Bab [3] Temukan Wanita Ini

Suasana tegang itu pecah saat seorang asisten rumah tangga datang menghampiri.

“Nyonya Besar, Nyonya, Nona, Bapak sudah pulang.”

Nyonya Besar Santoso menggenggam tangan Sinta Lestari. “Ayo, kita makan.”

Sebagai pucuk pimpinan Grup Santoso, Bambang Santoso memancarkan aura dominan seorang penguasa. Dulu, Sinta Lestari kecil cukup takut padanya.

Namun, berbeda dari citra ayah angkatnya yang kaku dan jarang tersenyum dalam ingatannya, Bambang Santoso yang melihat istri dan putrinya kini tersenyum hangat. Tatapan penuh kasih itu, bagaimanapun, berubah menjadi sedingin es saat mendarat pada Sinta Lestari.

“Kenapa kamu di sini?”

“Aku yang menyuruh Sinta datang. Bicaralah yang lebih sopan,” Nyonya Besar Santoso melirik tajam ke arah Bambang Santoso.

Meskipun Bambang Santoso adalah penguasa absolut di Grup Santoso, ia tidak berani menentang ibunya sendiri. Bagaimanapun, wanita tua itu adalah sosok yang jika menghentakkan kakinya, seluruh Grup Santoso akan ikut bergetar.

Namun, Bambang Santoso tetap tidak bisa menunjukkan wajah ramah pada Sinta Lestari. Rencana yang ia susun semalam gagal, dan pagi ini pihak sana sudah menelepon untuk memintanya bertanggung jawab.

“Aku tanya padamu, kenapa semalam kamu tidak menemui Fajar Widya?”

Sinta Lestari tidak menjawab, ia hanya fokus menyantap makanan di piringnya. Sikap santainya membuat Bambang Santoso murka. Ia merebut sumpit dari tangan Sinta dan membantingnya ke meja.

“Makan, makan, makan! Yang kamu tahu hanya makan! Rencana sudah berantakan dan kamu masih punya muka untuk makan?”

“Apa-apaan kamu ini?” hardik Nyonya Besar Santoso. “Hanya karena tidak bertemu Fajar Widya saja, apa masalahnya? Bisa bertemu lain kali, kan?”

Bambang Santoso memasang wajah seolah menjadi korban. “Bu, semalam aku sudah bicara baik-baik dengannya, dan dia juga sudah setuju. Tapi tahu-tahu, dia malah tidur dengan laki-laki entah siapa. Keluarga Widya melampiaskan amarahnya padaku. Aku yang jadi korban di sini, Bu!”

Mendengar Bambang Santoso melemparkan fitnah keji padanya, wajah Sinta Lestari mengeras. Tepat saat ia hendak membalas, Nyonya Besar Santoso membanting sumpitnya ke meja dengan bunyi “Prak!”

“Lihat ucapanmu itu! Bagaimanapun juga, Sinta tumbuh besar di bawah pengawasanmu. Apa hatimu tidak merasa bersalah memfitnahnya seperti itu? Kamu masih berani bilang jadi korban? Menurutku, kamu sama sekali tidak salah!”

Ucapan sang ibu tidak membuat Bambang Santoso surut. Sebaliknya, ia merasa semakin benar.

“Kita semua tahu apa yang pernah dia lakukan di masa lalu. Wanita tidak tahu malu seperti dia bisa melakukan apa saja, itu tidak aneh. Ibu terlalu memanjakannya, makanya dia tidak pernah mau bertobat.”

Dalam benak Bambang Santoso, Sinta Lestari semalam pasti bersenang-senang dengan pria lain di luar sana.

Semalam, agar Sinta Lestari tidak punya kesempatan untuk membicarakan perceraian, Bambang Santoso diam-diam menambahkan sesuatu ke dalam minumannya.

Obat itu memiliki efek yang sangat kuat. Siapa pun yang meminumnya tidak akan bisa mengendalikan diri saat melihat pria. Selama Sinta berhubungan dengan Fajar Widya, urusan perceraian ini tidak akan semudah itu.

Tak disangka, Sinta Lestari tidak menemui Fajar Widya dan juga tidak keluar dari hotel. Pasti dia bercumbu dengan pria di salah satu kamar. Benar-benar tabiat buruk yang tidak bisa diubah.

