Bab 2 Harga Pengantin
“Syarat? Kamu pikir kamu punya posisi untuk bernegosiasi?” cibir Ratih sambil melipat tangan di dada. “Ayahmu sudah memutuskan. Kamu tidak lebih dari sekadar alat bagi keluarga ini.”
“Oh, begitu?” Alya menyeringai. Tiba-tiba, ia bergerak cepat dan menampar Mita dengan keras.
PLAK!
Suaranya menggelegar seperti letusan senapan.
Mita menjerit, memegangi pipinya sambil terhuyung mundur. “Kamu menamparku! Ibu, dia menamparku!”
“Alya! Kamu sudah gila?” pekik Ratih, mengangkat tangannya hendak membalas.
Alya menangkap pergelangan tangan Ratih di udara. Cengkeramannya sekuat besi. Ia meremasnya, dan Ratih memekik kesakitan saat merasakan tulangnya seakan diremukkan.
“Dengar baik-baik,” bisik Alya, wajahnya tenang namun mengerikan. “Aku bukan lagi gadis yang kalian tindas tiga tahun lalu. Kalau kalian mau aku menikahi pria cacat itu agar putri kesayanganmu ini tidak perlu melakukannya, maka berikan apa yang aku mau.”
“Lepaskan! Dasar gila!” raung Ratih.
“Ada apa ini?!”
Baskoro Wicaksono menyerbu masuk ke ruang keluarga. Ia melihat Alya mencengkeram pergelangan tangan istrinya, dan wajahnya langsung memerah karena marah. “Alya! Lepaskan dia sekarang juga!”
Alya mendorong Ratih hingga jatuh terduduk di sofa sambil terisak-isak. “Mas Baskoro! Dia sudah tidak terkendali! Kirim dia kembali ke rumah sakit jiwa!”
“CUKUP!” bentak Baskoro. Ia menatap Alya dengan mata dingin. “Seharusnya kamu bersyukur kami carikan suami untukmu. Keluarga Adijaya itu keluarga terpandang. Menikahi Bima adalah sebuah berkah untuk barang rusak sepertimu.”
“Berkah?” Alya tertawa hambar. “Kalau begitu, biarkan Mita yang menerima berkah itu.”
Wajah Mita langsung pucat pasi. “Jangan! Ayah, aku tidak mau menikah dengannya!”
Baskoro memijat pelipisnya. Ia butuh aliansi ini. Perusahaan sedang di ambang kehancuran. “Alya, apa yang kamu mau?”
“Harta warisan ibuku,” kata Alya dengan jelas. “Terutama, kotak perhiasannya. Berikan padaku sekarang, dan aku akan langsung masuk ke mobil menuju Kediaman Adijaya.”
“Tidak mungkin!” teriak Ratih. “Perhiasan itu nilainya miliaran! Sebagian sudah kami jual, dan sisanya dipakai Mita!”
“Kalau begitu, lebih baik Mita mulai berkemas untuk pernikahannya,” Alya mengangkat bahu, berbalik hendak pergi.
“Tunggu!” seru Baskoro. Ia menatap tajam ke arah Ratih. “Ambil kotak itu. Sekarang.”
“Tapi, Mas—”
“LAKUKAN! Kamu mau perusahaan kita bangkrut?”
Sepuluh menit kemudian, Ratih melempar sebuah kotak beludru ke atas meja, matanya penuh racun. “Ambil dan enyah dari sini. Aku harap Bima membunuhmu.”
Alya mengabaikannya. Ia membuka kotak itu. Sebagian besar perhiasan giok yang berharga masih ada di sana. Jari-jarinya menelusuri setiap keping hingga ia merasakan sesuatu yang dingin dan terbuat dari logam di bagian dasar.
Ia menariknya keluar.
Bukan milik ibunya. Ini sebuah cincin. Cincin perak yang berat dengan ukiran lambang gagak berkepala dua.
Jantung Alya berdetak kencang.
Cincin ini… ia ingat. Malam saat ia dibius tiga tahun lalu. Pria di dalam kegelapan itu. Cincin ini ada di jarinya. Dalam pergulatan mereka, cincin itu pasti terlepas dan tercampur dengan barang-barangnya sebelum Ratih mencuri semuanya.
Ayah dari anaknya.
Alya menggenggam cincin itu erat-erat. Aku akan menemukanmu juga.
“Bagaimana?” hardik Baskoro. “Sudah puas?”
“Sangat,” Alya menutup kotak itu dengan keras. “Jangan harap aku akan datang berkunjung.”
Ia berjalan keluar dari rumah keluarga Wicaksono tanpa menoleh ke belakang. Sebuah limosin hitam dari keluarga Adijaya sudah menunggu.
Saat mobil melaju, Alya menatap cincin gagak itu lagi.
Pertama, anakku. Lalu, pria dari malam itu. Kemudian, pembalasan dendam.
Mobil melaju selama satu jam, meninggalkan kebisingan kota, dan memasuki sebuah kawasan pribadi yang sangat luas. Gerbang besi Kediaman Adijaya menjulang tinggi seperti pintu masuk ke sebuah benteng.
Suasana di sini berbeda. Dingin. Sunyi. Berbahaya.
Sopir membukakan pintu. “Tuan Bima sudah menunggu di ruang utama.”
Alya melangkah keluar. Ia berjalan memasuki aula megah itu. Ruangan itu kosong, kecuali sebuah perapian raksasa.
Tiba-tiba, sebuah geraman rendah menggema dari bayang-bayang.
Seekor anjing Dogo Argentino berukuran raksasa melesat maju, langsung mengincar lehernya. Alya nyaris tak punya waktu untuk berpikir sebelum seratus kilogram kekerasan murni itu mendekat.
Alya tidak berteriak. Ia tidak lari.
Saat rahang binatang buas itu terbuka hanya beberapa senti dari lehernya, ia mengelak ke samping dengan gerakan yang anggun dan luwes. Tangannya bergerak secepat kilat—sebuah kilatan perak.
Ia menekan sebuah titik saraf di belakang telinga anjing itu.
Binatang raksasa itu melenguh di udara dan langsung ambruk ke atas karpet, lumpuh namun tidak terluka.
“Mengesankan.”
Sebuah suara yang dalam dan serak datang dari puncak tangga.
