Bab [3] Berlutut, Bersihkan

Pagi-pagi buta, saat Maya Tanaka masih terlelap, dering ponsel membangunkannya dengan kasar.

"Siapa?" gumamnya sambil mengangkat telepon dengan mata setengah terpejam, sama sekali tidak melihat nama si penelepon.

"Jangan tidur lagi. Cepat masak bubur dan antarkan ke rumah sakit sekarang juga. Bubur yang biasa kamu buatkan untukku. Cepat, Rania rewel semalaman, sekarang dia tidak mau makan apa-apa."

Suara dingin Arya Prawiro seketika membuat Maya Tanaka sadar sepenuhnya.

Rasa kantuknya lenyap. Ia duduk tegak dengan kening berkerut, ingin tertawa saking tidak percayanya. "Kamu pikir aku ini pembantumu? Sampai harus masak bubur dan mengantarkannya sendiri?"

Suara Arya menjadi lebih dingin. "Ini utangmu pada Rania. Kalau bukan karena kamu sengaja memprovokasinya, Rania tidak akan mengamuk separah ini."

"Dia mengamuk atau tidak, itu bukan urusanku," balas Maya tak kalah dingin.

"Maya Tanaka, ini cuma soal masak bubur. Apa kamu harus selalu menentangku?" Nada bicara Arya terdengar sangat tidak enak.

Rania sudah membuatnya pusing semalaman. Arya benar-benar lelah, baik fisik maupun mental. Saat ini, yang ia inginkan hanyalah semangkuk bubur buatan Maya. Dulu, setiap kali ia mabuk setelah menjamu klien, keesokan harinya ia pasti akan mendapati bubur hangat dari Maya. Itu sudah menjadi kebiasaannya.

"Cuma soal masak bubur? Gampang sekali kamu bicara. Memangnya kenapa aku harus memasak untuknya?" Maya tertawa sinis.

Bubur yang biasa ia buatkan untuk Arya adalah bubur herbal yang menyehatkan. Jangankan bicara soal bahan-bahannya yang mahal, proses memasaknya saja butuh waktu lima jam penuh dan harus terus-menerus diaduk agar tidak gosong di dasar panci.

Arya mengernyitkan dahi, lalu dengan nada yang jarang ia tunjukkan, ia mengungkapkan isi hatinya, "Aku juga ingin makan bubur buatanmu."

Napas Maya sempat tertahan sejenak.

Kalau saja ini adalah Maya yang dulu, mendengar kalimat itu pasti akan membuatnya rela mengorbankan waktu istirahatnya demi memasakkan bubur untuk Arya.

Tapi sekarang, ia tidak akan sudi lagi mengasihaninya.

"Mau? Beli saja. Dua puluh miliar rupiah semangkuk."

Arya menjadi sangat tidak sabar. Ia memperingatkan dengan suara rendah, "Kita belum benar-benar bercerai. Sebaiknya jangan memaksaku."

"Memangnya kenapa kalau aku memaksamu?" sahut Maya acuh tak acuh.

"Sekarang juga masak bubur dan antarkan ke rumah sakit. Kalau tidak, aku bukan hanya akan membatalkan perceraian kita, tapi aku juga akan menidurimu setiap kali kita bertemu. Di mana saja, tanpa peduli tempat."

Setelah mengatakan itu, Arya langsung menutup telepon, tidak memberinya kesempatan untuk menolak.

Maya menatap layar ponsel yang sudah mati, lalu memukul kasur dengan geram.

"Arya Prawiro, dasar bajingan! Tidak tahu malu!"

Dia yang menginginkan perceraian, sekarang dia juga yang mengancam akan membatalkannya. Apa sebenarnya maunya?

Dada Maya terasa nyeri. Setiap kali ia terlibat urusan dengan pria ini, rasa sakit di hatinya terasa semakin dalam dan berat. Karena itulah, ia hanya ingin segera lepas darinya.

Dulu, saat Rania Wijaya dikirim ke luar negeri untuk berobat, Maya masih bisa membohongi dirinya sendiri bahwa ia dan Arya masih bisa bersama. Tapi sekarang, jika terus terjerat dengannya, semua hanya akan menjadi lebih rumit.

Bukankah hanya memasak bubur?

Dia bersedia memasaknya. Hanya saja, ia ragu apakah orang tertentu punya nyali untuk memakannya!


Saat Maya Tanaka tiba di depan kamar rawat dengan sepanci bubur yang sudah ia beri 'bumbu' khusus, ia mendengar suara manja dari dalam.

"Arya, kenapa kamu suruh dia datang? Aku tidak mau bertemu dengannya..."

"Aku hanya menyuruhnya mengantar bubur. Setelah itu, dia akan langsung pergi," bujuk Arya dengan suara lembut yang belum pernah Maya dengar sebelumnya.

"Tapi penampilanku sedang kacau begini, aku bahkan tidak pakai riasan. Dia pasti akan berdandan secantik mungkin di depanmu. Nanti aku jadi kalah cantik darinya. Apa kamu akan jadi tidak suka padaku?" Wajah Rania Wijaya yang sudah pucat menjadi semakin pias karena takut.

Arya Prawiro segera menegaskan, "Aku tidak akan begitu. Tidak peduli bagaimana pun dia berdandan, di hatiku Rania-lah yang paling cantik."

"Benarkah? Kamu janji?" Rania menarik-narik lengan bajunya.

"Iya, aku janji."

"Hihi, Arya, kamu memang yang terbaik~" Rania akhirnya tersenyum setelah merajuk.

Di luar pintu, Maya Tanaka mendengarkan kemesraan mereka dengan perasaan campur aduk.

