Bab [5] Pengkhianatan dari Keluarga Sendiri
Wajah Asri Wijaya sedikit menegang, tetapi dengan cepat ia kembali memasang ekspresi sedih.
“Pertengkaran dalam rumah tangga itu biasa. Ayahmu dan Ibu juga sering bertengkar seumur hidup kami, tapi sejak kamu dan adikmu lahir, hidup Ibu jadi sangat bahagia.”
Dengan nada membujuk, ia melanjutkan, “Yang paling penting sekarang adalah kamu dan Arya punya anak. Kalau sudah ada anak, dia pasti akan berubah pikiran dan tidak akan tega menceraikanmu.”
Mendengar kata ‘anak’, ekspresi Maya Tanaka seketika berubah menjadi sangat tegas.
Dengan nada yang tak bisa dibantah, ia berkata, “Aku tidak akan pernah menjadikan anak sebagai alat untuk mengikatnya. Perceraian ini sudah final.”
“Kamu ini bagaimana, sih ...”
Asri Wijaya tidak menyangka putrinya begitu keras kepala.
Di samping mereka, Budi Tanaka, yang mendengar itu, kembali mengangkat rotannya.
Dengan raut muka kesal karena kecewa, ia berkata, “Asri, minggir! Hari ini Ayah harus memberinya pelajaran! Hidup enak sebagai nyonya besar tidak mau, malah mau cerai?”
“Kalau kamu cerai, apa kata orang tentang Keluarga Tanaka? Ayah tidak mau menanggung malu!”
“Kalau tahu kamu akan jadi seperti ini, lebih baik dari dulu Sari yang menikah dengannya! Ayah benar-benar menyesal!”
Tanpa sengaja, Budi Tanaka mengucapkan isi hatinya, lalu langsung terdiam.
Mendengar itu, Maya Tanaka tertawa sinis.
“Ayah, akhirnya Ayah mengatakan yang sebenarnya.”
Ia perlahan berdiri. “Aku tahu, di mata Ayah, aku tidak akan pernah bisa menandingi Sari. Sejak aku bisa mengingat, aku dibesarkan di desa, sementara Sari bisa tumbuh di sisi kalian. Kalau bukan karena pernikahan dengan Keluarga Prawiro, mungkin Ayah sudah lupa punya anak perempuan sepertiku, kan?”
Asri Wijaya tiba-tiba menangis sambil menutup wajahnya, “Maya, apa kamu masih marah pada Ibu?”
“Bu, aku tidak marah padamu.”
Sikap Maya Tanaka terhadap ibunya masih cukup lembut. “Jujur saja, waktu aku masih kecil, aku pernah membenci Ayah dan Ibu. Kenapa aku tidak bisa dijemput pulang, padahal jarak usiaku dan adikku hanya dua tahun? Tapi setelah dewasa, aku mengerti kalian juga punya kesulitan.”
“Putriku sayang ... Dulu kondisi fisik Ibu sangat lemah. Ibu yang salah padamu.”
Asri Wijaya berinisiatif memeluknya, terlihat sangat tersentuh.
Namun, Budi Tanaka tetap bersikap keras. “Untuk apa minta maaf pada anak durhaka ini? Ayah tanya sekali lagi, kamu mau kembali padanya atau tidak?”
“Tidak akan pernah!”
Sikap Maya Tanaka juga sangat teguh.
“Dasar anak tidak tahu diuntung! Lihat saja kalau tidak Ayah hajar!”
Budi Tanaka hendak memukul Maya Tanaka lagi, tetapi kali ini Maya berhasil menghindar.
Nahas, Asri Wijaya yang berdiri di belakangnya tidak sempat mengelak. Rotan itu mendarat telak di tubuhnya, membuatnya terhuyung beberapa langkah sebelum jatuh tersungkur ke lantai.
“Aduh, aduh, pantatku!” rintih Asri Wijaya.
Maya Tanaka segera maju untuk membantunya berdiri, tetapi didorong oleh ayahnya.
“Anak durhaka! Kenapa tadi kamu menghindar?! Kalau sampai terjadi apa-apa dengan Ibumu, Ayah tidak akan melepaskanmu!”
Menghadapi tuduhan itu, Maya Tanaka tidak bisa membela diri.
Ayunan rotan ayahnya tadi mengarah langsung ke perutnya. Jika terkena, kandungannya mungkin tidak akan selamat. Karena itulah ia terpaksa menghindar, meski akhirnya membuat ibunya celaka.
“Aku ...”
Ia ingin menjelaskan bahwa ia menghindar karena sedang hamil, tetapi ayahnya memotong dengan kasar.
“Diam kamu! Sekarang juga temui Arya Prawiro! Kalau sampai kamu diceraikan, jangan pernah lagi menginjakkan kaki di rumah ini! Ayah, Ibumu, dan adikmu tidak akan pernah memaafkanmu!”
“Masih diam di situ? Pergi!”
