Bab [2] Perceraian

Hanya sebuah ejekan sederhana, namun hati Sari Sutanto justru langsung dipenuhi rasa sakit.

Tidak ada yang tahu bahwa Sari Sutanto mencintai Fuad Fajar.

Meski dulu dialah yang memaksa Fuad menikah dengannya dengan kontrak pernikahan, dia pernah diam-diam merasa bahagia karena bisa menjadi istrinya.

Namun setelah Fuad Fajar menikahinya, pria itu benar-benar memperlakukannya seperti pajangan.

Jangankan menyentuhnya, bahkan meliriknya saja sudah membuatnya muak.

Keluarga Fajar terus mendesaknya untuk melahirkan pewaris, Kakek juga berharap segera menggendong cicit.

Awalnya dia memahami bahwa Fuad terpaksa berpisah dari cinta pertamanya, jadi ada dendam di hatinya. Tapi, Sari tidak mau ambil pusing.

Baru malam ini dia tahu, ternyata dia menjaga kesuciannya untuk Rina Sutanto.

Benar-benar... menyebalkan!

Mereka sudah menikah, kenapa Fuad masih membicarakan masalah menjaga kesucian?

Bagaimanapun juga sudah barang bekas!

Semakin Sari Sutanto memikirkannya, semakin kesal dia. Semakin kesal, semakin cerah senyumnya.

"Kalau kamu tidak bisa berhubungan intim, aku tidak keberatan dengan program bayi tabung. Atau kalau kamu tidak keberatan jadi ayah tiri, aku juga bisa cari donor sperma. Kamu tahu kan, Kakek bilang, syarat untuk mendapat hak waris adalah punya anak. Setelah hari ini, kamu masih punya waktu dua bulan, pikirkan baik-baik."

"Lagi pula, kamu sudah berkompromi menikah denganku demi mendapatkan sepuluh persen saham. Jadi, kamu seharusnya tidak keberatan memiliki anak denganku. Aku orangnya terbuka kok, asalkan kamu selesaikan tugasmu, mau main-main gimana, mau pelihara berapa selir aku juga tidak keberatan..."

Sebelum Sari Sutanto selesai berbicara, Fuad tiba-tiba berdiri, lalu mencengkeram dagu dan mendorongnya ke belakang.

Kursi terjungkal dan menabrak meja di belakangnya karena kehilangan keseimbangan.

Mata gelap pria itu tampak menakutkan, serta memancarkan cahaya yang dingin.

"Sari Sutanto, menganggapku alat pembuat anak, berani sekali kamu?"

Berani sekali??

Kenapa aku tidak berani?!

Ketika Kakek Fajar menghadapi masalah, Sari nekat datang dengan membawa kontrak pernikahan dan memaksa Fuad menikahinya. Apa ada hal yang tidak berani dia lakukan?

Sari memejamkan mata, berusaha menahan rasa tidak nyaman yang memenuhi hatinya, "Bayi tabung, donor sperma atau kamu sendiri yang membuat anak denganku, silakan pilih sendiri!"

Fuad menatap wajah dingin yang menyiratkan ejekan itu, sementara berbagai emosi bergejolak di matanya.

Hingga sekarang, belum pernah ada orang yang berani mengancamnya seperti ini .

Fuad tertawa marah, "Apa kamu pantas melahirkan anakku?!"

Sari Sutanto juga tertawa, mata rubah cantiknya menyipit memanjang, memancarkan kilatan tajam.

"Baiklah!"

Dia mengulurkan tangan untuk mendorong pria itu, pusat gravitasi bergeser ke depan bersama kursi yang mendarat.

Begitu kakinya menyentuh lantai, dia langsung berdiri, lalu membuka tas dan melemparkan setumpuk dokumen ke wajah Fuad.

"Kalau begitu, kita bercerai saja. Kebetulan teman-temanmu ada di sini, mereka bisa menjadi saksi. Aku juga tidak mau membuang waktu dengan pria tukang selingkuh yang bahkan tidak bisa memberiku anak!"

Tidak ada yang tahu berapa besar keberanian yang dibutuhkan Sari Sutanto untuk mengucapkan kalimat itu.

Surat cerai ini sudah lama dia simpan di tasnya, sejak dia gagal menggoda Fuad Fajar untuk yang ke-99 kalinya, dia sudah mempersiapkannya.