Arya Prawiro tidak pernah membujuknya dengan selembut itu. Bahkan di ranjang pun, ia tidak pernah bersikap lembut. Setiap kali bercinta, Arya selalu melakukannya dengan kasar dan ganas, sama sekali tidak peduli perasaannya.

Maya selalu mengira Arya memang pria berhati dingin. Tapi sekarang, ia melihat betapa sabarnya pria itu membujuk wanita lain.

Tenggorokan Maya terasa tercekat. Bohong kalau ia bilang tidak sakit hati sama sekali.

Ia tidak mau mendengar lebih lama lagi. Saat ia hendak meletakkan termos makanan di lantai, suara yang ditimbulkannya mengejutkan kedua orang di dalam.

Arya Prawiro segera membuka pintu. Melihat sosok Maya, seulas senyum tipis yang nyaris tak terlihat muncul di sudut bibirnya.

Maya menyodorkan termos itu dan hendak berbalik pergi, tapi lengannya dicengkeram dengan kuat.

"Lepaskan aku! Mau apa kamu?" Maya menoleh dengan marah, menatap tajam pria menyebalkan itu.

Saat ia menoleh, helaian rambutnya yang panjang menyapu wajah Arya. Aroma familier itu seketika menenangkan rasa lelahnya.

Arya menunduk dan berbisik di telinganya, dengan suara yang hanya bisa mereka berdua dengar, "Aku mau... menidurimu."

"Kamu!"

Telinga Maya langsung memerah. Ia sangat malu dan marah, tapi tidak bisa memaki. Ia tidak serendah Arya!

Melihat wajah cantik Maya yang memerah, Arya merasakan gelombang panas mengalir ke perut bagian bawahnya. 'Monster' yang sudah lama tertidur di dalam dirinya diam-diam mulai bangkit.

Sebenarnya, tadi ia berbohong pada Rania. Baik dari segi wajah maupun bentuk tubuh, Maya Tanaka adalah wanita yang paling sesuai dengan seleranya. Segala sesuatu tentang Maya mampu membangkitkan hasratnya.

"Arya, kalian sedang bicara apa?" Suara Rania terdengar lirih dan rapuh, membuat siapa pun yang mendengarnya merasa iba.

"Tidak ada apa-apa," jawab Arya, tapi tatapan panasnya masih tertuju pada Maya.

Maya mendengar suara Arya yang memberat. Begitu ia balas menatap matanya, ia langsung tahu pria itu mulai berpikiran kotor lagi.

Dengan kesal, ia mengangkat kakinya dan menendang selangkangan Arya sekuat tenaga.

"Mau apa kamu? Membunuh suamimu sendiri?"

Arya dengan mudah menangkis serangannya. Dengan satu gerakan cepat, tangannya meraih dan menggenggam kaki jenjang Maya, lalu mengelusnya berulang kali.

Posisi mereka saat ini sangat intim. Pemandangan itu begitu menyakitkan di mata Rania Wijaya. Terlebih lagi, ia tidak menyangka Maya juga tidak memakai riasan, dan tetap secantik itu...

Mata Rania berkaca-kaca. Dengan nada memelas, ia berkata, "Nona Maya, apa kamu benar-benar tidak ingin melihatku? Kalau kamu marah, kamu boleh memukulku, tapi tolong jangan sakiti Arya. Dia hanya kasihan padaku, makanya dia mau menolongku. Tolong jangan kasar padanya..."

Mendengar ucapan Rania, Arya Prawiro segera melepaskan kaki jenjang Maya. Ia menghampiri Rania dan menenangkannya dengan lembut, "Jangan panik, dia tidak akan bisa menyakitiku."

Maya merasa semua ini sangat konyol. Paha dalamnya sampai memerah karena cengkeraman pria itu, tapi siapa yang dituduh berbuat kasar?

"Kalau begitu, sebaiknya kamu jaga dia baik-baik. Jangan biarkan dia menggangguku lagi, apalagi mengusik hidupku. Soal hubungan kalian, aku tidak tertarik ikut campur. Aku tidak semurahan itu."

Kata-kata Maya ditujukan pada Rania, tapi tatapannya setajam pisau yang menghunus ke arah Arya.

Mendengar itu, sorot mata Arya menjadi gelap. Setiap kali mendengar wanita ini berkata ingin meninggalkannya, amarah langsung membara di hatinya.

Memang benar ia ingin bercerai untuk memberikan status pada Rania. Tapi ia juga sudah memberi Maya kesempatan untuk tetap di sisinya. Selama Maya mau menjadi simpanannya, ia akan tetap memberinya kehidupan yang paling mewah.

Tapi kenapa wanita ini tidak mau?

Rania tidak tahan melihat tatapan Arya yang hanya tertuju pada wanita itu.

Dengan cepat, ia memutar bola matanya, lalu berguling turun dari tempat tidur. Tapi kakinya lemas dan ia langsung jatuh berlutut di lantai.

Sambil meracau, ia berkata, "Nona Maya, aku tahu aku tidak pantas hidup. Agar kalian tidak sulit, aku akan mati saja, aku akan mati saja..."

Sambil berkata begitu, Rania mulai merangkak ke arah jendela, seolah-olah hendak melompat.

Arya merasa sangat iba. Ia segera maju dan mengangkat tubuh Rania.

Melihat pergelangan kaki Rania yang bengkak serta tangan dan kakinya yang sedikit kotor, amarah yang tak bisa dijelaskan berkobar di dalam hatinya.

Mata Arya Prawiro sedingin es. "Maya Tanaka, kemari dan berlutut di depan Rania. Lalu bersihkan kakinya!"

Seketika, tangan dan kaki Maya terasa dingin. Matanya memerah karena tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.

Arya Prawiro... menyuruhnya berlutut di hadapan Rania Wijaya

Bab Sebelumnya
Bab Selanjutnya