Bab Tiga

Asher Wolfe

“Jadi, Bexley beneran setuju ketemu?” aku memastikan lagi pada Dad.

Aku harus meninggikan suara menyaingi deru mesin penggiling kopi. Matahari pagi menumpahkan cahaya lewat jendela besar dari lantai sampai plafon, menampilkan garis pantai Dorset yang cantik menohok. Aku melewatkan lari pagiku di pantai karena ingin mengulik Dad soal obrolannya dengan Paman Jaxx. Dia bukan paman kandung—cuma panggilan akrab yang kami pakai untuk semua teman lama Dad semasa di Angkatan Laut.

Dad bahkan tak mengangkat pandangan dari korannya saat menjawab, “Hm. Itu kata Jaxx.” Ia bisa meraih piringnya tanpa melihat, lalu mengangkat sepotong roti panggang berbentuk segitiga yang sudah diolesi mentega ke mulutnya.

Aku mengembuskan napas, tak percaya, sambil menyeret jari-jariku melewati rambut cokelat tua yang tebal. “Nggak nyangka dia bilang iya. Kupikir dia pasti nolak.”

Braxton dan Cruz duduk berseberangan dengan Dad di meja dapur, sama-sama berpotongan cepak ala militer, tapi rambut Braxton yang gelap kontras dengan Cruz yang pirang madu. Cruz meneguk jus jeruknya, sementara Braxton memutar sisa teh yang mengendap di dasar mug. Dominic bersandar di pulau dapur, jarinya menelusuri ponsel. Dia menguntit akun Instagram Bexley kayak orang kesetanan, sesekali meniup poni pirangnya yang jatuh menutupi mata. Kalau nggak menjelajah internet, waktunya habis buat mengejar ombak di laut.

Kali ini Dad melirik dari halaman olahraga. “Jangan keburu berharap. Dia setuju ketemu kita di London. Dia belum tahu apa isi kontraknya—atau kalau nyawanya terancam. Jaxx maunya tetap begitu sampai kita bisa nyusun rencana.”

Itu wilayah keahlianku: menyusun operasi senyap dan melacak mata-mata yang dikirim untuk mencuri dari pemerintah. Dominic jago urusan teknologi, Braxton spesialis persenjataan berat, dan Cruz agen lapangan kami—modelnya kayak James Bond. Dad dan Paman Jaxx direkrut langsung dari Angkatan Laut untuk memimpin divisi kontra-teror di MI6. Mereka sudah lama memburu seorang pria yang dikenal sebagai Chameleon. Paman Jaxx nyaris menjatuhkannya, tapi Chameleon keburu mendatangi ibu Bexley lebih dulu. Ibunya sudah tahu hari itu akan datang, jadi dia menitipkan liontinnya pada Bexley. Untung dia melakukannya—kalau tidak, Chameleon sudah mendapatkan informasi vital tentang pertahanan militer kami. Begitu Dad bilang penyamaran kami terbongkar dan hidup Bexley dalam bahaya, aku hampir tak bisa menahan diri untuk tidak memburunya sendiri. Tapi dia memang sesuai reputasinya—itulah sebabnya dia dijuluki “Si Bunglon”. Mustahil ditangkap, tapi saat dia datang untuk Bexley, kami akan siap.

Cruz memutar bola mata cokelat-kehijauannya. “Kontrak yang kamu maksud itu… lamaran nikah kita?” gumamnya, sarkastis seperti biasa.

“Dia nggak bisa nikah sama kita berempat secara hukum,” gerutu Braxton. “Maksudnya kita disuruh apa—main suit di depan penghulu?”