Kata-kata tajam ayahnya membuat hati Maya Tanaka terasa seperti disayat-sayat.
Ibunya masih merintih kesakitan di lantai. Ia ingin membantah, tetapi tidak ada kata yang bisa keluar.
Ia membuka mulutnya, tetapi pada akhirnya tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya diam-diam membuka pintu dan berjalan keluar dari ruang keluarga itu.
Hati Maya Tanaka dipenuhi rasa bersalah. Setelah berjalan beberapa langkah, ia tiba-tiba berbalik. Ia ingin memberitahu orang tuanya bahwa ia hamil, ia tidak ingin ibunya mengkhawatirkannya.
Namun, saat sampai di depan pintu ruang keluarga, ia mendengar suara tawa lepas dari dalam.
“Hahaha, Sayang, bagaimana aktingku?”
“Aduh, aktingmu tentu saja tidak perlu diragukan lagi. Tapi lain kali kamu jangan melindunginya seperti itu. Tadi waktu rotan itu kena kamu, tahu tidak betapa khawatirnya aku?”
“Hmph! Salah si anak sialan itu sendiri kenapa menghindar! Aku jadi tidak siap!”
Seketika, tubuh Maya Tanaka terasa dingin membeku, seolah seluruh darahnya mengalir terbalik.
Suara dua orang di dalam terdengar sangat familier, tetapi kata-kata yang mereka ucapkan terasa begitu asing.
Terutama ibunya.
Sosok yang selama ini selalu lembut, kapan pernah ia mendengar ibunya berbicara dengan nada seketus itu?
Dua orang di dalam tidak menyadari ada seseorang di depan pintu dan terus melanjutkan percakapan mereka.
“Sayang, bagaimana kalau si anak sialan itu benar-benar cerai dari Arya Prawiro?”
“Tidak perlu takut. Kalau mereka benar-benar cerai, kita nikahkan saja Sari dengannya.”
“Tidak bisa!”
Asri Wijaya langsung menolak. “Justru karena aku tidak tega Sari menderita, makanya dulu aku menjemput anak sialan itu dari desa. Sekarang menyuruh Sari menikah dengan sisa anak itu, aku sama sekali tidak setuju!”
Budi Tanaka menjadi tidak sabar. “Dulu kita tidak menikahkan Sari karena khawatir Arya Prawiro tidak akan menjadi pewaris Keluarga Prawiro. Tapi sekarang semuanya sudah jelas. Sekalipun Arya punya perempuan lain di luar, dia tidak akan menelantarkan Sari. Yang terpenting, perusahaan kita butuh dukungan dari Keluarga Prawiro.”
“Tidak mau.”
Asri Wijaya sangat menyayangi putri bungsunya. “Aku akan cari cara lain, berakting lagi untuk memaksa anak sialan itu rujuk. Aku tidak rela mendorong Sari-ku ke dalam lubang api.”
“Cepat bantu aku berdiri. Lantainya dingin sekali, aku mau pulang dan berendam air panas.”
Mendengar suara pergerakan di dalam, Maya Tanaka segera bersembunyi lalu pergi.
Setelah meninggalkan kediaman Keluarga Tanaka, ia berjalan tanpa tujuan di jalanan, bahkan tidak tahu harus pulang ke mana.
Hatinya, yang dihantam pukulan bertubi-tubi, sudah terasa kebas karena sakit.
Dulu ia hanya berpikir ayahnya yang tidak menyukainya, tapi ternyata ibunya juga...
Jadi, mereka berdua tahu bahwa menikah dengan Keluarga Prawiro adalah sebuah penderitaan. Jadi, semua kebaikan yang mereka tunjukkan padanya hanyalah kepalsuan, sebuah kebohongan.
Ternyata...
Tidak ada seorang pun di dunia ini yang mencintainya.
Tepat saat pikiran untuk bunuh diri melintas di benak Maya Tanaka, perutnya kembali terasa sakit.
Ia langsung tersadar.
Dirinya tidak benar-benar sendirian. Ia masih punya anaknya.
Demi anaknya pun, ia tidak boleh menyerah begitu saja!
Meskipun anak dalam kandungannya menyalakan kembali sedikit semangat juang Maya Tanaka, tubuhnya yang sudah lama tidak beristirahat dan makan dengan baik, ditambah dengan pukulan mental dari Arya Prawiro dan ayahnya, akhirnya membuatnya demam ringan.
Semakin jauh ia berjalan, semakin terasa kedua kakinya berat seperti diikat timah.
Tiba-tiba, ia merasa tubuhnya menjadi ringan, pandangannya menggelap, dan seluruh badannya tumbang ke depan.
Dengan sisa tenaga terakhirnya, Maya Tanaka memeluk perutnya erat-erat, lalu pingsan.
Orang-orang yang melihatnya pingsan segera mengerumuninya.
“Cepat telepon 112! Ada yang pingsan di sini!”
