Bab [2] Kembali ke Keluarga Santoso
Sinta Lestari berbalik, menatap pria yang tertidur lelap di ranjang. Ternyata dia bukan Fajar Widya. Pantas saja tubuhnya begitu kekar dan bugar, sama sekali tidak terlihat seperti orang sakit.
Mengingat malam liar yang mereka lalui, Sinta merasa sangat bersalah. Ia buru-buru mengenakan pakaiannya, menyambar tas, dan bersiap untuk kabur.
Namun, sedetik kemudian ia berpikir ulang. Dirinyalah yang salah masuk kamar dan meniduri pria ini. Pergi begitu saja rasanya tidak beretika. Akhirnya, ia melepas kalung di lehernya, mengeluarkan lima lembar uang seratus ribuan—satu-satunya uang tunai di dompetnya—dan meletakkannya di atas meja. Ia juga mengambil secarik kertas dan pena, lalu menulis pesan singkat.
“Maaf, Pak Wijaya. Saya tidak bermaksud menyinggung. Kalung ini sebagai ucapan terima kasih.”
Kalung itu tidak murah, pria ini seharusnya bisa menerimanya. Lagipula, semalam dia juga tampak sangat menikmatinya. Kalau dihitung-hitung, dia tidak rugi.
Dengan pikiran itu, Sinta Lestari pergi tanpa beban sedikit pun.
Setelah keluar, Sinta mendongak untuk melihat nomor kamar. Ternyata kamar ini 2906, bukan 2806 seperti yang dikatakan ayah angkatnya. Pasti matanya sudah kabur karena efek obat perangsang semalam.
Setibanya di kediaman keluarga Santoso, Sinta menatap setiap sudut yang familier. Bagaimanapun, ini adalah tempat ia tinggal selama lebih dari sepuluh tahun.
Dulu, ia dijemput dari panti asuhan oleh orang tua angkatnya. Mereka membelikannya baju baru, mainan baru, dan menyekolahkannya di sekolah yang bagus. Saat itu, Sinta benar-benar ingin menganggap mereka sebagai orang tua kandungnya.
Namun, lambat laun Sinta menyadari bahwa mereka hanya menjadikannya sebagai pengganti. Ia mencari berita lama dan menemukan bahwa setahun sebelum mereka mengadopsinya, putri kandung mereka hilang.
Mengetahui hal ini, Sinta tidak merasa sedih. Ia justru bersyukur dengan kehadirannya, karena dengan begitu, orang tua angkatnya tidak terus-menerus hidup dalam kesedihan.
Sayangnya, pengganti akan selamanya menjadi pengganti. Ketika yang asli kembali, si pengganti langsung tidak ada harganya.
Sinta sebenarnya tidak ingin kembali ke rumah keluarga Santoso, tetapi Nenek bilang sangat merindukannya, jadi ia memutuskan untuk tinggal selama beberapa hari.
Dulu, setelah Melati Santoso kembali, sikap orang tua angkatnya berubah total. Mereka memperlakukannya seperti pembantu. Untungnya, Nenek selalu melindunginya. Karena itulah, Sinta tidak ingin mengecewakan Nenek.
Teleponnya berdering. Sinta mengangkatnya.
“Mbak Sinta, bagaimana pertimbangan Mbak soal tawaran saya tempo hari?”
“Pak Hartono, Anda antusias sekali, sampai saya jadi tidak enak.”
“Mbak Sinta, Bina Harmoni benar-benar membutuhkan talenta seperti Anda. Sejak tahu Anda akan pulang ke Indonesia, hati saya ini berdebar-debar saking senangnya. Kalau Mbak Sinta tidak bergabung dengan Bina Harmoni, saya bisa sedih sampai tidak nafsu makan tiga hari, lho.”
“Haha,” Sinta tertawa kecil. “Anda bisa saja. Kalau begitu, baiklah, saya akan mencoba di Bina Harmoni untuk sementara waktu.”
“Wah, bagus sekali! Selamat datang, Mbak Sinta! Sebenarnya, saya ada satu permintaan lagi, nih.”
“Silakan, Pak.”
“Apa Mbak Sinta bisa mulai bekerja sore ini? Ada satu anak perempuan yang sulit sekali diatur. Guru-guru di sini sudah angkat tangan, tapi orang tuanya orang besar, kami tidak berani menyinggung…”
“Saya mengerti. Baik, saya akan ke sana sore nanti.”
“Aduh, terima kasih banyak! Anda benar-benar menolong saya. Kalau begitu, sore ini saya tunggu di Bina Harmoni, ya. Tenang saja, fasilitas untuk Anda pasti yang terbaik.”
“Terima kasih, Pak Hartono.”
Baru saja urusan pekerjaan selesai, suara Melati Santoso yang menyebalkan terdengar dari belakang.
“Ma, kenapa dia ada di sini?”
Sinta berbalik dan melihat Dewi Kusuma bersama putrinya, Melati Santoso, membawa banyak tas belanjaan. Ia hanya mengangguk sedikit sebagai sapaan.