Dia memang mencintai Fuad, tapi hanya sampai di sini.

Sari sudah melangkah 99 langkah menuju pria itu, tapi dia bahkan tidak mau melangkah satu langkah terakhir.

Apalagi, dia tidak seharusnya mempermalukannya dengan Rina Sutanto.

Dengan latar belakang keluarga Fajar, Fuad Fajar sejak kecil memang menjadi pemimpin di lingkaran mereka.

Ditambah setelah dewasa, dia mengambil alih perusahaan dan secara bertahap mengembangkan Grup Fajar menjadi konglomerat multinasional yang masuk ke jajaran terdepan di dunia bisnis.

Tidak ada orang yang berani melempar sesuatu ke wajahnya di depan umum.

Apalagi di depan banyak orang seperti ini.

Suasana ballroom langsung dingin seperti mau membeku, hanya Rina yang merasa sangat bahagia.

Dia pura-pura melerai, "Kak, kenapa Kakak membahas perceraian dengan Kak Fuad di depan banyak orang?Hal ini akan membuat Kak Fuad merasa malu! Cepat minta maaf sama kakak ipar, soal cerai, lupakan saja!"

"Kalau Kakak marah karena merasa kami melewati batas ketika bercanda, aku bersedia minta maaf. Jangan sampai aku memengaruhi hubungan kalian sebagai suami istri. Aku akan merasa berdosa, Kak!"

"Kamu pikir kamu siapa, sampai berani mempengaruhi hubungan aku dan dia."

Sari memandang Rina dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan wajah jijik, "Cepat pergi, kamu tidak punya hak untuk berbicara di sini!"

Rina Sutanto menutup mulut dengan mata merah penuh keluhan, matanya penuh kedengkian.

Sari Sutanto, terus saja bersikap sombong. Semakin sombong kamu, Fuad akan semakin membencimu.

"Fuad Fajar, kalau mau cerai cepat tanda tangan. Di ranjang tidak becus, bercerai juga membuang banyak waktu. Sebenarnya, kamu ini laki-laki atau bukan!"

Perkataan Sari membuat Rina kesal dan dia langsung membela Fuad.

"Kak, perkataanmu terlalu kejam. Kak Fuad adalah seorang laki-laki, kamu tidak boleh merendahkan harga dirinya!"

Sari Sutanto mengejek, pandangan menyelidiknya berputar di antara keduanya, "Kamu bilang dia masih punya harga diri sebagai seorang pria?! Apa kamu pernah mencobanya?"

Kalau mereka berdua pernah berselingkuh, Sari bisa meminta bagian lebih banyak dalam pembagian harta di surat cerai.

Lagipula, selingkuh dalam pernikahan, dia bisa divonis kehilangan semua harta!

Wajah Rina langsung berubah menjadi merah, dia melirik ke arah Fuad dengan pandangan malu-malu.

Dia memang sudah lama ingin mencoba tidur dengan pria itu!

Lagipula, Fuad Fajar adalah pria impiannya sejak kecil.

Sayang sekali....

Rina Sutanto mengepalkan tangan, "Kamu tidak usah memfitnah aku, menjebakku, hubunganku dan kakak ipar bersih ."

Sari Sutanto tertawa mengejek, "Kamu duduk di pangkuan Fuad dan hampir saja menciumnya, itu yang kamu anggap bersih? Memang cukup bersih sih!"

Wajah Rina langsung berubah menjadi pucat.

Fuad Fajar tertawa dingin menatap Sari Sutanto, matanya gelap menakutkan, "Kamu sudah tidak sabar ingin bercerai, apa kamu sudah memiliki kekasih lain di luar?"

"Ada atau tidak, itu juga bukan urusanmu. Meski sekarang belum ada, setelah bercerai pun bisa saja ada.!" Sari Sutanto mengangkat ujung mata, mata rubahnya membentuk lengkungan indah.

Dia masih harus mencari cara untuk memenuhi keinginan Kakek.

Kodok berkaki tiga sulit dicari, tapi ada banyak laki-laki di dunia.

Meski mencari yang lebih unggul dari Fuad Fajar mungkin sulit, tapi mencari yang hampir sama pasti bisa!

"Kenapa kamu merasa tidak puas? Aku telah membantumu dengan perceraian ini. Jangan-jangan kamu tidak mau memberi status resmi pada cinta pertamamu, mau selamanya dia jadi selingkuhan gelap?"

