Bab [2] Melakukannya di Toilet
Keesokan harinya, Maya Tanaka menata kembali suasana hatinya. Ia sengaja mengganti pakaiannya dengan gaun malam yang elegan dan menata rambutnya dengan apik. Pesta malam ini sangat penting bagi perusahaannya.
Di tengah keramaian pesta, Maya Tanaka tampak begitu luwes bergaul, berkeliling sambil membawa segelas minuman di tangannya.
Bentuk tubuhnya yang ideal terlihat semakin sempurna dalam balutan gaun itu.
Ia mengangkat gelasnya, bersulang dengan para tamu satu per satu. Meskipun menyadari tatapan mereka sering kali tertuju pada belahan dadanya, ia hanya tersenyum tipis dan menghabiskan minumannya.
Semua itu tak luput dari pandangan Arya Prawiro yang mengamati dari sudut ruangan.
Melihat tatapan liar para pria lain yang menjelajahi tubuh Maya, mata Arya menggelap. Amarah yang tak bisa disembunyikan perlahan menyebar darinya.
Setelah beberapa putaran minuman, Maya Tanaka meletakkan gelasnya dan beranjak menuju toilet.
Ia sudah tidak ingat berapa banyak gelas yang telah ia tenggak. Setidaknya, dari sekian banyak orang yang menyapanya, ada satu atau dua yang tertarik dengan parfum perusahaannya.
Hanya saja, alkohol sama sekali tidak baik untuk janinnya. Ia harus segera memuntahkannya.
Langkahnya sedikit limbung, tetapi ia tidak menyangka akan bertemu dengan Arya Prawiro di depan toilet.
Maya Tanaka mengerutkan kening dan mencoba mengabaikannya. Namun, baru dua langkah, pergelangan tangannya dicengkeram. Cengkeraman yang familier, kehangatan yang familier. Detik berikutnya, seluruh tubuhnya ditarik paksa.
Ia meronta, tetapi sia-sia. Arya Prawiro akhirnya berhasil menyeretnya pergi.
Toilet itu kosong. Begitu masuk, Arya langsung mengunci pintu dan dalam sekejap menekan tubuh Maya ke daun pintu. "Kita baru saja tanda tangan surat cerai, prosesnya bahkan belum selesai, dan kamu sudah segitu tidak sabarnya mencari laki-laki lain? Dan apa-apaan yang kamu pakai ini? Apa kamu tidak sadar mereka semua terus menatapmu?"
"Maya Tanaka, kalau kamu memang tidak bisa hidup tanpa laki-laki, kenapa semalam kamu menolakku?" Arya menatapnya tajam.
"Lepaskan aku." Maya meronta sekuat tenaga, sebagian besar pengaruh alkoholnya menguap seketika.
Ia hanya minum beberapa gelas, tidak melakukan hal yang melewati batas.
Apa ia harus menutup mata semua pria itu?
Tak bisa melepaskan diri, suara Maya Tanaka dipenuhi amarah. "Apa yang mau aku lakukan itu urusanku! Aku lebih baik memberikan diriku pada orang lain daripada harus berurusan denganmu lagi, memangnya kenapa?!"
"Mmmph—"
Arya langsung menciumnya, membungkam semua kata-kata Maya.
Selama lima tahun pernikahan mereka, ini adalah pertama kalinya Arya Prawiro mencium Maya Tanaka.
Pupil mata Maya bergetar, pikirannya kosong seketika.
Arya sendiri merasa tindakannya tidak masuk akal, tetapi ia tidak bisa menahan diri. Ia ingat dengan jelas tatapan Maya padanya dulu—tatapan penuh cinta dan kekaguman. Tapi sekarang, wanita itu bilang tidak mau lagi berurusan dengannya.
Tiba-tiba, sebuah perasaan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya muncul di hatinya.
Begitu rumit hingga membuat pikirannya kacau balau.
Tanpa sadar, ia memperdalam ciumannya, membelit lidah wanita itu dengan penuh gairah.
Alis Maya bertaut. Ia sama sekali tidak menyangka, ciuman pertama yang diinisiasi Arya akan terjadi dalam situasi seperti ini.
Begitu kesadarannya pulih, ia mencoba mendorong pria itu, tetapi Arya justru menahan bagian belakang kepalanya, semakin memperdalam ciuman mereka.
Arya Prawiro tidak pernah tahu teknik ciumannya bisa sehebat ini. Ia hanya mengikuti insting untuk menuntut dan memiliki lebih banyak, mengurung wanita itu erat dalam pelukannya. Ujung jarinya menyusuri helai rambutnya yang lembut, merasakan napas mereka yang saling beradu.
Ia tidak pernah tahu, ternyata Maya begitu manis, membuatnya ketagihan.
Tubuh Maya Tanaka sedikit gemetar. Napasnya menjadi tidak teratur, seolah oksigen di sekitarnya menipis hingga ia sulit bernapas. Tenaganya seakan terkuras habis.
Kakinya lemas dan tidak mampu berdiri tegak. Ia hanya bisa bersandar lemah di pelukan Arya, membiarkannya mengambil dan menuntut sesuka hati.
Sifat posesif Arya yang begitu kuat membuatnya nyaris tak berdaya.
Tepat saat tangan Arya mulai menjelajah dengan liar, ponsel di saku celananya tiba-tiba berdering.
