan otot-ototnya dengan lega. Dia berdiri, bersiap untuk pulang.
"Tas aku mana?" Tiba-tiba dia teringat tasnya tertinggal di meja Sebastian. Dia membatin, Jam segini harusnya dia sudah pulang, kan?
Dengan hati-hati, Christina mendekati pintu ruangan Sebastian. Tepat saat itu, dia mendengar suara aneh.
"Mas Sebastian, jangan, nanti kalau ada orang masuk gimana?" Suara Laura terdengar pura-pura malu, padahal tubuhnya menempel erat pada Sebastian bagaikan ular.
Mata Sebastian penuh gairah. "Laura, memangnya kamu nggak mau?"
Wajah Laura memerah, dia terus mengembuskan napas hangat ke telinga Sebastian. "Mas, aku mau!"
Pintu ruangan Sebastian sedikit terbuka, dan dalam sekilas pandang, Christina melihat dua tubuh yang saling membelit itu.
Laura mendesah manja, "Mas Sebastian, aku mau kamu!"
Sebastian dan Laura sedang bermesraan di dalam sana, dan desahan Laura yang tak tertahan menggema di kantor yang sunyi itu. Kepala Christina terasa pening. Hatinya dipenuhi rasa sakit dan penghinaan yang mendalam. Meski dia sudah menduga mereka pasti punya hubungan intim, melihatnya langsung di depan mata tetap saja tak tertahankan.
Sebastian melihat Christina berdiri di ambang pintu. Dia memang sengaja membiarkan Christina melihatnya. Senyum puas tersungging di wajahnya.
"Laura, kamu cantik sekali! Perempuan itu sama sekali nggak ada apa-apanya dibanding kamu." Sebastian sengaja memperhebat gerakannya, matanya menatap Christina penuh provokasi dan ejekan.
Perut Christina terasa mual; dia tidak sanggup menanggung penghinaan seperti ini dan segera membalikkan badan. Dia berlari keluar dari gedung kantor menuju jalanan.
Angin malam menerpa wajahnya, mengeringkan air mata yang meninggalkan jejak perih di pipi.
Hati dan tubuhnya terasa dingin, membeku.
Apa begini hidupku mulai sekarang? Dia merasakan keputusasaan dan ketidakberdayaan yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.
