Bab 3 Sentuhan Penyembuhan

Alya mendongak.

Di puncak tangga utama yang megah, duduk seorang pria di kursi roda.

Rangga sungguh luar biasa tampan, dengan rahang tegas dan fitur wajah aristokrat. Namun, mata birunya yang tajam menyala dengan kebencian yang dingin.

“Kau pasti persembahan dari keluarga Wijoyo,” kata Rangga, suaranya penuh dengan nada merendahkan. Ia mendorong kursi rodanya maju. “Apa mereka sudah memberitahumu kalau tiga tunanganku sebelumnya lari tunggang-langgang?”

“Mereka bilang Anda lumpuh,” jawab Alya dengan tenang sambil merapikan gaunnya. “Mereka tidak bilang kalau Anda menyambut tamu dengan gonggongan anjing.”

Mata Rangga menyipit. Ia tidak terbiasa dibantah. “Kau punya nyali juga. Kita lihat sampai kapan itu bertahan.”

Tiba-tiba, Rangga meringis. Tangannya terangkat ke pelipis. Wajahnya berkerut menahan sakit yang luar biasa, dan urat-urat di dahinya menonjol.

“Tuan Rangga!” Seorang kepala pelayan bergegas maju.

“Per... gi...” Rangga mengerang dengan gigi terkatup rapat. Rasa sakit di kepalanya begitu menyilaukan, seperti ribuan pisau menusuk bersamaan. Inilah kutukan yang menghantuinya sejak kecelakaan itu.

Tubuhnya kejang. Ia terkulai lemas di kursi roda, tak sadarkan diri.

“Tuan Rangga!” Kepala pelayan itu menjerit. “Panggil Dokter Tirtayasa! Cepat!”

Kekacauan meletus. Para pelayan berlarian ke segala arah.

Seorang wanita tua, Ibu Larasati Adiwangsa, bergegas dari ujung lorong bersama paman Rangga, Pak Suryo, dan bibinya, Bu Vania.

“Rangga! Ya Tuhan, jangan lagi!” tangis Bu Larasati, mencengkeram tongkatnya.

Alya mengamati sejenak. Ia melihat semburat ungu di bibir Rangga. Pria itu tidak hanya kesakitan; jalur sarafnya sedang lumpuh. Dalam lima menit, ia akan mati otak.

Tanpa ragu, Alya bergegas menaiki tangga, menerobos para pelayan yang panik. Ia berlutut di samping kursi roda, mengeluarkan satu set jarum akupunktur perak dari tasnya, dan merobek kerah kemeja Rangga.

“Apa yang kau lakukan?!” bentak Suryo. “Menjauh darinya, perempuan gila!”

“Dia akan mengalami syok,” kata Alya dingin, menusukkan jarum ke leher Rangga dengan presisi seorang ahli bedah. “Kalau Anda ingin dia hidup, diam.”

“Kau—beraninya kau!” Suryo menerjang untuk menangkapnya. “Satpam! Usir dia keluar!”

“Berhenti!”

Perintah itu datang dari ambang pintu. Seorang pria tua berambut putih berlari masuk, membawa tas medis. Dia adalah Tirtayasa, ahli saraf paling terkenal di negeri ini.

Suryo menunjuk Alya. “Dokter Tirtayasa! Wanita ini menusuk Rangga dengan jarum! Dia mencoba membunuhnya!”

Tirtayasa melihat jarum di leher Rangga. Matanya terbelalak.

“Tunggu,” bisik Tirtayasa. Ia bergegas mendekat, memeriksa penempatan jarum itu.

Ia menatap Alya dengan kaget dan kagum. “Nona, berhenti? Tidak, jangan berhenti! Lanjutkan! Kalau Anda berhenti sekarang, aliran darahnya akan berbalik!”

Suryo membeku. “Apa?”

“Dia sedang menyelamatkan nyawanya!” teriak Tirtayasa. “Teknik ini... ini Sembilan Jarum Pusaka. Kukira itu hanya mitos.”

Ruangan itu hening seketika. Semua orang menyaksikan tangan Alya bergerak secepat kilat. Satu jarum. Dua. Lima.

Keringat mulai membasahi dahinya.

Akhirnya, saat jarum kesembilan tertancap di pelipis Rangga, pria itu tersentak.

Matanya terbuka lebar.

Ia mengambil napas dalam-dalam dan tersengal. Rasa sakit yang menyiksa itu hilang. Untuk pertama kalinya dalam lima tahun, kepalanya terasa jernih.

Ia mendongak, pandangannya mulai fokus. Hal pertama yang dilihatnya adalah wajah seorang wanita, sangat dekat dengannya, dengan mata yang tajam dan penuh konsentrasi.

“Kau...” Suara Rangga serak.

“Jangan bergerak,” perintah Alya, meletakkan stetoskop di dadanya. “Aku baru saja menarikmu kembali dari neraka. Jangan melompat ke sana lagi.”

Tirtayasa menatap Alya dengan takjub. “Luar biasa. Benar-benar luar biasa. Siapa guru Anda?”

“Saya belajar sendiri,” bohong Alya dengan lancar sambil berdiri. Ia menatap anggota keluarga Adiwangsa yang masih terpana.

Bu Larasati gemetar dengan air mata berlinang. “Dia sadar... dia benar-benar sadar.” Ia berjalan mendekat dan meraih tangan Alya. “Kau... kau adalah sebuah keajaiban.”

Suryo dan Vania berdiri di belakang, wajah mereka pucat pasi. Mereka saling bertukar pandang penuh ketakutan. Gadis ini bukan sekadar pajangan. Dia berbahaya.

Rangga menatap Alya. Ia merasakan kehangatan aneh menyebar di tubuhnya—sesuatu yang sudah bertahun-tahun tidak ia rasakan.

Ia meraih pergelangan tangan Alya. Cengkeramannya kuat.

“Siapa kau?” tanya Rangga, mata gelapnya mengunci pandangan Alya.

Alya menatapnya tanpa gentar. “Aku istrimu. Dan kau berutang satu nyawa padaku.”

Bab Sebelumnya
Bab Selanjutnya