Itu masalah kami. Ada empat orang kami, dan cuma satu Bexley. Artinya dia harus memilih satu dari kami kalau mau mengucap janji di gereja. Aku dan saudara-saudaraku sudah berbagi apa pun: mainan, selera musik, dan kadang bahkan perempuan. Selisih antara aku dan Braxton dengan Cruz dan Dominic cuma seminggu. Ibu-ibu kami adalah surrogate yang melahirkan anak kembar. Kami nggak pernah tahu siapa mereka, tapi aku dan Brax mewarisi mata biru dari ibu kami. Cruz dan Dom dapat mata hazel Dad, tapi mereka pasti mewarisi rambut pirang dari ibu mereka. Dad selalu enggan bicara soal para ibu. Aku yakin mereka pergi sebelum tinta di cek mereka sempat kering. Beruntungnya, kami masih punya satu sama lain—dan Dad. Dad yang baik. Kapasitas emosinya seperti gorila punggung perak, dan kelembutannya seperti duri yang terselip di bawah alas piknik pada siang cerah di taman. Tapi dia menginginkan kami. Sekalipun cuma untuk melatih kami jadi prajuritnya, dia memastikan kami tak pernah kekurangan apa pun.

Tapi sudahlah soal itu.

Tak satu pun dari kami mau memaksa Bexley memilih di antara kami, jadi Dad menyuruh tim pengacaranya menyusun sebuah kontrak perdata yang mengikat Bexley pada kami berdua sekaligus. Celah hukum, begitu kata mereka—membuat kami bisa menikmati semua keuntungan hidup layaknya suami-istri, tanpa Bexley terseret kasus poligami ilegal. Di dalamnya ada pembahasan soal anak di masa depan dan keinginan kami menjaga identitas ayah biologis tetap anonim. Kami akan setia pada janji pernikahan dan membesarkan anak-anak kami dalam satu keluarga yang hangat. Kontrak itu juga menegaskan bahwa kami wajib melindungi Bexley dengan segala cara. Dia memegang kunci untuk membuka gudang dokumen rahasia pemerintah—informasi krusial yang bisa menimbulkan bencana kalau jatuh ke tangan yang salah. Ibunya mati demi menjaga rahasia yang sama.

“Dad pikir dia bisa ngatur semuanya,” sela Cruz, nada bosannya seperti biasa sukses bikin Dad kesal. “Pasti ada pasal yang ngatur dia mau dapet berapa cucu. Dia mungkin ngarep satu batalion anak Wolfe kecil.”

Dad mengangkat alis, menembakkan tatapan peringatan ke arah Cruz. “Jangan kebangetan. Belum terlambat aku tambahin klausul pantang dalam kontrak itu.”

Wajah Cruz langsung pucat oleh panik. “Nggak berani, anjir.”

Dad menatap datar, seolah berkata, coba aja.

“Yang aku tahu, pengaturan kita ini nggak romantis sama sekali,” kata Braxton. “Rasanya kayak transaksi bisnis, dan menurutku Bexley bakal tersinggung begitu dengar soal ini. Dia benci sama kita. Nggak mungkin dia semangat loncat ke… yah. Lebih mungkin dia pengin motongnya.”

“Nggak romantis?” Dominic mengernyit tak percaya. “Tapi kita cinta sama dia. Dari dulu selalu dia. Aku nggak bisa ngebayangin kita masing-masing punya hidup sendiri. Jalan sendiri-sendiri. Kalau kita nggak bisa punya Bexley, ya kita nggak punya siapa-siapa.”

Setidaknya untuk yang satu itu, kami sepakat.

Aku menunjuk Dominic. “Dan itu persis yang bakal kita bilang ke dia. Kalau kita cinta dia dan kita mau dia ada di hidup kita.”

Braxton mendengus ragu. “Iya, bilang gitu aja. Abis itu siapin pipi buat ditampar.”

Dominic mengabaikan komentar Braxton dan langsung balik ke mode penguntitnya. “Lihat foto yang dia unggah Sabtu malam.” Emoji hati seolah nyembur dari matanya. “Kayaknya aku butuh mandi air dingin.”

Telinga kami serempak siaga, seperti anjing keamanan yang kami latih.

“Lihatin,” kataku, mendekat untuk mengintip layar ponsel Dominic. Braxton dan Cruz ikut merapat, buru-buru mau lihat.

