Bab [5] Ternyata Dia

Setelah berbincang sepanjang sore dengan Pak Rudi Hartono, Sinta Lestari akhirnya memahami gambaran umum tentang calon murid yang akan diajarnya.

Gadis kecil itu bernama Lia Wijaya, anak dari keluarga single parent, yang membuat karakternya sedikit aneh. Beberapa guru les sebelumnya sudah menyerah. Masalahnya, orang tua Lia memiliki standar yang sangat tinggi untuk seorang guru. Karena sudah kehabisan akal, Pak Rudi akhirnya menghubungi Sinta Lestari.

Awalnya, Sinta tidak terlalu tertarik dengan pekerjaan ini. Namun, setelah mendengar tentang kondisi si gadis kecil, minatnya tiba-tiba terusik. Selain belajar piano saat di luar negeri, ia juga mengambil mata kuliah psikologi. Kasus yang ada di hadapannya ini terasa seperti sebuah kejutan yang menyenangkan.

Pukul tujuh malam, Sinta tiba di kediaman keluarga Wijaya, sebuah vila megah di pusat kota.

Ini adalah kawasan elite di Jakarta, tempat yang hanya mampu dibeli oleh pengusaha sekelas keluarga Wijaya. Keluarga Santoso jelas tidak memiliki kekayaan, apalagi status sosial untuk tinggal di sini.

Jadwal les sebenarnya dimulai pukul setengah delapan, tetapi karena ini adalah kunjungan pertamanya, Sinta sengaja datang setengah jam lebih awal. Tujuannya ada dua: membiasakan diri dengan lingkungan sekitar dan memahami temperamen Lia Wijaya terlebih dahulu.

Seorang asisten rumah tangga mengantar Sinta sampai ke depan kamar Lia, lalu bergegas pergi seolah ada sesuatu yang menakutkan di dalam sana.

Sinta berdiri di ambang pintu. Di dekat meja belajar, duduk seorang perempuan dan seorang gadis kecil. Perempuan itu sedang berbicara, suaranya terdengar jelas menahan amarah.

“Lia, sudah berapa kali Ibu bilang, angka yang bersebelahan itu artinya angka sebelum dan sesudahnya. Ibu tanya sekali lagi, angka 5 bersebelahan dengan angka berapa saja?”

“Delapan dan sembilan.”

“Kamu sengaja, ya?”

“Iya. Memangnya kenapa?”

“Lia Wijaya, kalau kamu terus begini, akan Ibu bilang ke Papamu kalau kamu itu bodoh!”

“Berani saja,” sahut Lia tanpa rasa takut. “Aku ini anak Papa. Kalau kamu bilang aku bodoh, itu sama saja bilang Papaku juga bodoh. Lihat saja nanti akibatnya.”

Indira Kusuma rasanya hampir gila. Setiap hari Lia bersikap keras kepala seperti ini. Saat diajar tidak pernah mau mendengarkan, dan saat mengerjakan PR selalu asal-asalan.

Parahnya lagi, Pak Adi Wijaya sama sekali tidak peduli. Ia terus berkata bahwa anaknya hanya belum ‘terbuka pikirannya’, bahkan sampai meragukan kemampuan mengajar Indira. Jika terus begini, pekerjaannya bisa terancam.

“Anak manisku, tolonglah Ibu. Bisa tidak kamu kasih tahu, bagaimana caranya supaya kamu mau belajar dengan baik?”

“Aku tidak mau belajar. Jangan pikir aku tidak tahu apa maumu.”

“Aku hanya ingin kamu belajar dengan baik, memangnya mau apa lagi?”

“Bukan! Kamu mau jadi ibu tiriku, kan? Tapi aku tidak akan pernah setuju, dan Papaku juga tidak akan suka sama kamu.”

Ucapan itu membuat wajah Indira Kusuma memerah karena malu.

“Kenapa?”

“Karena kamu jelek sekali.”

“...”

Sinta Lestari, yang berdiri di luar pintu, tidak bisa menahan tawa kecilnya. Suara itu terdengar oleh Indira, yang wajahnya langsung pucat pasi karena marah. Dipermalukan oleh Lia si anak manis ini saja sudah cukup, sekarang seorang perempuan tak dikenal pun berani menertawakannya.

Lagi pula, di mana letak kejelekannya? Dulu ia adalah ratu kecantikan di jurusan Fisika!

“Kamu siapa?” tanya Indira dengan ketus.

“Halo, saya guru piano yang baru. Apa sesi Anda belum selesai?”

Sinta tersenyum ramah, tetapi senyum itu justru membuat Indira merasa tidak nyaman. Perempuan ini terlalu cantik, dan entah kenapa, Indira merasakan sedikit ancaman.

“Guru piano? Seorang guru berpakaian seperti ini, orang yang tidak tahu bisa mengira kamu ini reseller di medsos.”

Hari ini adalah hari pertama Sinta bekerja. Ia mengenakan gaun kerah berwarna khaki muda yang sederhana, bergaya kasual bisnis. Sama sekali tidak ada hubungannya dengan gaya reseller di media sosial.

