Bab 1 Dibebaskan dari Neraka
Hujan deras menghantam jendela-jendela Pusat Rehabilitasi Jiwa Lembah Asri.
Di dalam ruang direktur, Pak Sanjaya gemetar. Bukan karena dingin, melainkan karena wanita yang duduk di hadapannya.
Alya Putri duduk dengan kaki menyilang, santai membolak-balik berkas kepulangannya. Ia hanya mengenakan seragam rumah sakit yang polos, namun auranya bak seorang ratu yang sedang menginspeksi rakyatnya.
“Pak Sanjaya,” suara Alya lembut, tetapi sukses membuat bulu kuduk sang direktur meremang. “Tangan saya sampai sakit karena menampar Bapak tadi. Semoga kepala botak Bapak tidak apa-apa.”
Pak Sanjaya mengusap-usap kepalanya yang licin, memaksakan senyum ketakutan. “Su-suatu kehormatan bagi saya, Nona Alya. Mobil dari keluarga Wicaksono sudah menunggu. Anda sudah bebas.”
“Bebas?” Alya berdiri. “Tiga tahun. Akhirnya ayahku ingat kalau dia punya anak.”
Ia melangkah keluar dari ruangan itu. Begitu kakinya menapaki koridor, suara riuh rendah yang kacau dari seluruh penjuru rumah sakit jiwa itu seketika lenyap.
Puluhan pasien—yang beringas, tidak stabil, dan berbahaya—berdiri berbaris merapat ke dinding. Saat Alya lewat, mereka semua menundukkan kepala dalam kepatuhan mutlak. Tak ada yang berani bernapas terlalu keras.
Dalam tiga tahun, Alya tidak hanya bertahan hidup di neraka; ia telah menaklukkan iblis-iblis di dalamnya.
Di luar gerbang besi, sebuah mobil sport merah telah menunggu. Rina Lestari bersandar di mobil itu, melambai dengan panik.
“Masuk! Nggak nyangka mereka akhirnya bebasin kamu!” teriak Rina.
Alya masuk ke kursi penumpang, ekspresinya sulit dibaca. “Sudah ketemu informasinya?”
Rina menyerahkan sebuah tablet sambil tancap gas. “Baskara Adhitama. Cucu tertua keluarga Adhitama. Lima tahun lalu, kecelakaan mobil membuatnya lumpuh dari pinggang ke bawah. Kabarnya dia kejam, wajahnya rusak, dan kemungkinan besar impoten.”
“Sempurna,” gumam Alya, jarinya menggulir layar tablet.
“Sempurna?” Rina meliriknya, ngeri. “Alya, ayahmu itu menjadikanmu pion! Dia mau kamu menikah dengan orang cacat cuma demi kesepakatan bisnis. Kenapa kamu setuju?”
Alya mengelus perutnya yang rata. Tatapannya menggelap.
“Karena dokter yang membantuku melahirkan tiga tahun lalu, bekerja untuk keluarga Adhitama.”
Tiga tahun lalu, ia dibius, ditiduri oleh pria asing misterius, dan hamil. Setelah melahirkan, ibu tirinya, Fenita, mengatakan bayinya lahir mati dan langsung menjebloskannya ke rumah sakit jiwa.
Tapi Alya tahu kebenarannya. Ia sempat mendengar tangisan bayinya. Anaknya masih hidup.
“Aku akan menikahi Baskara,” ucap Alya dengan suara mantap dan penuh tekad. “Aku akan menemukan anakku. Dan untuk keluarga Wicaksono…” Ia menyentuh gelang berharga di pergelangan tangannya. “Akan kubakar dunia mereka sampai jadi abu.”
Kediaman Keluarga Wicaksono.
“Ibu! Aku nggak mau! Aku nggak mau menikah sama monster itu!” Citra Wicaksono membanting vas bunga ke lantai, berteriak histeris. “Ayah bilang kalau Kak Alya menolak, aku yang harus pergi! Baskara itu cacat dan psikopat!”
Fenita memeluk putrinya, tersenyum licik. “Tenang, sayangku. Alya itu cuma pasien sakit jiwa, nggak punya uang, nggak punya kuasa. Dia nggak punya pilihan lain. Dia pasti akan memohon dan berterima kasih pada kita karena sudah mencarikannya suami.”
“Oh, ya?”
Sebuah suara dingin memotong ucapan mereka.
Pintu kayu jati yang berat itu terbuka lebar. Alya melangkah masuk, mengenakan gaun sederhana yang dibelikan Rina, namun auranya memenuhi ruangan dengan tekanan yang menyesakkan.
Fenita membeku. Ini… bukan gadis hancur yang ia buang dulu.
“Alya!” Fenita segera menutupi keterkejutannya dengan keangkuhan. “Berani sekali kamu tidak sopan, nyelonong masuk tanpa ketuk pintu seperti orang liar! Ini yang kamu pelajari di tempat itu?”
Alya berjalan lurus ke arah mereka. Ia tidak berhenti sampai wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari muka Fenita.
“Aku belajar banyak hal di rumah sakit jiwa, Ibu Tiri,” Alya memiringkan kepalanya, sebersit kilat berbahaya terpancar di matanya. “Contohnya, cara membereskan hama.”
“Kamu—”
“Aku dengar Ibu mau aku menikahi anggota keluarga Adhitama untuk menggantikan Citra,” potong Alya, melirik Citra yang pucat pasi ketakutan. “Aku setuju.”
Fenita dan Citra sontak menghela napas lega.
“Tapi,” tambah Alya dengan dingin. “Ada syaratnya.”
