Bab Dua Puluh

Andrei melirik jam tangannya, lalu menatap Adrik, lalu ke arahku. “Mereka masih belum bakal balik dalam waktu dekat. Boleh lihat?” tanyanya, ragu-ragu.

Adrik menoleh kepadaku, tapi aku mengembalikannya ke dia. “Terserah kamu, dan cuma kamu yang bisa memutuskan,” kataku, masih sibuk menyiapkan makan...

Masuk dan lanjutkan membaca