Awalnya Sinta berpikir, karena mereka sama-sama mencari nafkah, sebaiknya bekerja sama dengan baik untuk mendidik anak ini. Tapi sekarang, sepertinya itu tidak mungkin.

“Oh, begitu ya? Tapi pakaian Anda memang terlihat seperti gaya seorang guru. Kelihatan sangat dewasa dan berwibawa.”

“Hehe,” Indira tampak sedikit bangga. “Namanya juga mendidik, kan? Berpakaian sopan itu yang paling penting.”

“Pfft, kamu bodoh atau bagaimana, sih? Maksud dia, bajumu itu kuno dan norak.”

Lia terbahak sambil memegangi perutnya. Di sampingnya, Sinta juga berusaha menahan tawa. Wajah Indira yang tadinya tersenyum bangga, kini berubah menjadi kelam.

“Kalian! Lia Wijaya, aku akan laporkan kelakuanmu akhir-akhir ini pada Papamu! Dan kamu, guru piano baru, kejadian tadi akan aku sampaikan apa adanya pada Pak Wijaya. Hari ini adalah hari pertamamu bekerja di rumah ini, dan mungkin juga hari terakhirmu.”

“Waduh, aku takut sekali,” kata Sinta, berpura-pura ketakutan.

“Takut banget,” timpal Lia, ikut berakting.

Untuk sesaat, Indira merasa kedua orang ini terlihat mirip, baik dari segi penampilan maupun ekspresi. Ia menggelengkan kepala, mencoba mengusir pikiran konyol itu, lalu membereskan barang-barangnya dan meninggalkan ruangan dengan perasaan dongkol.

Setelah Indira pergi, Lia melipat kedua tangannya di dada dan menatap Sinta dengan dagu terangkat.

“Kamu guru piano? Biar aku beri tahu, ya, aku paling benci piano. Meskipun tadi kamu sudah membantuku memberi pelajaran pada nenek sihir menyebalkan itu, jangan harap aku mau belajar piano.”

“Kalau begitu, tidak usah belajar,” balas Sinta, ikut melipat tangannya di dada. “Nanti selama jam les piano, kamu boleh melakukan apa saja yang kamu mau. Aku tidak akan melarangmu.”

Wajah Lia langsung berbinar. “Benarkah?”

“Benar,” Sinta mengangguk.

“Kenapa?”

“Kamu belum pernah bekerja, jadi kamu tidak akan mengerti. Bagi orang dewasa yang harus bekerja, tidak ada yang lebih menyenangkan daripada dibayar tanpa harus melakukan apa-apa.”

Mata Lia membelalak. “Kamu tidak takut aku adukan ke Papa?”

“Tidak takut. Kalau kamu mengadu ke Papamu, kamu harus ganti guru piano lagi. Guru-guru lain tidak akan sebaik aku. Mereka pasti akan memaksamu belajar piano. Kamu tidak sebodoh itu, kan?”

“Tentu saja tidak,” sahut Lia sambil mengerucutkan bibirnya.

Meskipun tidak harus belajar piano adalah hal yang menyenangkan, ia merasa ada sesuatu yang janggal.

“Baguslah. Sana, kamu main saja. Aku mau main HP sebentar.”

Setelah berkata begitu, Sinta mengeluarkan ponsel dari tasnya dan mulai bermain game. Ia tampak begitu asyik, seolah lupa sepenuhnya untuk apa ia datang ke sana.

Melihat Sinta seperti itu, Lia pun mengeluarkan mainannya dan mulai bermain. Setelah beberapa saat, ia melirik jam dan terkejut melihat waktu sudah menunjukkan hampir pukul sembilan.

“Sudah, jangan main lagi! Papaku sebentar lagi pulang. Cepat ajari aku sedikit, nanti aku tidak bisa laporan.”

“Oke,” Sinta menyimpan ponselnya. “Tapi aku belum tahu kemampuanmu sampai mana. Begini saja, coba kamu mainkan satu lagu untukku.”

“Baiklah kalau begitu.” Lia mulai bermain piano dengan enggan.

Saat Adi Wijaya masuk, ia melihat pemandangan itu. Lia, yang biasanya paling anti belajar piano, kini bisa duduk tenang dan memainkan alat musik itu. Ini adalah sesuatu yang tidak pernah ia duga.

Begitu lagu selesai, Lia menoleh dan melihat Adi di ambang pintu. Ia langsung melompat dari kursinya dan berlari memeluk ayahnya.

“Papa, sudah pulang!”

“Sudah, Sayang. Kenapa hari ini jadi anak baik begini?”

“Hehe, kan Papa bilang aku harus rajin belajar. Papa capek tidak hari ini di kantor?”

Pemandangan ayah dan anak yang saling berpelukan itu begitu hangat. Namun, Sinta tidak punya waktu untuk menikmatinya. Pria itu… pria itu adalah pria yang menghabiskan malam penuh gairah bersamanya semalam

Bab Sebelumnya
Bab Selanjutnya