Jantungku berdegup aneh saat mataku menangkap Bex dengan baju yang menempel pas mengikuti lekuk tubuhnya. Meski sudah dewasa, dia tetap membawa keceriaan muda yang meledak-ledak itu. Matanya masih sebiru laut, berkilau bahagia; kulitnya mulus tanpa cela, sehat bercahaya. Tubuhnya seperti model kalender—lengkungnya tepat di tempat yang seharusnya, kakinya panjang seolah tak ada habisnya. Dia mengecat rambutnya. Itu satu-satunya perubahan yang langsung terlihat. Rambut cokelatnya jatuh bergelombang lembut di bahu, menarik perhatianku ke payudaranya yang penuh dan belahan dadanya yang mematikan. Kalau kami bisa meyakinkan dia jadi istri kami, duniaku bakal terasa utuh.

“Oke, cukup, kalian,” tegur Dad, akhirnya menurunkan korannya. “Kalau kalian mau menaklukkan hati gadis seperti Bexley Barker, kalian harus merayu dia dengan cara yang klasik.”

Cruz menatap Dad seolah baru dengar lelucon. “Merayu? Dad, Dad sadar ini abad berapa? Habis ini Dad nyuruh kita jalan sore ditemani pengawal dan ngejar dia satu-satu kali.”

Aku mengangkat tangan, memberi isyarat. “Tunggu dulu, mungkin Dad ada benarnya.”

Semua mata langsung tertuju padaku. Sebagai yang tertua—meski cuma selisih menit—adik-adikku selalu menempatkanku sebagai pemimpin.

“Gimana kalau bagian itu kita simpan dulu?” usulku, melihat alis Dad terangkat, tertarik.

Dominic dan Cruz tampak mempertimbangkan, tapi Braxton kelihatan keberatan. “Itu licik, Ash. Hubungan harus dibangun dari pondasi yang kuat: kebenaran dan kejujuran. Aku nggak setuju kalau kita narik dia masuk ke ini dengan dalih palsu.”

“Bohongnya di mana kalau kita nggak nyebut?” Aku seperti orang kepepet, ngotot cari celah apa pun supaya rencana ini jalan. “Maksudku gini, mungkin kita bisa habisin waktu yang bener-bener berkualitas sama dia, terus biarin semuanya ngalir. Kita ini laki-laki yang bisa mikir jalan, kan. Masa enam bulan aja nggak cukup buat bikin dia jungkir balik jatuh cinta sama kita.”

Cruz mengangguk-angguk, seolah dia mulai percaya itu bisa berhasil. Dominic santai aja, mau ikut apa pun. Braxton tetap saja pesimis seperti biasa.

“Aku nggak bakal pasang harapan,” gumam Braxton, selalu jadi corong pesimisme.

Kalau dia bukan kembaranku yang mukanya sama persis, sudah kutonjok itu wajahnya. Dia juga tergila-gila sama Bex, sama seperti kami semua, tapi dia ketakutan setengah mati sama penolakan.

“Kalau mentok, ya tunjukin aja itu punyamu,” sahut Dominic sambil mengangkat bahu. “Harusnya kita bersyukur banget, dikasih berkah di bawah sana. Nggak banyak cowok bisa sombong punya dua puluh lima senti. Cewek yang bilang ukuran bukan segalanya itu cuma bohong sama diri sendiri.”

Ayah mengusap wajahnya dengan telapak tangan. “Jaga mulut. Kalian sudah dua puluh lima tahun, demi Tuhan.”

Braxton melangkah cepat ke arah bak cuci dan menjatuhkan mug-nya ke dalam wastafel. Kerutan masam di wajahnya seperti sudah permanen terukir.

“Aku nggak peduli cewek lain maunya apa atau nggak maunya apa,” gumamnya, melirik sekilas lewat bahu. “Satu-satunya pendapat yang penting itu pendapat Bexley. Jadi jangan keburu tinggiin harapan.” Habis itu dia menggelegar keluar dari dapur, menuju gym.