Arya tertegun sejenak. Tatapannya langsung jernih. Ia melepaskan Maya, mengeluarkan ponselnya, dan saat melihat nama kontak yang menelepon, sorot matanya seketika melembut.
Maya menyaksikan perubahan tatapan itu dengan mata kepalanya sendiri. Hatinya terasa begitu rumit.
Tanpa perlu melihat pun ia tahu, itu pasti telepon dari Rania Wijaya.
Maya bersandar di dinding, mengusap bibirnya yang basah dan panas. Kehangatan bibir Arya masih tertinggal di sana, menyisakan rasa ironis yang pahit.
Menikah selama lima tahun, Arya sering bepergian untuk urusan bisnis. Setiap kali kembali, ia akan langsung pergi ke rumah sakit untuk menemani Rania Wijaya.
Statusnya sebagai Nyonya Prawiro hanyalah sebuah nama tanpa arti.
Namun, semua ini sudah berakhir.
Melihat Arya yang memegang ponsel dengan ekspresi lembut, Maya menyunggingkan senyum sinis. Karena mereka berdua telah membuatnya tidak nyaman, ia pun ingin bermain sedikit.
"Rania, ada apa?"
Arya menekan hasrat yang baru saja tersulut, memperlakukan Rania Wijaya seperti harta karun yang baru ditemukan kembali.
"Pak Arya, tolong segera ke rumah sakit! Nona Rania jatuh dari tempat tidur karena panik tidak melihat Bapak saat bangun. Kondisinya sekarang tidak baik, dan dia tidak mau kami dekati. Tolong Bapak bantu bujuk dia!"
Suara perawat di seberang terdengar sangat cemas. Ia menyalakan loudspeaker. "Nona Rania, tenang dulu, kami sudah menghubungi Pak Arya!"
"Arya! Arya, perutku sakit sekali... Apa bayinya akan mati...?"
Suara Rania Wijaya bergetar hebat, terdengar sangat pilu. "Bukankah kamu bilang akan selalu menemaniku? Kenapa kamu tidak ada di sini? Aku takut sekali..."
Arya menenangkannya dengan suara lembut, "Aku segera ke sana. Sayang, kamu ikuti perawatan dulu, ya."
Rania mengancam dengan isak tangis, "Kalau bayi ini kenapa-kenapa, aku juga tidak mau hidup lagi..."
Mata Arya menggelap, rahangnya mengeras, tetapi suaranya tetap lembut seperti biasa. "Aku tidak akan membiarkan kamu dan bayi kita kenapa-kenapa. Tunggu aku."
Tepat saat Arya hendak menutup telepon, Maya Tanaka tiba-tiba bersuara dengan nada sensual.
"Mmmh~ Arya~ kamu lagi telepon siapa? Jangan berhenti, dong~"
Maya mengangkat alisnya dengan provokatif, sorot matanya dingin menusuk.
Ia menolak menjadi bagian dari permainan mereka, dan sebaliknya, justru mempermainkan mereka.
Tatapan Arya langsung menjadi sedingin es. Suara di seberang telepon tiba-tiba melengking tajam. "Arya, apa yang sedang kalian lakukan!? Itu wanita itu, kan?! Aku yang salah, kamu sudah menikah, seharusnya aku tidak mengganggumu. Kamu tidak perlu ke sini..."
"Aku tidak mau dirawat lagi! Biarkan aku mati!"
Rania kehilangan kendali. "Aaah, pergi! Kalian semua pergi—"
Nampan di tangan perawat terjatuh, dan suasana di seberang menjadi kacau balau.
Arya buru-buru mencoba menenangkan, tetapi telepon sudah ditutup. Keningnya berkerut dalam.
"Maya Tanaka! Aku peringatkan kamu, jangan ganggu dia! Kalau sampai Rania kenapa-kenapa, kamu tidak akan sanggup menanggung akibatnya!"
Maya melihat dengan jelas sorot menyalahkan di mata Arya. Hatinya terasa nyeri. Ia menarik napas dalam-dalam dan berkata, "Kalian berdua yang lebih dulu membuatku muak."
Kalau memang mau bercerai, untuk apa menciumnya? Setelah menciumnya, malah bermesraan dengan wanita lain!
Maya Tanaka bukan lagi wanita lemah yang bisa diinjak-injak!
Sekarang ia sudah tidak peduli lagi.
Saat Maya hendak pergi, Arya mencengkeram pergelangan tangannya dan menariknya kembali. "Kamu ikut aku ke rumah sakit untuk minta maaf pada Rania," ucapnya dingin.
Maya tertawa sinis mendengar kata-katanya. "Aku tidak melakukan kesalahan apa pun, kenapa harus minta maaf?!"
Ia menyentakkan tangan Arya dan bergegas pergi.
Arya menatap siluet ramping wanita itu, menggenggam ponselnya erat, lalu menelepon rumah sakit untuk menanyakan keadaan.
Rania Wijaya yang menjawab telepon.
Setelah ledakan emosinya yang singkat, ia mulai terisak pelan dan meminta maaf, "Arya, aku yang salah, maaf... Sungguh, maafkan aku. Jangan tinggalkan aku."
"Aku sudah tidak punya apa-apa lagi..."
Bibir Arya terkatup rapat. Ia terdiam cukup lama. Di tengah isak tangis Rania, sebersit rasa bersalah muncul di hatinya...
