Bab [4] Musuh Bertemu di Jalan Sempit
Kejadian siang itu sama sekali tidak memengaruhi suasana hati Sinta Lestari. Sore harinya, sesuai janji, ia tiba di Bina Harmoni. Rudi Hartono sudah menunggunya di depan pintu.
“Mbak Sinta, akhirnya datang juga. Sudah saya tunggu-tunggu dari tadi.”
“Pak Hartono terlalu berlebihan. Bapak terus-terusan menghubungi saya, jadi saya tidak enak untuk menolak. Tapi, saya bilang dari awal, ya, kalau saya tidak bisa mengajar dengan baik, jangan salahkan saya.”
“Mbak Sinta terlalu rendah hati. Mbak kan murid kesayangan Tuan Smith. Kalau Mbak saja tidak bisa mengajar dengan baik, berarti tidak ada lagi orang di dunia ini yang bisa,” balas Rudi Hartono.
Tuan Smith adalah seorang pianis ternama tingkat internasional yang hanya memiliki segelintir murid selama bertahun-tahun.
Rudi Hartono sudah lama ingin mengundang Tuan Smith untuk berkunjung ke Bina Harmoni, tetapi selalu gagal. Tuan Smith sudah memiliki nama besar dan kekayaan, jadi tempat seperti Bina Harmoni yang belum punya reputasi internasional sama sekali tidak menarik baginya. Apalagi mencoba membujuknya dengan uang, itu lebih mustahil lagi.
Setelah saling berbasa-basi di depan pintu, Sinta Lestari mengikuti Rudi Hartono masuk ke dalam gedung Bina Harmoni.
Sebagai pusat seni paling bergengsi di Jakarta, gedung Bina Harmoni tampak mewah bak istana. Para pengajar di dalamnya pun berasal dari sekolah-sekolah musik ternama, masing-masing memancarkan aura yang luar biasa.
Sinta Lestari mengikuti Rudi Hartono masuk ke ruang kantornya. Di sofa, sudah ada dua orang yang duduk—dua orang yang sangat Sinta kenal.
“Kenapa kamu ada di sini?” tanya Dewi Kusuma dengan terkejut.
“Ini bukan rumahmu. Kalau kalian boleh datang, tentu aku juga boleh,” balas Sinta dengan tenang.
Melihat sikap Sinta yang begitu santai, dada Dewi Kusuma terasa sesak oleh amarah. Namun, karena ada orang luar, ia hanya bisa melotot tajam ke arah Sinta.
“Ma,” Melati Santoso menggenggam tangan ibunya. “Kak Sinta pasti datang untuk wawancara kerja. Dia kan baru pulang ke Indonesia, pasti butuh pekerjaan untuk menyambung hidup. Mama jangan galak-galak begitu, dong.”
Dalam benak Melati, Sinta pasti hidup sengsara selama beberapa tahun ini tanpa bantuan keluarga Santoso. Wajar saja jika sekarang ia harus mencari pekerjaan untuk menghasilkan uang.
Namun, mustahil bagi Sinta untuk bisa bekerja di sini. Bagaimanapun, dia hanyalah seseorang yang bahkan tidak lulus kuliah. Kualifikasinya bahkan tidak cukup untuk menjadi petugas kebersihan di tempat ini.
Dewi Kusuma mendengus. “Hmph, memangnya dia punya kualifikasi apa untuk bekerja di sini?”
Rudi Hartono mengerutkan kening menatap mereka. “Kalian siapa? Kenapa ada di kantor saya?”
Baru saat itulah Dewi dan Melati menyadari keberadaan Rudi Hartono yang berdiri di samping mereka. Menebak bahwa dialah penanggung jawab Bina Harmoni, wajah mereka langsung berubah manis dengan senyum menjilat. Dewi bahkan segera mendekat.
“Anda pasti Pak Hartono, kan? Ibu mertua saya adalah teman lama almarhum ayah Anda. Waktu Anda kecil, beliau bahkan pernah menggendong Anda. Melati, cepat sapa Pak Hartono.”
“Selamat sore, Pak Hartono.”
“Hah,” Sinta tertawa sinis. “Ternyata datang untuk cari koneksi.”
“Apa katamu?”
“Sudah, sudah, semuanya tenang dulu. Silakan duduk di sini.”
Seorang sekretaris datang membawakan teh dan kue. Keempatnya duduk saling berhadapan di sofa. Rudi Hartono pertama-tama menatap Dewi Kusuma.
“Kalian dari keluarga Santoso, kan?”
“Betul, betul. Hebat sekali Bapak masih ingat. Pak Hartono, sejak Bapak Basar pindah ke Swiss, keluarga kita jadi jarang berkomunikasi. Ke depannya kita harus lebih sering bersilaturahmi, jangan sampai hubungan baik generasi tua putus di kita. Benar, kan, Pak?”
Kata-katanya terdengar tulus, tetapi di dalam hati Rudi Hartono hanya ada cibiran dingin. Dulu, saat keluarga Santoso sedang jaya-jayanya, keluarga Hartono tidak sedikit membantu mereka. Namun, setelah ayahnya, Bapak Basar, pindah ke luar negeri, keluarga Santoso seolah lenyap ditelan bumi, tidak pernah lagi menginjakkan kaki di rumah keluarga Hartono.