Aku sudah tahu lebih baik daripada mengejarnya. Braxton cuma butuh meluapkan sesak di dadanya dengan angkat beban, nanti juga reda sendiri. Cruz duduk membungkuk di meja, membaca halaman depan koran Ayah. Dominic bergerak ke mesin kopi buat mengisi mug-nya yang kosong, sementara Ayah berdiri dengan embusan napas berat.

“Aku mau kalian semua siap dalam satu jam,” tegas Ayah. “Helikopter berangkat jam sebelas tepat.”

“Rapatnya jam berapa?” tanyaku, butuh persiapan.

Ayah melirik jam tangannya. “Jaxx barusan kirim pesan, dia lagi di jalan. Jadi, tergantung macet, mereka sampai sekitar jam makan siang,” jelasnya. “Rapat kita jadwalkan mulai jam dua siang.”

Itu memberiku banyak waktu buat bicara sama saudara-saudaraku dan menyusun cara gimana kami bakal menaklukkan Bexley. Kebetulan sekali… aku punya beberapa jurus sendiri yang kusimpan rapat-rapat.


Braxton Wolfe

Aku berdiri di bawah semburan shower, membiarkan air panas beruap menyapu kulitku. Dalam beberapa jam lagi, perempuan yang muncul di tiap mimpi dan diam-diam kupuja itu akan duduk dalam jarak sejengkal dariku. Aku sudah menunggu momen ini sejak Ayah mendudukkan kami dan memberi “obrolan itu” waktu kami berumur sepuluh tahun. Sepanjang hidupnya, mereka membuat Bexley tetap tidak tahu apa-apa. Dilindungi seperti putri yang tak boleh disentuh.

Paman Jaxx pria yang bahagia dalam pernikahannya dan mendapatkan Bex karena cinta. Tapi aku dan saudara-saudaraku… kami cuma prajurit, dibentuk untuk satu tujuan: melindungi Bexley dengan nyawa kami. Tumbuh dengan pengetahuan itu tidak pernah mudah. Ada kata-kata dan perbuatan kejam yang pernah kami lemparkan padanya—yang ingin rasanya kutarik kembali. Aku tahu saudara-saudaraku pun merasakan hal yang sama.

Latihanku barusan ampuh, mengikis tegang yang menumpuk sejak akhir pekan ini. Di antara saudara-saudaraku, mereka menganggap aku tipe yang pendiam dan murung—mungkin bahkan yang paling sensitif dari “segerombolan” ini. Aku pakai istilah itu karena begitulah rasanya kami: kawanan serigala. Saudara-saudara Wolfe, lahir untuk melindungi Ratu dan negara, dan gelar itu begitu pas untuk Bexley.

Aku mengeringkan badan dengan handuk dan cepat-cepat berpakaian, menikmati sensasi perih panas di otot yang terlalu dipaksa. Ayah ingin kami memberi kesan baik, memaksa kami berpakaian pantas. Sindirannya yang halus jelas ditujukan padaku—memastikan aku menutup tato-tatoku. Semua dipertaruhkan di pertemuan ini; karya seumur hidup Ayah, keamanan kode-kode itu, dan masa depan yang dijanjikannya untuk kami bersama Bexley.

Aku yang terakhir menuju helipad, melangkah santai melintasi halaman yang tertata rapi, angin menampar wajahku.

“Lebih baik telat daripada enggak sama sekali,” komentar Asher, setengah berteriak melawan bisingnya suara baling-baling. “Dad udah hampir nyuruh orang-orang buat nyeret lo keluar dari sana.”

Cruz dan Dom meloncat masuk ke helikopter bareng Ayah, langsung merapikan sabuk pengaman dan headset mereka.

“Silakan duluan,” kata Asher—selalu saja sok gentleman. “Aneh juga lihat lo pakai setelan,” tambahnya.

Kami semua mengikuti standar cara berpakaian Ayah: setelan hitam Armani yang pas badan, jahitan rapi. Dengan wajah tegang begini, orang bakal ngira kami mau ke pemakaman, bukan mau ketemu calon istri. Dari semuanya, cuma aku yang ngelihat ini jelas-jelas bakal jadi sirkus. Enggak mungkin perempuan kayak Bexley bisa menelan omong kosong begini.