"Tsk tsk tsk, memang laki-laki..."

Nada yang penuh makna membuat wajah Rina Sutanto berubah, Dia menatap Fuad dengan penuh harap bercampur cemas.

Namun, Fuad bahkan tidak memandangnya, dia menatap Sari seolah-olah ingin menembus jiwa wanita itu.

Setelah terdiam untuk waktu yang cukup lama, dia berkata dengan perlahan, "Kita bisa bercerai!"

"Kamu mengatakan bahwa kamu sangat ahli dalam permainan kartu. Aku akan tanda tangan jika kamu menang melawanku!"

Fuad Fajar mengangkat kartu poker di meja, mata menyipit memancarkan emosi yang tidak bisa ditebak.

Sari Sutanto tidak bicara, hanya menatapnya sambil tersenyum.

Senyumnya sangat dingin, serta memancarkan ejekan merendahkan yang tidak bisa dijelaskan.

"Kenapa diam? Apa kamu merasa takut?"

Fuad Fajar melempar kartu kembali ke atas meja, senyum di wajahnya memancarkan penghinaan.

"Mencoba main tarik ulur denganku? Sari, kamu terlalu naif."

Sari Sutanto tertawa dingin, "Ingat kata-katamu, jangan ingkar janji kalau kamu kalah!"

Setelah menyampaikan maksudnya, dia mulai melepas mantel.

Sari langsung datang dari pesta ulang tahun Kakek Fajar, jadi dia masih mengenakan gaun merah dari pesta itu.

Itu adalah gaun perang yang sengaja dia pilih, dengan desain punggung terbuka yang memperlihatkan tulang belikatnya yang indah serta kulit putihnya yang halus.

Potongan pinggang yang pas menonjolkan lekuk rampingnya, seolah bisa digenggam dengan satu tangan, sementara garis dadanya membentuk lengkungan yang indah.

Dia cantik seperti peri jahat, setiap gerak dan senyumnya membuat orang sulit bernapas.

Perhatian para pria di dalam ruangan langsung tertuju padanya!

Sari memiliki penampilan seperti bidadari. Bagaimana mungkin Fuad mampu mengabaikannya selama bertahun-tahun dan tidak pernah menyentuhnya?

Jangan-jangan, dia benar-benar memiliki masalah di atas tempat tidur?!

Beberapa orang memberanikan diri untuk melirik ke arah kedua kaki Fuad.

Wajah Fuad langsung berubah menjadi gelap karena amarah.

Pandangannya jatuh pada Sari Sutanto, tangan di atas meja mengepal, urat tangan menonjol.

Rina Sutanto melihatnya, cemburu sampai mata seperti kobaran api!

Wanita jalang ini tumbuh di desa, tapi kulitnya terlihat halus seperti sutra.

Wajah seperti rubah, hanya tahu menggoda laki-laki.

Dasar wanita rendahan!

Sari Sutanto duduk di depan meja, tubuh sedikit condong ke depan, lalu dia dengan santai memainkan kartu di depannya, "Kamu mau main apa? Blackjack? Atau poker? Atau Texas hold'em?"

Teman-teman Fuad saling bertukar pandang, sepertinya Sari benar-benar mengerti permainan kartu!

"Blackjack, kamu akan kalah jika aku memilih yang sulit!"

Sari Sutanto tersenyum jahat, mulai mengocok kartu.

Jari-jarinya tampak ramping, seperti batang daun bawang.

Lima puluh empat kartu poker dimainkan sepuluh jarinya dengan berbagai trik, banyak gerakan bahkan membuat para anak orang kaya yang terbiasa main kartu berteriak kagum.

Hebat sekali!

Hanya dari teknik mengocok kartu, Sari Sutanto jelas ahli tingkat tinggi!

Bahkan, pandangan Fuad Fajar terhadap Sari juga sedikit berubah.

Sari Sutanto benar-benar bisa main kartu? Dari mana dia belajar?

Selesai mengocok kartu, Sari Sutanto membungkuk, membagikan kartu untuk Fuad Fajar.

Dia tidak sengaja memperlihatkan dadanya, sehingga membuat semua pria menelan ludah dengan susah payah.

Wajah Fuad langsung berubah menjadi gelap saat melihatnya!

Bab Sebelumnya
Bab Selanjutnya