“Heh,” Sinta Lestari menatap Bambang Santoso. “Sepertinya Ayah sangat tertarik dengan apa yang kulakukan semalam, ya? Apa Ayah kesal karena rencananya gagal? Ayah tidak ingin aku bercerai dari Fajar Widya, makanya Ayah melakukan hal serendah itu, kan?”

“Kamu… jangan bicara sembarangan!” Bambang Santoso panik.

“Aku bicara sembarangan atau tidak, Ayah tahu sendiri jawabannya. Lain kali, jangan pernah membentakku lagi. Utangku pada kalian sudah lunas!”

Utangnya pada keluarga Santoso sudah ia lunasi lima tahun yang lalu. Tapi semua luka yang ditorehkan keluarga Santoso padanya, ia catat satu per satu di dalam hati. Suatu saat nanti, ia pasti akan menuntut balas.

Sinta Lestari bangkit dari meja dengan marah. Suasana di ruang makan menjadi berat. Sementara itu, Melati Santoso hanya diam menyaksikan semuanya, dengan seulas senyum tipis yang nyaris tak terlihat di bibirnya.

“Ayah, Nenek, jangan marah. Kak Sinta pasti tidak sengaja.”

“Memang Melati yang paling pengertian,” Bambang Santoso menghela napas. “Kami semua yang bersalah padamu. Oh ya, bagaimana pekerjaanmu? Kalau tidak cocok, lebih baik kerja di Grup Santoso saja. Tidak perlu susah-susah di luar.”

“Tidak perlu, Ayah. Aku ingin melatih diriku sendiri di luar. Tapi, masuk ke Bina Harmoni itu susah sekali. Kudengar Nenek punya sedikit koneksi dengan pendiri Bina Harmoni…”

Setelah berkata demikian, Melati Santoso menatap Nyonya Besar Santoso penuh harap. Dewi Kusuma, ibunya, segera menyambung.

“Bu, tolonglah Melati. Dia benar-benar menyukai pekerjaan itu.”

“Hmph,” Nyonya Besar Santoso mendengus dingin. “Bina Harmoni itu bukan tempat sembarang orang. Kemampuannya saja pas-pasan, lebih baik jangan bermimpi terlalu tinggi.”

Mendengar itu, mata Melati Santoso memerah, air mata mulai menggenang di pelupuknya.

Hati Bambang Santoso terasa sakit melihatnya. “Bu, tolonglah Melati. Dia kan cucu kandung Ibu!”

Meskipun Nyonya Besar Santoso tidak suka dengan kepura-puraan Melati, ikatan darah tidak bisa diputuskan. Jika Melati bisa mendapat pekerjaan yang baik, kelak ia juga bisa menemukan jodoh yang baik.

Memikirkan hal itu, Nyonya Besar Santoso akhirnya mengangguk.

Melihat neneknya mengangguk, Melati Santoso berkata dengan manis, “Terima kasih, Nek.”

Hatinya kini meluap-luap karena gembira. Ia ingin masuk ke Bina Harmoni bukan karena mencintai pekerjaan itu, melainkan untuk menjadi guru piano di kediaman keluarga Wijaya.

Targetnya adalah Adi Wijaya, pria paling terhormat di seluruh Jakarta.

Setelah Sinta Lestari pergi, Adi Wijaya di kamarnya tertidur pulas untuk waktu yang lama, sampai asistennya datang dan membangunkannya.

“Pak Wijaya, ada telepon dari Nyonya Besar.”

Adi Wijaya menerima telepon itu. Terdengar suara neneknya, Putri Maharani. “Dasar anak nakal, kenapa tidak mengangkat telepon? Bagaimana, apa semalam kamu sudah bertemu dengannya?”

“Siapa?”

“Sinta Lestari, istrimu! Kemarin kan Nenek sudah bilang? Meskipun kamu belum pernah bertemu dengannya, setidaknya kalian sudah punya surat nikah. Tidak bisakah kamu sedikit saja peduli padanya?”

Adi Wijaya yang tadinya masih setengah sadar, kini sepenuhnya terjaga. Kemarin neneknya memang memberitahu bahwa calon istri yang belum pernah ia temui itu akan datang, tapi ia tidak menganggapnya serius.

Lima tahun lalu, Adi Wijaya tiba-tiba jatuh sakit. Dokter-dokter ternama dari dalam dan luar negeri pun tidak ada yang bisa menolong. Dalam keputusasaan itu, neneknya memanggil seorang guru spiritual yang sangat tertutup untuk menengok dan memberi petunjuk.