“Lo senyum-senyum puas apaan?” semprotku ke kembaranku saat dia menarik pintu geser sampai tertutup rapat.

Aku mengunci sabuk pengamanku. Asher duduk di sebelah Dad dan memasang sabuknya sendiri, lalu menarik headset menutupi telinganya.

“Waktu lo sibuk ngambek di gym, Dom, Cruz, sama gue sempat ngobrol yang lumayan mencerahkan,” kata Asher.

“Kalian bahas sesuatu tanpa gue?” tuduhku, menatap saudara-saudaraku dengan kesal.

Dad menengok jam tangannya, lalu menggumamkan sesuatu ke pilot. Helikopter terangkat, memutar sebentar mengikuti garis pantai sebelum melaju menuju London.

Cruz menyeringai tipis, matanya terlempar ke luar jendela. Cowok itu selalu jadi teka-teki. Kami enggak pernah bisa nebak apa yang ada di kepalanya. Dominic menyelipkan ponselnya ke saku dalam jas, lalu menoleh ke kami biar bisa ikut nimbrung.

“Dengerin dulu aja, Brax,” bujuk Dom.

Asher berdehem. “Kami…” Dia mengisyaratkan dengan memutar telunjuknya, menunjuk kami satu per satu, “mutusin Bexley harus ikut dan tinggal di Sandbanks bareng kita. Dad sama Paman Jaxx tetap di markas London buat ngecoh si bunglon itu.”

Aku mendengus, sebal setengah mati. “Dan gimana caranya bikin dia setuju? Geprek kepalanya pakai palu? Atau bius kopinya?”

Asher mengatupkan bibir, dahi berkerut. Tanda kesabarannya mulai menipis. “Enggak perlu semua itu, karena kita bakal bilang yang sebenarnya.” Dia memiringkan kepala, seperti menimbang sesuatu. “Maksud gue… lo yang bilang. Kedengarannya bakal lebih meyakinkan kalau keluar dari mulut lo.”

Mataku hampir melotot. “Hah? Gue?”

Cruz menoleh dengan senyum malas yang menyebalkan. “Tuh kan. Gue bilang juga dia bakal paling suka bagian itu.”

Mulutku mendadak kering. Aku menelan ludah keras-keras, mencoba mengembalikan kelembapan yang hilang.

“Katanya lo jenius? Itu ide paling bodoh yang pernah gue denger seumur hidup,” bentakku, benar-benar naik darah.

Asher terkekeh. “Coba pikir. Bexley pemecah kode, sama kayak ibunya. Kalau kita kasih dia tugas, dia enggak bakal curiga kenapa harus banyak waktu bareng kita. Dia bakal nganggep itu bagian dari pekerjaan dan nurut karena dia enggak mau kita yang dapat kreditnya. Kita bisa ngawasin dia tanpa dia sadar ada apa, dan Dad sama Paman Jaxx bisa urus urusan di London.” Nadanya mantap, yakin rencana ini jalan—dan kalau aku jujur, aku juga ngerasa begitu.

“Bexley pasti maksa dia yang pegang kendali. Lo tahu sendiri dia bisa sebossy apa,” ingatku. “Dia harus ngatur semuanya.”

Asher memasang ekspresi ragu. “Mungkin waktu kita masih bocah. Tapi orang berubah. Gue cukup yakin Bexley lagi haus petualangan. Jadi, itu yang kita kasih. Hal yang bikin deg-degan, adrenalin, dan sensasi yang cukup sepanjang jalan.”

Aku mengangguk pelan. “Iya… bikin dia jatuh sama kita tanpa dia sadar.”

“Persis,” tutup Asher.

Aku melirik ke sekeliling. Tatapan saudara-saudaraku sama—penuh tekad. Mereka kelihatan berharap. Kalau kami benar-benar mau jalanin ini, enggak boleh ada ruang sedikit pun buat salah.

“Serahin ke gue. Gue bakal kasih tawaran yang enggak mungkin dia tolak,” janjiku.

Bab Sebelumnya
Bab Selanjutnya