Meski begitu, Rudi Hartono tidak menunjukkannya di wajahnya.
“Anda benar. Ada keperluan apa kalian datang hari ini?”
“Pak Hartono, ini putri saya, Melati. Tahun ini dia baru lulus dari Universitas Musik Jakarta, jurusan piano. Saya dengar di sini sedang mencari guru piano. Bagaimana menurut Bapak putri saya?”
Melati Santoso yang duduk di sampingnya dengan anggun, segera tersenyum malu-malu saat Rudi Hartono menoleh ke arahnya.
“Pak Hartono, nilai piano saya peringkat pertama di angkatan, lho. Mengajar anak-anak kecil pasti tidak masalah. Bagaimana kalau saya mainkan satu lagu untuk Bapak sekarang?”
“Oh? Hebat sekali. Tapi, Nyonya Santoso, mohon maaf sekali, kami sudah menemukan guru piano.”
“Lho… Boleh saya tahu pianis hebat mana yang berhasil menarik perhatian Pak Hartono?”
“Justru Mbak Sinta yang ada di samping saya ini. Dia adalah murid kesayangan Tuan Smith. Pianonya sangat bagus, dan kemampuannya di bidang lain juga luar biasa.”
Pernyataan itu sukses membuat Dewi Kusuma dan Melati Santoso terperangah. Mereka memang menduga Sinta datang untuk mencari kerja, tetapi tidak menyangka ia sudah diterima—bahkan untuk posisi guru piano yang diinginkan Melati. Apa Sinta sudah menghubungi neneknya lebih dulu?
Dewi Kusuma memutar bola matanya. “Hmph, Tuan Smith siapa? Aku tidak pernah dengar namanya.”
Ucapan itu membuat Sinta tak bisa menahan tawa. Bahkan Rudi Hartono nyaris tertawa, tetapi sebagai orang yang terbiasa menghadapi berbagai situasi, ia berhasil menahannya.
“Tunggu,” Melati Santoso tiba-tiba menyadari sesuatu. “Tuan Smith… Maksud Bapak, Tuan Smith yang itu?”
“Betul sekali. Tuan Smith sang maestro piano internasional. Kamu kan belajar piano, masa tidak tahu?” sahut Rudi Hartono dengan santai.
Bagaimana mungkin tidak tahu? Melati sangat tahu. Dulu ia juga ingin belajar piano dengan Tuan Smith, tetapi setelah mencari tahu ke mana-mana, tidak ada seorang pun yang bisa masuk ke lingkaran pergaulan Tuan Smith. Tapi Sinta, kenapa dia bisa menjadi murid Tuan Smith? Atas dasar apa?
Pertahanan Melati Santoso runtuh. Sulit baginya untuk tidak percaya bahwa Sinta pasti menggunakan cara-cara kotor untuk mendapatkan kesempatan itu.
“Kak Sinta, tidak kusangka kamu muridnya Tuan Smith. Sepertinya beberapa tahun ini hidupmu baik-baik saja, ya. Pasti bertemu orang baik yang membantumu. Padahal aku dan Papa Mama selalu mengkhawatirkanmu.”
Awalnya Dewi Kusuma belum mengerti siapa Tuan Smith itu. Namun, setelah mendengar ucapan Melati, amarahnya langsung meledak.
“Pantas saja tidak ada kabarmu sama sekali selama ini. Ternyata kamu melakukan hal-hal tidak senonoh di luar sana! Sinta Lestari, apa kamu mau menghancurkan nama baik keluarga Santoso sampai habis?”
“Permisi, Nyonya. Nama keluarga saya Lestari, tidak ada hubungannya dengan keluarga Santoso kalian.”
“Cukup! Nyonya Santoso, dari tadi Anda terus berteriak di kantor saya dan bersikap tidak sopan pada guru yang saya undang. Saya sudah cukup sabar. Sekarang saya sudah mendapatkan guru piano, jadi silakan Anda berdua pulang.”
“Pak Hartono, Nyonya Besar di keluarga kami…”
“Nyonya Santoso, Nyonya Besar Anda punya hubungan baik dengan almarhum ayah saya, itu urusan mereka. Sekarang, Bina Harmoni ini saya yang pegang. Sejujurnya, level putri Anda saat ini belum cukup untuk mengajar di Bina Harmoni. Lebih baik pulang dan berlatih beberapa tahun lagi, baru coba lagi.”
Meskipun kata-kata Rudi Hartono sudah sangat halus, ibu dan anak itu tetap merasa dipermalukan, apalagi di hadapan Sinta. Ini benar-benar seperti ditampar di depan umum.
“Silakan pulang,” kata Sinta dengan senyum mengejek.
Wajah ibu dan anak itu menjadi sangat masam, tetapi mereka tidak berani meluapkan amarah. Mereka hanya bisa melotot tajam ke arah Sinta sebelum pergi dengan gontai.
Rudi Hartono menatap Sinta dengan raut penuh penyesalan. “Mbak Sinta, maaf sekali, Anda jadi tidak nyaman.”
“Tidak apa-apa, Pak. Justru saya harus berterima kasih karena Bapak sudah membela saya di depan mereka. Lebih baik kita bicarakan soal pekerjaan saja.”
“Baik, mari saya jelaskan…”