Menurut sang guru, Adi Wijaya memang ditakdirkan menghadapi musibah besar, tapi itu bukan hal yang mustahil untuk diatasi. Cara satu-satunya adalah mengganti namanya menjadi Fajar Widya, dan menikah dengan seorang wanita yang dianggap membawa keberuntungan menurut ramalan.

Neneknya pun mencari seorang wanita yang kabarnya cocok secara ramalan dengan Adi Wijaya, lalu dengan membawa dokumen mereka, segera mengurus pernikahan.

Meskipun Adi Wijaya biasanya tidak percaya pada hal-hal mistis, saat itu ia masih koma dan tidak menyadari apa pun. Ketika akhirnya ia sadar, semuanya sudah terjadi dan tak bisa diubah lagi.

Setelah itu, ia pergi ke luar negeri untuk memulihkan kondisi tubuhnya, sehingga ia tidak pernah punya kesempatan untuk bertemu dengan istri sahnya di atas kertas. Untuk menghindari masalah, keluarganya juga tidak pernah mengungkapkan identitas asli Adi kepada keluarga Santoso.

“Tidak kenal, tidak bertemu,” kata Adi Wijaya sebelum menutup telepon.

Pantas saja semalam neneknya terus-menerus menyuruhnya untuk beristirahat di hotel. Ternyata sudah ada rencana tersembunyi. Untung saja ia pindah ke kamar lain untuk tidur.

Sebenarnya, lima tahun lalu Adi Wijaya bukan sakit, melainkan diracun. Selama beberapa tahun ini, dokter telah berusaha keras membersihkan racun dari tubuhnya. Kondisinya sudah jauh lebih baik sekarang, hanya saja penyakitnya sesekali masih kambuh dan ia harus minum obat secara rutin.

“Pak Wijaya, Anda baik-baik saja?” tanya asistennya hati-hati.

Sejak masuk ke dalam kamar, ia sudah merasakan ada yang aneh. Pakaian Adi Wijaya berserakan di lantai, dan udara dipenuhi aroma yang intim.

Saat Adi Wijaya bangkit untuk menerima telepon, selimutnya melorot hingga ke pinggang. Dilihat dari bekas kemerahan di leher dan dadanya, tidak sulit membayangkan apa yang terjadi di kamar itu semalam.

Mendengar pertanyaan asistennya, Adi Wijaya teringat kejadian semalam.

Semalam, setelah minum sedikit alkohol, tubuhnya mulai terasa tidak nyaman. Awalnya ia ingin kembali ke kamar untuk istirahat, tetapi setelah melihat tatapan aneh dari kliennya, ia memutuskan untuk pindah kamar. Setelah minum obat, ia pun tertidur.

Awalnya ia mengira hanya mengalami mimpi erotis, tetapi melihat kondisi kamar sekarang, semua yang terjadi semalam adalah nyata.

Sekalipun sudah berhati-hati, ia tetap saja dijebak. Adi Wijaya mengumpat dalam hati.

“Aku tidak apa-apa. Kamu boleh keluar dulu.”

“Baik, Pak Wijaya. Panggil saya jika ada perlu.”

Setelah asistennya keluar, Adi Wijaya memijat kepalanya yang masih pening. Entah kenapa, wanita semalam memberinya perasaan yang familier, seolah pernah ia rasakan beberapa tahun yang lalu.

Adi Wijaya berbalik untuk mengambil ponselnya, tetapi matanya menangkap seuntai kalung dan beberapa lembar uang di atas meja nakas. Di bawahnya, terselip secarik kertas. Tulisan di kertas itu nyaris membuatnya tertawa sinis.

“Hah, uang terima kasih,” Adi Wijaya mencibir. “Dia pikir aku ini apa?”

Lima lembar uang seratus ribuan itu membuat Adi Wijaya merasa sangat dihina. Dia harus berhubungan dengan seorang wanita yang asal-usulnya tidak jelas, dan diperlakukan seolah-olah dirinya hanyalah pekerja kelas bawah. Ini benar-benar aib yang luar biasa bagi dirinya!

Mengingat kejadian enam tahun lalu, niat membunuh perlahan muncul di mata Adi Wijaya.

Ia menelepon asistennya. “Sekarang juga, cari tahu siapa wanita yang ada di kamarku semalam. Gunakan cara apa pun, aku mau kau temukan dia untukku!”

Bab Sebelumnya
Bab Selanjutnya