“Tidak sopan sekali,” cibir Melati sambil memutar bola matanya.
“Benar. Menyapa orang tua saja tidak. Sia-sia kami membesarkanmu selama ini.”
Tepat pada saat itu, Nyonya Besar Santoso keluar. Melihat ibu dan anak itu, raut wajahnya langsung berubah masam.
“Ribut-ribut apa? Sinta itu besar di sisiku. Kalian hanya melihatnya kalau ingat, dan menganggapnya tidak ada kalau lupa. Sekarang bicara seperti ini, apa kalian tidak malu?”
Ucapan itu membuat wajah Dewi Kusuma memerah dan memucat. Namun, ia tidak berani membantah ibu mertuanya, jadi ia mengalihkan pandangannya ke Sinta.
“Bukannya kamu bilang tidak akan pernah kembali? Baru berapa tahun, hah? Kenapa, hidup di luar sana susah ya setelah meninggalkan keluarga Santoso?”
Sinta tidak menghiraukannya. Ia berjalan mendekat, membantu Nyonya Besar duduk di kursi, lalu menuangkan secangkir teh untuknya. Baru setelah itu ia menatap Dewi Kusuma.
“Berkat Anda, beberapa tahun ini hidup saya cukup baik.”
Entah mengapa, setiap kali melihat sikap Sinta yang tenang dan acuh tak acuh, amarah Dewi Kusuma selalu meledak-ledak.
Dulu ia mengadopsi Sinta hanya untuk menenangkan hatinya yang hancur karena kehilangan putrinya. Tapi karena bukan darah daging sendiri, Sinta tidak pernah terasa dekat. Setelah putri kandungnya ditemukan, ia menjadi semakin dingin pada Sinta.
Tak disangka, anak ini punya harga diri yang begitu tinggi. Hanya karena disuruh mengerjakan sedikit pekerjaan rumah dan diminta menggantikan Melati untuk menikah dengan putra keluarga Widya itu, ia berani-beraninya mengancam akan memutuskan hubungan.
Putrinya sendiri sudah menderita bertahun-tahun di luar sana, sementara Sinta menikmati kemewahan di keluarga Santoso. Apa lagi yang tidak ia syukuri?
Sementara itu, Melati Santoso sudah mengamati Sinta dari ujung rambut sampai ujung kaki. Dalam bayangannya, Sinta seharusnya hidup dalam keadaan menyedihkan. Namun, Sinta yang ada di hadapannya tampak sangat sehat, pakaian yang dikenakannya pun bukan barang murahan. Seluruh penampilannya terlihat elegan dan berkelas.
Justru dirinya yang berdiri di sampingnya jadi terlihat sedikit kampungan.
Melati merasa sedikit kesal, tetapi ia tidak menunjukkannya. Sebaliknya, ia tersenyum manis dan berkata dengan lembut, “Sinta, aku lega melihatmu hidup dengan baik.”
“Tidak perlu,” sahut Sinta dingin. “Bersandiwara untuk siapa? Menjijikkan.”
Dewi Kusuma yang sudah tidak suka pada Sinta, semakin geram mendengar kata-kata itu. Ia menunjuk Sinta dan memakinya.
“Bagaimana caramu bicara? Melati baik hati mengkhawatirkanmu, kamu tidak menghargainya, malah bicara sekasar itu. Apa ini yang kamu pelajari selama di luar negeri?”
“Mama,” Melati memegang lengan Dewi Kusuma. “Jangan marah. Ini semua salahku. Akulah yang merebut Papa dan Mama, merebut kebahagiaan yang seharusnya menjadi milik Kak Sinta. Aku bisa mengerti kalau dia tidak menyukaiku. Mama jangan menyalahkannya, ya.”
Kata-kata itu membuat Dewi Kusuma semakin kasihan pada putrinya. Dulu karena kelalaiannya, Melati hilang dan menderita bertahun-tahun. Setelah kembali, putrinya tidak pernah menyalahkannya, malah selalu mengingatkan mereka untuk memperlakukan Sinta dengan baik.
Justru si Sinta ini yang sama sekali tidak tahu diri, benar-benar kacang lupa kulitnya.
Dewi Kusuma menepuk-nepuk tangan Melati dengan penuh kasih. “Melati, kenapa kamu berpikir begitu? Semua ini memang milikmu. Dia hanya beruntung bisa menikmatinya untuk sementara. Kamu jangan sampai merasa terbebani karena ini, mengerti?”
Melihat sandiwara ibu dan anak itu, Sinta tidak tahan untuk tidak memutar bola matanya beberapa kali. Nyonya Besar Santoso menyesap tehnya perlahan, lalu berkata dengan tenang, “Memang benar-benar ibu dan anak. Aktingnya sama-sama payah.”
Sinta tidak bisa menahan senyum kecil. Meskipun marah, Dewi Kusuma tidak berani membantah Nyonya Besar. Ia hanya bisa menatap Sinta dengan tajam.
